Mendukung Siti masuk bioskop

Ifa Isfansyah (kiri) dan Eddie Cahyono menerima trofi Film Terbaik di panggung FFI 2015
Ifa Isfansyah (kiri) dan Eddie Cahyono menerima trofi Film Terbaik di panggung FFI 2015 | Rosa Panggabean/Antara Foto

Ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) edisi ke-37 yang berlangsung di Convention Exhibition (ICE) Serpong, Banten, Senin (23/11) malam, meninggalkan banyak kisah dan catatan. Salah satunya perihal kemenangan Siti sebagai film terbaik. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah FFI, pemenang film terbaik tidak tayang di jaringan bioskop nasional.

Film produksi Fourcolour Films tersebut diunggulkan dalam lima kategori, yaitu "Sinematografi Terbaik", "Sutradara Terbaik", "Penulis Skenario Asli Terbaik", "Penata Musik Terbaik", dan "Film Terbaik". Trofi untuk tiga kategori yang disebut terakhir berhasil dibawa pulang.

Karena sejak perilisan perdananya pada penghujung tahun 2014 belum pernah tayang di jaringan bioskop nasional yang terdiri dari Cinema 21, CGV Blitz, dan Cinemaxx Theater, beberapa netizen di Twitter mengaku penasaran ingin menyaksikan film arahan Eddie Cahyono itu. Beberapa bahkan kompak berkicau menggunakan kata kunci tagar #SitiMasukBioskop.

Selama ini, seperti diungkapkan Ifa Isfansyah selaku produser Siti dalam pidato kemenangannya, film yang mereka buat dengan dana Rp150 juta itu hanya tayang terbatas dalam komunitas-komunitas film di daerah.

"Mereka yang berjasa memperpanjang napas film ini dan mempertemukannya dengan penonton," kata Ifa.

Menyusul kemenangan mengejutkannya setelah menyisihkan film Guru Bangsa: Tjokroaminoto (arahan Garin Nugroho), A Copy of My Mind (Joko Anwar), Mencari Hilal (Ismail Basbeth), dan Toba Dreams (Benni Setiawan), Ifa yang juga seorang sutradara itu berharap agar Siti bisa menjumpai lebih banyak penonton. Salah satunya dengan tayang di bioskop besar.

Saat ini dirinya terus mengupayakan agar Siti bisa menembus jaringan bioskop tanah air. Hal yang tidak sempat dipikirkannya saat awal memproduksi film ini. Karena dengan dana produksi terbatas, syarat sebuah film untuk diputar di bioskop secara komersil harus punya sekian puluh salinan tidak bisa mereka penuhi.

Ketika menghadiri acara nonton bareng film ini di Gedung XXI Plaza Indonesia (19/11), Ifa mengaku sedang mengurusi sensor film Siti di Lembaga Sensor Film agar bisa tayang reguler di bioskop komersial mulai 2016.

Sebelum kemenangan besarnya di FFI, film ini juga berhasil meraih gelar sebagai Film Panjang Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015. Dua momentum kemenangan tersebut diibaratkan Ifa sebagai sambutan ramah untuk Siti ketika menginjakkan kaki di rumah sendiri sepulangnya berpetualang.

Maklum, film ini terlebih dahulu berkeliling di berbagai festival film mancanegara. Di antaranya hadir dalam International Film Festival Rotterdam, Taipei International Film Festival, Hamburg International Film Festival, Vancouver International Film Festival, Vienna International Film Festival, hingga Hongkong Asian Film Festival.

Film ini juga panen penghargaan. Mulai dari Gelar Sinematografi Terbaik dan Naskah Film Terbaik untuk kategori Asian New Talent Award di Shanghai International Film Festival 2015, Best Performer untuk aktris Sekar Sari di Singapore International Film Festival 2014, Special Mention Awards di Five Flavours Film Festival 2015, serta Honourable Feature Mention di Toronto Reel Asian International Film Festival 2015.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR