Mengadu Rihanna dan Taylor Swift

Rihanna (kiri) merasa tak cocok sepanggung dengan Taylor Swift
Rihanna (kiri) merasa tak cocok sepanggung dengan Taylor Swift | Rihanna (Nina Prommer/EPA) & Taylor Swift (Paul Buck/EPA)

Apa jadinya jika Rihanna dan Taylor Swift berkolaborasi? Harusnya sih seru dan mengundang penasaran. Maklum, keduanya sama populer dan datang dari kutub yang berbeda. Rihanna dengan warna suara kental cengkok R&B, sementara Swift cenderung ke country pop. Keduanya juga belum pernah berkolaborasi.

Hanya saja angan-angan untuk menyaksikan kolaborasi keduanya, dalam bentuk lagu ataupun tampil satu panggung, masih tersangkut di awang-awang.

Dalam majalah NME (18/9/2015), Rihanna (27) yang jadi model sampul dan topik utama edisi tersebut, mengaku tidak bersedia jika seandainya diajak sebagai salah satu bintang tamu dalam konser Swifty, julukan Swift.

Bukan karena merasa iri pada Swift (25) yang dalam 1989 Tour-nya di AS selalu mengajak penyanyi lain sebagai bintang tamu.

"Saya pikir cap kami berdua berbeda sehingga tidak akan cocok jika disatukan. Tipikal penonton kami juga tidak sama. Terlebih lagi dia seorang panutan, sementara saya bukan," ujar Riri, sapaan Rihanna.

Pantaskah Riri merasa inferior dibanding Swift sehingga tak cukup pantas untuk diajak diajak sepanggung? Mari menengok enam aspek dalam kehidupan masing-masing penyanyi ternama ini.

Musik

Sejak merilis album perdana Music of the Sun (2005), Rihanna yang ngetop lewat lagu Umbrella telah menghasilkan tujuh album termasuk yang terakhir Unapologetic (2012).

Menurut Roc Nation, 50 juta salinan album dan 190 juta lagu versi digital Rihanna telah terjual di seluruh dunia.

Recording Industry Association of America (2/7) mendapuknya sebagai penyanyi paling sukses di ranah digital.

Penjualan total lima album Swifty dilansir International Federation of the Phonographic Industry (23/2) telah mencapai 40 juta salinan. Sementara versi digital lagu-lagunya laris diunduh 130 juta kali.

Film

Rihanna (kiri) saat pemutaran perdana film Battleship di Tokyo, Jepang (3/4/2012)
Rihanna (kiri) saat pemutaran perdana film Battleship di Tokyo, Jepang (3/4/2012) | Kennedy Brown/EPA

Keduanya juga menjajal dunia akting lewat beberapa film meski karakter yang mereka perankan bukanlah sosok utama.

Rihanna lebih awal hadir lewat film Bring It On: All or Nothing (2006). Swift menyusul tiga tahun kemudian lewat Jonas Brothers: The 3D Concert Experience. Total lima film telah mereka bintangi.

Masing-masing juga pernah satu kali terlibat sebagai pengisi suara untuk film animasi. Rihanna sebagai Gratuity "Tip" Tucci dalam film Home (2015). Sementara Swift kebagian mengisi suara tokoh Audrey di film The Lorax (2012).

Tata busana

Dalam hal pilihan busana, dua penyanyi beda genre ini juga punya cirinya sendiri. Kesamaan mereka sebagai tokoh idola banyak orang adalah selalu tampil gaya dalam setiap kesempatan di depan umum.

Majalah Elle menulis bahwa pilihan mengenakan baju yang memperlihatkan bagian perut 'crop top' dan high-waisted 'celana dengan model berpotongan tinggi di atas pinggang' adalah pilihan Swift. Tetap terlihat feminin sekaligus elegan.

Rihanna cenderung lebih berani. Terkadang ia mengenakan kemeja yang kebesaran hingga terlihat lebih mirip piyama.

Pada kesempatan lain dia tiba-tiba muncul dengan jubah kuning panjang dan besar sehingga butuh tiga orang untuk membantunya melangkah. Intinya jadi pusat perhatian.

Kanal media sosial

Ilustrasi kanal media sosial
Ilustrasi kanal media sosial | Pixabay

Jumlah pengikut atau penyuka akun Rihanna dan Taylor Swift di Twitter, Facebook, dan Instagram mencapai ratusan juta.

Akun Twitter resmi Rihanna diikuti 51 juta akun; pengikut di Instagram mencapai 25,9 juta akun; dan penyuka halaman Facebook-nya telah menyentuh angka 81,5 juta akun.

Swift sedikit lebih unggul di kanal media sosial karena pengikut akun Twitter resminya tercatat 63,6 juta; Instagram 46,9 juta; dan Facebook Page-nya disukai 72,5 juta.

Harta

Uang melimpah datang berkat pendapatan dari penjualan album, konser dan tur, unit bisnis lain, serta kontrak dari beragam jenama yang memanfaatkan figur mereka sebagai model.

Dalam daftar "Top 25 Richest Female Singers of 2015" (26/4), Rihanna menempati urutan ke-23 dengan kekayaan ditaksir mencapai USD120 juta. Swift dengan perkiraan kekayaan USD200 juta ada di posisi 15.

Indonesia

Axis Rihanna 2008 Concert /Nicholas Budi

Tingginya angka penjualan album maupun lagu tunggal 'single' kedua biduanita ini di seluruh dunia adalah magnet bagi promotor asal Indonesia. Meski tidak mudah, usaha untuk memboyong mereka agar bersedia menggelar konser di Indonesia, terutama di Jakarta, terus dilakukan.

Memboyong Rihanna adalah yang tersulit. Tercatat telah tiga kali promotor Showmaster Live berusaha mengundangnya. Pertama dijadwalkan medio April 2008. Karena beragam alasan, konser tersebut diundur menjadi 14 November pada tahun yang sama.

Saat mendekati pelaksanaan konser, mendadak pemerintah AS mengeluarkan travel warning ke Indonesia. Kembali promotor dan para penggemar harus gigit jari.

Alhasil, "Rihanna Live in Concert" dijadwalkan ulang pada 12 Februari 2009. Ujung kisahnya sama dengan dua rencana sebelumnya, dibatalkan. Showmaster Live bahkan sempat dikabarkan ingin menuntut manajemen Rihanna karena merasa dipermainkan. Hingga sekarang belum sekalipun Rihanna manggung di tanah air.

Kondisi berbeda terjadi pada Taylor Swift. Tiket konser perdana pelantun Bad Blood itu di Mata Elang International Stadium, Ancol (4/6/2014), dalam rangkaian "RED Tour" di Asia Tenggara langsung ludes terjual. Membuka penampilannya dengan lagu State of Grace, total 13 lagu dibawakan oleh Swifty.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR