Menguak biaya promosi Warkop DKI Reborn

Nonton bareng para pemeran film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part.1 di Bekasi (10/9/2016) .
Nonton bareng para pemeran film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part.1 di Bekasi (10/9/2016) . | Risky Andrianto/Antara Foto

Rekor baru perfilman Indonesia dicetak Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part.1. Film produksi Falcon Pictures itu meraup satu juta penonton hanya dalam tempo tiga hari sejak tayang perdana pada Kamis (8/9/2016). Promosi berperan penting dalam kesuksesan tersebut. Saking pentingnya, biaya promosi bahkan melebihi biaya pembuatan filmnya.

Sekadar pengingat, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang juga didukung promo gila-gilaan bekerja sama dengan sembilan jenama, membutuhkan waktu lima hari untuk meraih jumlah penonton serupa.

Pencapaian berikut Jangkrik Boss! Part.1 adalah melampaui rekor AADC 2 yang mencetak dua juta penonton dalam delapan hari, menjadi hanya empat setengah hari. Catatan luar biasa tersebut seolah jadi penanda kebangkitan film Indonesia untuk berjaya di negerinya sendiri.

Jika selama ini film hasil karya sineas tanah air tergilas oleh film-film Hollywood (Amerika Serikat) yang merajai kuota layar di bioskop, kehadiran film komedi arahan Anggy Umbara membalikkan situasi tersebut.

Ekshibitor alias pemilik jaringan bioskop rela menggulung layar Secret Life of Pets hingga Nerve demi mengakomodir jumlah penonton Jangkrik Boss! Part.1 yang terus berjubel. Cinema 21 sebagai pemilik layar bioskop terbanyak bahkan mengalokasikan 660 dari total 826 layar yang mereka miliki. Itu terjadi pada pemutaran hari keempat alias Minggu (11/9).

Lonjakan tersebut seolah tidak terpengaruh dengan aktivitas merekam film yang dilakukan beberapa penonton, lantas menyiarkannya melalui beberapa aplikasi live streaming.

Orang-orang tetap rela mengantre panjang di bioskop demi memuaskan rasa kangen dengan Warkop DKI, sekaligus menghapus rasa penasaran terhadap akting Abimana Aryasatya (sebagai Dono), Vino G Bastian (Kasino), dan Tora Sudiro (Indro).

"Kangen sama Dono, Kasino, selain karena bintangnya juga terkenal," ujar Ihwan, salah satu penonton di XXI Blok M Square, Jakarta Selatan, dilansir laman VIVA.co.id (11/9). "Kalau saya karena lucu, penasaran sama akting mereka," sebut penonton lain bernama Aya.

Laiknya AADC 2, kelompok komedi Warkop DKI telah menjadi jenama populer di masyarakat Indonesia, khususnya penggemar film. Hampir semua golongan dan ragam usia pernah menyaksikan atau setidaknya mendengar nama tersebut. Tidak heran jika penonton Jangkrik Boss! Part.1 terdiri dari anak usia sekolah, hingga Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Lantas, apa bahan bakar yang dimilikinya sehingga bisa sedemikian cepat meroket? "Kami membangun sensasi Warkop DKI Reborn dalam waktu yang panjang. Sejak tahun lalu kami terus mengabarkan segala proses menyangkut film ini sehingga orang semakin tidak sabar menantikan," ungkap Frederica, produser di Falcon Pictures, kepada Beritagar.id, Senin (12/9) malam.

Selain menciptakan sensasi atau demam Warkop DKI Reborn melalui pemberitaan yang menghiasi berbagai bentuk media massa, promosi besar-besaran juga dilakukan. Itu dilakukan untuk menciptakan tren. "Jadi orang merasa harus menonton jika tidak ingin ketinggalan tren ini," lanjut Erica, sapaan akrab Frederica.

Untuk menunjang strategi tersebut tentu saja membutuhkan dana. Dan Falcon rela merogoh kocek hingga Rp15 miliar untuk biaya promosi. Biaya tersebut lebih banyak dari ongkos pembikinan film yang menghabiskan Rp10 miliar.

"Porsi terbesar memang di Jakarta mengingat statusnya sebagai pencipta tren dan paling banyak memiliki layar bioskop. Namun kami juga tetap promo di tempat lain, seperti memasang billboard di beberapa kota semisal Yogyakarta. Kami juga memasang standee banner di seluruh bioskop Indonesia. Berpromosi di stasiun televisi juga kami lakukan karena menjangkau banyak daerah. Dan ongkos promo di televisi itu yang paling mahal," jelas Erica.

Dengan segala rekor yang datangnya di luar dugaan tersebut, Erica hanya bisa mengucap syukur dan terima kasih sembari tetap berpijak ke bumi alias rendah hati. "Perjalanan yang kami lalui ini sudah sangat luar biasa, tapi kami tidak mau terlena karena perjalanan masih panjang. Semoga kebangkitan film Indonesia juga tidak berhenti di film ini saja," pungkasnya.

BACA JUGA