ALBUM MUSIK

Mengenang perjalanan The Rollies lewat album Salute The Rollies

Foto lawas dari kelompok musik The Rollies
Foto lawas dari kelompok musik The Rollies | Hasil repro dari poster The Rollies yang dirilis Majalah Aktuil

Tahun ini, The Rollies sudah genap berusia 51 tahun. Berdiri di Bandung pada tahun 1967, kelompok band ini bisa dikatakan merupakan salah satu legenda musik Indonesia dengan berbagai inovasinya dalam bermusik.

"Posisi The Rollies cukup jelas, mereka band yang pertama kali merilis rekaman live, memiliki clothing line sendiri, band yang pertama kali drummer-nya nyanyi, band yang pertama pakai gamelan di musik popular, musiknya udah ke mana-mana di zaman itu," ungkap pengamat musik David Tarigan kepada Detik (19/3/2018).

Usia 50-an kerap disebut sebagai periode usia emas. Tahun lalu, mengutip Pikiran Rakyat, The Rollies merayakan usia setengah abad itu dengan menggelar konser di Hotel Horison, Bandung, Jawa Barat, pada 29 Juli.

Kini, untuk meneruskan peringatan usia emas tersebut, musisi jazz Barry Likumahuwa menggagas pembuatan album Salute The Rollies. Dalam album tersebut ada tujuh band dan satu vokalis masa kini yang menyanyikan delapan lagu lawas The Rollies.

Kebetulan Barry adalah anak dari Benny Likumahuwa, pemain alat musik trombon The Rollies.

"Proyek ini sudah ada dari 2017, berawal dari ulang tahun ke-50 The Rollies. Itu angka fantastis, gue kagum aja. Dari dulu gue besar sama om-om ini, dan pas sudah dewasa gue nonton mereka di Kemang, mereka manggung tiga jam dan masih kuat," ujar Barry.

Delapan lagu dalam album Salute The Rollies dibawakan oleh belasan musisi lintas generasi dan genre. Mereka adalah Bonita and The Hus Band (lagu "Pahlawan Revolusi"), Indra Azis & Adhitya Sofyan ("Sunshine Brotherhood"), Endah N Rhesa ("Setangkai Bunga"), RIMA ("Hari-Hari"), Laid This Nite ("Astuti"), TOR ("Bad News"), Glenn Fredly ("Kemarau"), dan Dialog Dini Hari ("Hai Burung Kecil").

Tentu ada alasan tersendiri di balik pemilihan mereka. "Mereka adalah musisi yang punya warna. Mereka punya warna dan sangat konsisten dengan warna mereka, mereka nggak pernah terganggu dengan apa yang ada di industri," ujar Barry kepada CNN (20/3).

Oleh karena faktor "warna musik" itu, Bonita dan kawan-kawan juga dibebaskan menggunakan gaya bermusik mereka.

"Saya sangat menghargai proyek ini. Lagu kami dibawakan orang lain tidak apa-apa, dibawakan dengan gaya mereka tidak apa-apa. Kalau dibawakan dengan gaya yang sama, namanya jiplak," ujar Benny Likumahuwa.

Selain itu, faktor lain adalah kemampuan para artis tersebut dalam membawakan musik secara langsung. Proyek Salute The Rollies direkam secara live di studio Ear Space, Tangerang, Banten, selama empat hari. Dalam proses produksi, Barry banyak dibantu oleh Rhesa Aditya dan Endah Widiastuti.

"Kami buat ini (Ear Space) jadi studio dadakan. Desember mulai (rekaman) pertama. Semua kami rekam langsung. Dukungan (alat) dari Melodia. Mendadak, ruangan satu kotak itu jadi studio. Gue senang semua yang terlibat di proyek ini berdasar dari hati. Berawal dari ngobrol," tutur Barry kepada Medcom.id.

Seperti halnya pemilihan musisi, lagu juga diseleksi secara ketat oleh Barry. Lelaki berusia 34 tahun itu menyatakan bahwa delapan lagu ini menggambarkan perjalanan karya The Rollies dari era saat mereka masih berjiwa idealis lewat genre jazz seperti "Sunshine Brotherhood" (1972) hingga masa kompromi band tersebut ke arah musik populer lewat "Kemarau" (1978) dan "Hai Burung Kecil" (1983).

Salute The Rollies rencananya akan dirilis dalam bentuk digital pada bulan April. Setelahnya, album kolektif ini bakal diluncurkan dalam bentuk fisik berupa CD dan piringan hitam.

Sepanjang perjalanan musikal mereka, The Rollies telah menghasilkan 18 album, baik studio maupun live (rekaman pertunjukan langsung).

Mengutip Supermusic.id, bersama band legendaris lainnya, seperti Koes Plus dan AKA, pada akhir 1960-an tersebut mereka termasuk generasi pertama yang memopulerkan musik rock di Tanah Air.

Karya musik mereka bisa dibilang berpengaruh pada band-band yang lahir kemudian di kancah musik Indonesia.

Tampil di Java Jazz 2018

Meski personelnya sudah berusia lanjut--Benny Likumahuwa sudah 71 tahun--, ternyata The Rollies masih sanggup beraksi dalam sebuah konser.

Ajang Java Jazz 2018 yang berlangsung di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Utara pada Minggu (4/3) menjadi pembuktian mereka.

Vokalis Gito Rollies yang telah wafat pada 2008 diganti oleh Alfred Ayal. Lima personel lama yaitu Tengku Zulian Iskandar (saksofon/vokal), Benny Likumahuwa (trombon), Didiet Maruto (terompet), Oetje F Tekol (bass), dan Jimmy Manopo (drum) masih beraksi, ditambah dengan Masri (gitar), Hendro (terompet), dan Nyong Anggoman (keyboard).

Saat itu, The Rollies membawakan 10 lagu, bahkan sempat mengabulkan permintaan penonton untuk menambah sebuah lagu lagi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR