FILM INDONESIA

Marlina siap ramaikan Toronto International Film Festival

Sebuah adegan dalam Marlina the Murderer in Four Acts.
Sebuah adegan dalam Marlina the Murderer in Four Acts. | Cinesurya

Setelah diputar perdana pada Festival Film Cannes 2017 bulan Mei lalu, film Marlina The Murderer in Four Acts melenggang masuk Toronto International Film Festival (TIFF). Festival tahunan itu akan digelar pada 7-17 September 2017 di kota Toronto, Kanada.

TIFF menambah daftar panjang festival internasional yang disinggahi Marlina. Bulan ini, film tersebut diputar di Melbourne International Film Festival dan New Zealand Film Festival.

Sebagai film yang ditargetkan untuk tayang di festival, Marlina jelas bukan karya mainstream. Dari sinopsisnya saja mungkin Anda akan menganggap film yang ide awalnya berasal dari Garin Nugroho ini cukup absurd.

Set lokasinya di daratan kering Pulau Sumba, Indonesia Timur. Marlina (diperankan Marsha Timothy) baru saja kehilangan suaminya, ketika kawanan perampok dipimpin oleh Markus (Egi Fedly) menyerbu rumahnya. Mereka mengancam akan memerkosa Marlina, dengan alasan ia belum bayar biaya pemakaman.

Keesokan harinya, Marlina berpamitan dengan mendiang suaminya yang sudah jadi mumi di pojok ruangan. Ia keluar rumah, untuk mengarungi sebuah perjalanan dalam mencari keadilan sambil menenteng kepala Markus. Kawanan perampok mengejarnya, juga sesosok tubuh tanpa kepala.

Kisah yang aneh, tapi sebenarnya temanya sederhana: pencarian keadilan. Itulah yang membuat sutradara Mouly Surya yakin film ini mampu menarik penonton di luar negeri.

"Cerita Marlina sangat universal. Karena semua yang kita lakukan sekarang kan memang berjuang untuk bertahan hidup atau demi mendapat kehidupan yang lebih baik lagi, sama seperti Marlina," ujar wanita berusia 36 tahun ini dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id (18/8/2017).

Jika Cannes memasang Marlina sebagai bagian kategori Director's Fortnight, dalam TIFF nanti film yang diproduksi Cinesurya dan Kaninga Pictures ini akan diputar pada program Contemporary World Cinema bersama 40 film lain.

Film garapan ketiga dari Mouly Surya ini bukan satu-satunya wakil Indonesia, masih ada The Seen and Unseen yang juga disutradarai seorang perempuan yakni Kamila Andini.

"Setiap film yang masuk dalam program Contemporary World Cinema menawarkan cerita baru dari belahan dunia lain melalui perspektif sutradara yang berasal dari budaya tersebut. 40 film ini mengajak kita untuk memperluas dan memperdalam pandangan kita terhadap dunia," ujar Cameron Bailey, Direktur Artistik TIFF.

Meski sudah tayang di berbagai festival mancanegara, Marlina The Murderer in Four Acts justru belum tayang di Indonesia. Namun dalam waktu dekat penikmat film lokal akan bisa menikmati drama berdurasi 93 menit ini.

"Setelah rangkaian International Film Festival, Marlina akan diputar perdana di Indonesia di akhir tahun ini. Kami sudah tak sabar," ungkap produser Rama Adi. Jika aral tak melintang, Marlina dijadwalkan akan tayang Oktober mendatang.

Sejauh ini, tanggapan kritikus luar negeri terhadap Marlina cukup bagus. Dari tujuh ulasan yang masuk ke Rotten Tomatoes, hanya satu yang memberi poin negatif. Total Tomatometer-nya mencapai 86 persen.

Maggie Lee dari Variety mencatat, Mouly Surya membawa genre baru melalui Marlina, yang disebutnya "Satay Western".

Dengan set lokasi di Sumba yang kering, tandus, serta adegan berkuda dan kekerasan, Marlina seakan memang mirip film koboi, namun punya citarasa Indonesia (satay/sate), seperti halnya film koboi Italia yang disebut "Spaghetti Western".

Namun tak seperti film koboi, Marlina membawa pesan feminisme yang sangat kuat. "Marlina adalah film fantasi soal pembalasan dendam yang berakar dari kondisi diskriminasi gender di Indonesia, budaya kedaerahan yang kompleks, serta lanskapnya yang luar biasa cantik," tulis Lee.

Marlina the Murderer in Four Acts - Official Trailer /cinesurya
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR