Mencari tahu perjuangan Yabes Roni ke timnas U19

Yabes Roni Malaifani (kanan)
Yabes Roni Malaifani (kanan) | Regina Safri/Ant

Yabes Roni Malaifani (19) merupakan pemain pertama dari Alor, NTT, di timnas Indonesia. Perjuangannya masuk ke timnas U19 pun tidak mudah, antara lain karena minimnya akses finansial, transportasi, dan informasi menuju Kupang, NTT, untuk proses seleksi.

Perjuangan itu mengilhami tim produksi film Garuda 19 besutan sutradara Andibachtiar Yusuf untuk mengangkatnya sebagai satu dari tiga tokoh utama cerita. Film ini menurut rencana akan dirilis Rumah Produksi Mizan pada 9 Oktober mendatang.

Untuk mencari tahu, tim periset Garuda 19 terdiri dari wartawan olahraga Eko Priyono, Agus Suhardi, dan penulis skenario Swastika Nohara berangkat dengan menumpang Kapal Motor Awu dari Ende, Flores, menuju Kalabahi, kota kecil di Pulau Alor, pada awal 2014.

Kalabahi merupakan kampung halaman Yabes. Di sana tim periset bertemu dengan Arifin Panara, pelatih lokal Yabes, yang menceritakan dengan rinci aktivitas sepak bola anak asuhnya di lapangan sepak bola sederhana tepi pantai. Lapangan ini berjarak sekitar 15 km dari kediaman Yabes di perbukitan Desa Moru. Bila latihan selesai menjelang senja, maka Yabes akan ketinggalan angkutan kota terakhir sehingga terpaksa jalan kaki atau berlari menanjak ke desanya.

Arifin, seorang PNS, yang memperjuangkan Yabes dan tiga anak asuh lainnya mengikuti seleksi timnas U19 di Kupang. Pada kesempatan pertama, keempat pemain ini gagal berangkat karena pelayaran ditutup akibat badai. Akhirnya dengan uang pinjaman saudagar lokal, Arifin membelikan tiket pesawat ke Kupang untuk mereka. Itu pun dengan membujuk agar pelatih timnas U19 Indra Sjafri mau memperpanjang masa seleksi bagi anak Alor. Kebetulan Indra setuju meski tiket pesawat pulang ke Jawa sudah dipesan.

Mengapa Arifin, mantan lurah di Kalabahi, begitu semangat melatih anak-anak belasan tahun tanpa honor selama puluhan tahun? Semua demi sepak bola Alor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR