BUKU

Menghadirkan 350 judul buku Indonesia di Frankfurt Book Fair 2019

Laura Bangun Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional, yang kembali akan mengikuti Frankfurt Book Fair 2019 di Jerman.
Laura Bangun Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional, yang kembali akan mengikuti Frankfurt Book Fair 2019 di Jerman. | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Komite Buku Nasional (KBN) akan memboyong 350 judul buku karya penulis Indonesia dalam acara pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair (FBF), yang berlangsung di Kota Frankfurt, Jerman, pada 16-20 Oktober 2019.

Jumlah tersebut lebih banyak ketimbang 300 judul buku yang dihadirkan saat KBN mengikuti FBF dua tahun silam. Pun demikian, masih belum menyamai 400 judul yang dihadirkan dalam penyelenggaraan FBF 2018.

Buku-buku tersebut terbagi dalam beberapa kategori, yaitu fiksi, nonfiksi, komik, buku anak, dan buku ilustrasi anak.

Dalam acara ramah tamah menjelang keberangkatan ke FBF yang berlangsung di Ramurasa Cooking Studio and Coffee, Kemang, Jakarta Selatan (8/10), Laura Bangun Prinsloo selaku Ketua KBN mengatakan bahwa pemilihan buku-buku yang disertakan berasal dari rekomendasi tim kurator independen.

“Tim kurasi ini terbagi berdasarkan genre buku. Tentu saja proses seleksi tersebut tak lepas dari arahan KBN yang selama lima tahun terakhir mengamati tren penjualan buku,” ungkap Laura.

Dilanjutkan Laura, sangat penting untuk mengetahui karakteristik setiap festival buku yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sebab itu bisa menggambarkan selera pembeli di sana.

Berangkat dari pengetahuan tersebut, mereka bisa lebih efektif memboyong buku-buku sesuai keinginan pasar.

“Contohnya waktu kami ikut pameran buku di Asia. Agen di sana lebih melirik buku-buku nonfiksi, semisal buku anak. Mereka tidak mempermasalahkan ilustrasinya menggunakan digital atau hand drawn,” kata Laura.

Beda cerita saat KBN mengikuti Bologna Children’s Book Fair yang berlangsung di Bologna, Italia. Penerbit di sana juga menyukai buku anak, tapi secara khusus lebih tertarik dengan yang menggunakan ilustrasi hand drawn ketimbang digital.

Selama mengikuti FBF, hadir pula 10 penerbit buku di Indonesia, yaitu Gramedia Publishing, Mizan Group, Kesaint Blanc, ASTA Ilmu Publishing, PT Kanisius, Lontar Foundation, Marjin Kiri, Pionicon, Yayasan Pustaka Obor, dan re:On Comics. Dua agen literasi yang terdiri dari Borobudur Agency dan Literasia juga hadir.

Laura menambahkan bahwa pihaknya juga akan memperkenalkan konten kreatif Indonesia lainnya dalam FBF. Tidak melulu yang berkaitan langsung dengan industri perbukuan.

Konten-konten nonbuku yang ditampilkan, antara lain sajian kuliner, kopi, musik, dan ilustrasi.

Kuliner diwakili Shanti Serad dan Astrid Enricka dari Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI). Mereka akan menyuguhkan berbagai makanan dan minuman khas Nusantara selama pameran. Salah satu menu spesial yang akan mereka sajikan nanti adalah teh kembang telang yang bercampur pala.

Selain ACMI, dihadirkan pula pakar kopi Indonesia Adi Taroepratjeka dan Ronald Prasanto, serta musikus Oppie Andaresta yang akan membawakan musikalisasi puisi Joko Pinurbo.

Turut berpartisipasi pula empat seniman ilustrasi yang terdiri dari Mayumi Haryoto, Evelyn Ghozali, Antonio Reinhard Wisesa, dan Mohammad “Emte” Taufiq. Mereka akan melukis mural dan augmented reality di stan Indonesia selama pameran.

“Harapan kami kehadiran berbagai konten kreatif lain karya anak-anak bangsa ini bisa diminati pasar luar dan membuka peluang untuk diaplikasikan ke berbagai medium,” pungkas Laura.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR