PIALA OSCAR

Mengapa Black Panther jadi nomine Oscar 2019

Sebuah adegan dalam film Black Panther menampilkan tokoh titular sebagai pahlawan super bertopeng
Sebuah adegan dalam film Black Panther menampilkan tokoh titular sebagai pahlawan super bertopeng | Marvel, Disney

Black Panther mencatat sejarah. Film yang menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU) ini menjadi film bergenre superhero pertama yang dinominasikan sebagai Film Terbaik dalam ajang Academy Awards alias Piala Oscar.

Pemerhati film terkejut. Biasanya, nomine Film Terbaik selalu dari kategori drama. Genre superhero selama ini dianggap kelas dua dari segi kualitas, kerap dianggap sebagai film kacangan untuk hiburan semata. Istilahnya, popcorn movie.

Sebenarnya, kehadiran Black Panther dalam daftar nomine Film Terbaik Oscar bukan sesuatu yang mengherankan. Jika diperhatikan, salah satu faktor yang disukai juri Oscar adalah relevansi sebuah film dengan isu politik dan sosial di Amerika Serikat saat film tersebut tayang.

Contohnya pada penyelenggaraan Academy Awards tahun 1977, Rocky mengalahkan film kelas berat macam Taxi Driver dan Network.

Saat itu momentum Rocky sangat pas. Kisahnya tentang petinju semenjana Rocky Balboa (Sylvester Stallone) yang mendapat kesempatan melawan juara dunia Apollo Creed (Carl Weathers).

Kala itu, Amerika Serikat tengah krisis kepercayaan diri karena skandal Watergate dan Perang Vietnam. Kisah Rocky tentang seorang yang tak diperhitungkan dan mendapat kesempatan, tentu amat membekas di mata penontonnya.

Contoh terbaru terjadi pada 2017. Moonlight, sebuah film independen nan sederhana mengenai kehidupan seorang lelaki gay berkulit hitam menjadi Film Terbaik, mengalahkan La La Land yang hampir sempurna dari segi apapun.

Saat itu AS sedang didera isu hak asasi kaum LGBT dan minoritas, hal yang ditangkap dengan sempurna oleh Moonlight.

Dalam hal relevansi, Black Panther bisa dibilang memenuhinya. Aktor kulit hitam mendominasi film garapan Ryan Coogler, sineas yang juga keturunan Afrika. Film ini penuh isu sosial tentang kaum minoritas, yang selama ini suaranya jarang didengar oleh pemegang kekuasaan.

Lagipula Academy of Motion Picture, Art, and Sciences (AMPAS), organisasi yang mengadakan Academy Awards, sudah lebih terbuka pada genre selain drama. Mulai terbukanya AMPAS pada genre lain terlihat ketika fiksi ilmiah Avatar (2009) memenangi Film Terbaik.

Pemenang tahun lalu adalah The Shape of Water. Film garapan Guillermo del Toro ini memang sebuah drama, tapi kental dengan nuansa fiksi ilmiah. Pada tahun yang sama, film horor nan satir seperti Get Out bisa menjadi nomine Film Terbaik. Zaman dulu, horor legendaris seperti The Shining (1980) sama sekali tak masuk hitungan juri.

Faktor lainnya, Black Panther memang film yang bagus secara kualitas. Nyaris semua kritikus menyukainya. Skornya di Rotten Tomatoes mencapai 97 persen, dengan nilai rata-rata 8,2 dari 10 poin.

Penonton juga menyukai kisah yang berlatar di negeri fiksi bernama Wakanda ini. Black Panther adalah film terlaris di AS sepanjang 2018 dengan pendapatan $700,06 juta AS (Rp9,9 triliun).

Meski begitu, peluang Black Panther sebetulnya berat untuk jadi yang terbaik dalam ajang Oscar nanti. Film ini akan bersaing melawan A Star is Born, BlacKkKlansman, Bohemian Rhapsody, Green Book, Roma, The Favourite, dan Vice.

BlacKkKlansman dan Green Book juga bercerita soal rasialisme. Roma dan The Favourite mengangkat isu feminisme. A Star is Born adalah formula klasik pemenang Oscar. Vice menelanjangi dunia politik AS. Bohemian Rhapsody sebelumnya telah memenangi Golden Globe.

Siapa pemenangnya baru terungkap dalam malam pengumuman Academy Awards ke-91 yang digelar di Los Angeles, AS, Minggu, 24 Februari, waktu setempat. Siapa tahu, Black Panther akan mengulang prestasi Rocky sebagai underdog yang bisa menang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR