FILM INDONESIA

MD Pictures hadirkan Whispering Corridors versi Indonesia

Angga Yunanda memerankan tokoh Alex dalam film Sunyi
Angga Yunanda memerankan tokoh Alex dalam film Sunyi | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

MD Pictures kembali menggarap proyek film hasil kolaborasi dengan negara lain. Kali ini lewat film Sunyi, hasil buat ulang alias remake film horor Korea Selatan (Korsel) bertajuk Whispering Corridors.

Sebelumnya MD sudah menggandeng Rapid Eye Production, rumah produksi asal Texas, Amerika Serikat, memproduksi film Foxtrot Six yang akan tayang 21 Februari 2019. Mario Kassar yang berada di belakang film seperti Rambo, Terminator, Total Recall, dan Basic Instinc juga terlibat sebagai produser.

Dalam pembuatan ulang Whispering Corridors, MD melalui anak perusahaannya, Pichouse Films, berkolaborasi dengan beberapa perusahaan asal Korsel dan Cina, yaitu Mixx Entertainment, Invictus House, CJ Entertainment, dan Xing Xing Digital Studio.

Di negara asalnya, film arahan Park Ki-hyung itu rilis pada 1998. Kehadirannya merupakan bagian dari kebangkitan industri perfilman Korsel yang sebelumnya sangat dikontrol pemerintah. Ini mirip apa yang dilakukan Kuldesak pada rentang waktu bersamaan di Indonesia.

Saat kontrol dan sensor terhadap film mengendur, Ki-hyung melalui Whispering Corridors langsung melayangkan kritiknya terhadap sistem pendidikan di Korsel yang keras, penuh tekanan, dan otoriter.

Kisahnya tentang pembunuhan-pembunuhan misterius di Jookran, sekolah menengah khusus perempuan. Sekolah tersebut sangat ketat dan disiplin dalam mendidik para siswinya.

Melalui tangan sutradara Awi Suryadi yang sebelumnya menangani semesta film Danur, sejumlah perubahan dilakukan dalam film Sunyi.

“Saya enggak mau terlalu rewel, yang jelas kami dapat kebebasan untuk mengeksplorasi cerita. Sebagai contoh, kalau di sana pemeran utamanya perempuan, di sini kami ganti jadi laki-laki,” ungkap produser Manoj Punjabi di MD Place, Jakarta Selatan (12/2/2019).

Perubahan tersebut dilakukan untuk mendekatkan cerita dengan kultur dan minat penonton film Indonesia. Satu hal yang dijanjikan Manoj, embrio cerita Sunyi tetap setia dengan versi asli.

Sunyi menggambarkan sistem senioritas di sekolah yang sering menyebabkan bullying atau perundungan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya,” ujar Awi dalam siaran pers.

Film Whispering Corridors termasuk laris di Korsel. Bahkan Cine 2000 selaku rumah produksi kemudian merilis empat film lanjutan film ini, masing-masing berjudul Memento Mori (1999), Wishing Stairs (2003), Voice (2005), dan A Blood Pledge (2009).

Pun demikian, setiap bagian film tadi menampilkan plot, karakter tokoh, dan lokasi yang berbeda. Kesamaannya terletak pada latar belakang film yang selalu menggunakan sekolah khusus perempuan.

Diakui Manoj, status sebagai film laris hanya satu dari sekian banyak alasan mengapa pihaknya tertarik membuat ulang Whispering Corridors.

“Sekarang mencari ide cerita orisinal yang menarik untuk difilmkan makin susah. Bagi saya, ide cerita original enggak cukup. Harus bisa menarik minat penonton kebanyakan yang semakin pintar,” lanjut Manoj.

Lagi pula, sambung Manoj, proyek adaptasi juga bisa menjadi sesuatu yang orisinal dan segar. Pasalnya, sekalipun ada sebuah film hasil ekranisasi atau buat ulang, tetap saja harus melalui berbagai perubahan atau penyesuaian.

Sebelum MD menggarap ulang Whispering Corridors menjadi Sunyi, sudah ada rumah produksi lain yang melakukan hal serupa di Indonesia.

Contohnya Multivision dengan I Fine… Thank You, Love You (2014) yang merupakan remake film Love You... Love You Not... (2015) asal Thailand.

Lalu ada Sweet 20 (2017) produksi Starvision. Ini adalah versi Indonesia dari film asal Korsel yang aslinya bertajuk Miss Granny (2014).

Film Sunyi yang direncanakan tayang mulai 11 April 2019 dibintangi Angga Yunanda, Amanda Rawless, Naomi Paulinda, Arya Vasco, Teuku Ryzki, dan Verdi Solaiman.

Sunyi - Official Trailer /MD Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR