FILM INDONESIA

Membungkus kisah sehari di Bali dalam Move On Aja

Irwan (diperankan Marthino Lio) dan Nadia (Asmara Abigail), dua tokoh utama dalam film Move On Aja
Irwan (diperankan Marthino Lio) dan Nadia (Asmara Abigail), dua tokoh utama dalam film Move On Aja | Northcliff Pictures

Telah ada banyak film yang menjadikan Bali sebagai lokasi syuting, bahkan sentral cerita. Terbaru adalah Move On Aja persembahan Northcliff Pictures.

Film arahan Hestu Saputra ini bergenre drama komedi. Kisahnya hanya berlangsung sehari semalam mengikuti perjalanan dua tokoh dengan karakter yang sama-sama dilanda kegalauan. Mereka adalah Irwan (diperankan Marthino Lio) dan Nadia (Asmara Abigail).

Irwan adalah seorang arsitek yang harus banting setir menjadi pengemudi ojek daring. Statusnya jomlo setelah diputuskan oleh Jessica (Lala Karmela). Tak mudah baginya untuk move on melupakan Jessica.

Sementara Nadia, perempuan asal Jakarta yang boyongan ke Bali mengikuti pacarnya (Edward Akbar), digambarkan sebagai perempuan modern namun sedang labil merenungi nasibnya.

Di tengah mereka, hadir sosok Dani (Uus alias Rizky Firdaus Wijaksana), sahabat yang mengontrak rumah yang sama dengan Irwan.

Tidak tega membiarkan Irwan sendirian dan kesepian melewati momen pergantian tahun yang akan berlangsung kurang dari beberapa jam lagi, Dani berinisiatif mencarikan sahabatnya itu teman kencan melalui aplikasi. Ketemulah sosok Nadia.

Dalam jumpa pers usai press screening di CGV Cinema, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/8/2019), produser Anirudhya Mitra dari Northcliff Pictures menyebut ide memfilmkan kisah ini sudah berproses sejak dua tahun silam.

“Ini cerita yang sangat sederhana dan jujur. Hestu menghidupkannya dengan baik. Para pemain juga bekerja keras tampil apa adanya. Tidak ada yang berusaha terlihat ingin lebih menonjol dibandingkan yang lainnya,” tambah Anirudhya yang sebelumnya juga turut memproduseri Habibie & Ainun, The Gift, dan Di Bawah Lindungan Ka'bah.

Kepada Beritagar.id yang menemuinya usai jumpa pers, Hestu (34) menyebut kesederhanaan yang dimiliki cerita ini berhasil memikat dirinya.

Pun demikian, mengharuskannya melakukan pendekatan berbeda dibanding apa yang sudah ia lakukan dalam beberapa film sebelumnya.

Alumni Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) bidang penyiaran televisi ini sebelumnya menyutradarai film Hujan Bulan Juni (2017), Air Mata Surga (2015), dan Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014).

“Konflik yang ada dalam film ini sangat familiar terjadi. Terutama di kawasan urban. Itu juga alasan mengapa saya membuatnya sederhana, tidak berusaha menampilkan wajah Bali yang grande saat malam pergantian tahun,” ungkap Hestu.

Sepanjang durasinya, film yang tayang di bioskop mulai 22 Agustus 2019 ini memang tampil minimalis. Beberapa adegan bahkan direkam secara hand held alias tanpa menggunakan tripod.

Dituturkan Hestu, hal tersebut merupakan kesengajaan sebab ia ingin menunjukkan realitas cerita dan akting para pemainnya.

Hestu ingin penonton mengikuti kisah perjalanan sepasang insan dalam sehari semalam di Bali ini laiknya menyaksikan dokumenter yang nonfiksi.

Ini pertama kalinya ia menggunakan pendekatan seperti ini dalam film fiksi.

Hestu bersama para kru dan pemainnya total jenderal menghabiskan 14 hari melakukan syuting di Bali. Daerah yang mereka pilih adalah Jimbaran, Kuta, dan Seminyak.

Tiga daerah tersebut dirasakan paling dekat untuk merepresentasikan cerita dalam film ini.

Pasalnya ada banyak penanda urban, budaya, dan wisata di daerah tersebut sehingga kru tak banyak melakukan penambahan ornamen.

Alhasil Bali tampil dengan citra visual apa adanya.

Official Trailer #MOVEONAJA | 22 Agustus 2019 di Bioskop /Northcliff Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR