FILM HOLLYWOOD

Menakar peluang Roma memenangi Oscar

Sebuah adegan dari film Roma.
Sebuah adegan dari film Roma. | Netflix

Film Roma telah tayang di berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui layanan pengaliran video manasuka Netflix sejak Jumat (14/12/2018). Karya sutradara Alfonso Cuaron itu bukan film biasa.

Film berformat hitam putih ini memenangi Golden Lion, penghargaan tertinggi dalam acara Festival Film Venesia. Acara tahunan yang berlangsung di kota Venesia, Italia, itu juga jadi debut perdana Roma.

Bersama A Star is Born, First Man, dan The Favourite; Roma juga menjadi salah satu unggulan yang diprediksi akan meramaikan persaingan pada Academy Awards alias Piala Oscar 2019 yang akan berlangsung pada 25 Februari.

Namun, setidaknya ada dua faktor yang mungkin akan mengganjal peluang Roma untuk menjadi Film Terbaik.

Netflix "tak laku" di ajang Oscar

Belakangan ini, beberapa film orisinal Netflix mendapat pujian karena kualitasnya yang mumpuni. Contohnya tak jauh-jauh, Indonesia punya The Night Comes For Us, film aksi yang mendapat rating 88 persen di Rotten Tomatoes.

Sineas kelas dunia seperti Angelina Jolie dan Martin Scorsese pun mempercayakan karya mereka untuk ditayangkan secara eksklusif melalui layanan Netflix.

Namun, para juri Academy seperti tak kenal pada Netflix. Sejauh ini, hanya satu film orisinal Netflix yang memenangi Oscar untuk kategori film panjang yaitu Icarus (2017). Itupun "hanya" kategori dokumenter.

Salah satu alasannya karena Roma tak ditayangkan secara luas di jaringan bioskop besar. Film ini sangat idealis --format hitam putih dengan bahasa utama Spanyol-- sehingga tak ada distributor besar yang meminangnya untuk diedarkan di bioskop.

“Tak ada sineas yang mengatakan, ‘Saya ingin membuat film untuk ditonton di iPad.’ Mereka ingin orang-orang menontonnya di bioskop,” ujar Karie Bible, analis box office di Exhibitor Relations, kepada LA Times (3/12/2018).

“Agar pihak Academy menganggap sebuah film sebagai sesuatu yang serius, film tersebut harus dirilis di bioskop,” lanjut Bible.

Roma memenuhi syarat Oscar yang mewajibkan sebuah film harus tayang di bioskop setidaknya bersamaan dengan penayangan perdana di medium lain. Film berdurasi 135 menit ini tayang terbatas di bioskop-bioskop AS pada akhir November.

Namun, Hollywood Reporter melaporkan bahwa juri-juri Academy terbelah dua atas cara Netflix merilis Roma. Ada yang menganggapnya sebagai cara modern yang menarik, ada juga yang bersifat konservatif dengan menyebutnya penipuan besar.

Penyebabnya adalah model bisnis Netflix yang serba tertutup. Dengan mendistribusikan film orisinalnya melalui jaringan pengaliran video milik sendiri, alih-alih membagi laba dan pendapatan dengan pihak bioskop, Netflix tidak perlu mempublikasikan pendapatan film-film mereka.

Ini beda dengan, sebut saja First Man produksi Universal yang terungkap hanya meraup $44,8 juta dari peredarannya di AS.

Meskipun Oscar merupakan sebuah penghargaan untuk film-film berkualitas, tetap saja film-film pesertanya adalah karya yang sifatnya masih arus utama, sehingga hasil box office juga jadi salah satu alat penakar bagi juri Academy.

Dipinangnya Roma oleh Netflix juga jadi sesuatu yang ironis, karena sebagian besar penonton Roma hanya menontonnya di televisi atau gawai mereka. Padahal, Roma direkam dengan Alexa 65, salah satu kamera digital sinema terbaik saat ini yang juga digunakan film-film bioskop papan atas seperti Avengers: Infinity War.

“Bioskop ideal (untuk menayangkan Roma) adalah yang punya proyeksi HDR dan tata suara Dolby Atmos, karena itulah pengalaman paling hebat untuk menonton film. ujar Cuaron kepada LA Times (6/9/2018). “Di sisi lain, jika orang ingin menontonnya di tempat lain, saya bisa apa?”

Bahasa Spanyol

Roma punya latar Meksiko tahun 1970-an. Adalah sebuah kewajaran jika Cuaron menggunakan bahasa Spanyol dan bahasa Mixtec (dengan teks Spanyol) sebagai bahasa utama dalam film ini. Kredit yang menggulung di layar pada awal dan akhir film pun menggunakan bahasa ibu sineas kelahiran Meksiko itu.

Inilah kekuatan utama Roma. Cuaron ingin Roma “seasli” mungkin, karena film ini bersifat sangat pribadi bagi dirinya. Sutradara Gravity (2013) ini mempersembahkan Roma untuk Liboria Rodriguez, perempuan berdarah Mixtec yang merupakan asisten rumah tangga orangtua Cuaron dan turut berjasa membesarkan dirinya.

Namun, bahasa bisa mengganjal Roma. Contohnya merujuk pada Golden Globe, yang kerap dianggap sebagai pemanasan untuk ajang Oscar. Cuaron dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik dan Penulis Naskah Terbaik, tapi Roma hanya masuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Sejak pertama digelar, tak pernah ada film berbahasa non-Inggris yang memenangi kategori Film Terbaik.

Ini sah-sah saja, sebab bagaimanapun juga Academy Awards adalah ajang yang digelar oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences, organisasi yang didirikan dan bermarkas di Amerika Serikat.

Sebenarnya, sudah ada beberapa film yang sekadar jadi nomine Film Terbaik. Contohnya Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) yang dinominasikan dalam 10 kategori dan memecahkan rekor sebagai film berbahasa non-Inggris dengan jumlah nomine terbanyak.

Pada akhirnya, film berbahasa Mandarin itu gagal memenangi Film Terbaik, meski tetap berjaya pada kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

ROMA | Official Trailer [HD] | Netflix /Netflix
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR