FILM INDONESIA

Menyoal klasifikasi penonton film Foxtrot Six

Pasukan khusus dari kubu The Reform dalam film Foxtrot Six
Pasukan khusus dari kubu The Reform dalam film Foxtrot Six | MD Pictures dan Rapid Eye Pictures

Eksekutif produser Mario Kassar dan produser Manoj Punjabi mempertanyakan keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) memberikan klasifikasi 21+ untuk Foxtrot Six.

Artinya saat tayang di bioskop, film perdana arahan Randy Korompis itu hanya untuk konsumsi penonton berusia 21 tahun ke atas.

Keputusan tersebut sontak mengubah air muka Manoj dan Mario yang duduk berdampingan saat menggelar konferensi pers usai pemutaran untuk kalangan wartawan di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2019) petang.

"Saya baru dapat kabar kalau film ini dapat klasifikasi 21+ dari lembaga sensor kalian. Menurut saya itu berlebihan karena tidak seharusnya demikian. Saya sudah menonton banyak film yang lebih brutal dari ini. Sementara Foxtrot Six sama sekali tidak brutal,” ujar Mario.

Film Foxtrot Six adalah karya perdana Randy Korompis sebagai sutradara. Kisahnya tentang misi satu pasukan The Reform yang dikomandoi Angga (diperankan Oka Antara) dalam menumpas partai pembelot bernama PIRANAS.

Untuk memuluskan misinya, Angga merekrut beberapa rekannya sesama eks anggota marinir, yaitu Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), Tino (Arifin Putra), dan Ethan (Mike Lewis). Turut bergabung seorang penembak jitu nan misterius bernama Spec (Chicco Jerikho).

Sepanjang 114 menit durasi film, ada banyak adegan perkelahian dengan atau tanpa senjata.

Visual dan bunyi patahnya anggota tubuh, darah yang moncor dari kepala terkena tembakan, atau perut koyak karena berondongan peluru senjata mesin adalah sebagian di antaranya.

Intensitas adegan-adegan kekerasan macam itu yang tampaknya membuat LSF memberikan stempel 21+ untuk film produksi bareng MD Pictures, Rapid Eye Pictures dan East West Synergy ini.

"Saya setuju dengan Mario. Terus terang saya menyayangkan kenapa film ini dapat rating 21+. Yang ingin saya tanyakan sebenarnya apa kriteria lembaga sensor kita dalam memberikan rating? Enggak jelas. Soalnya kalau film asing yang sama seperti ini, atau bahkan lebih parah dari ini, bisa dapat rating 17+,” tegas Manoj.

Bos MD itu mencontohkan film Mile 22 yang dibintangi Mark Wahlberg dan Iko Uwais. Kadar intensitasnya sebagai film aksi laga sepadan dengan Foxtrot Six, tapi bisa lolos dapat rating 17+.

Kegusaran Manoj dengan kriteria 21+ yang dikantongi Foxtrot Six sangat beralasan. Peluang film ini meraup penonton lebih luas jadi berkurang. Padahal ongkos produksinya mencapai AS$5 juta (sekitar Rp70 miliar). Angka yang besar untuk ukuran film Indonesia yang rerata dalam kisaran Rp20 miliar.

Mario menambahkan, tujuannya bergabung dalam proyek film ini semata untuk membuka kesempatan lebih banyak produser atau rumah produksi asal Hollywood berkolaborasi membuat film di Indonesia.

“Tapi kalau mereka tahu kejadian ini, sama saja dengan memperkecil peluang Hollywood untuk datang dan bekerja di sini. Mungkin hanya Disney yang bisa bikin film di sini. Tidak masuk akal,” gerutu Mario yang sebelumnya memproduseri film Rambo, Terminator 2: Judgement Day, The Doors, dan Basic Instinc.

Sistem penyensoran film di Amerika Serikat (AS), tempat Mario Kassar lama berkiprah, memang berbeda dengan Indonesia karena di sana menganut rating system.

Artinya tidak diberlakukan revisi atau pemotongan terhadap film. Masyarakatlah yang dituntut secara sadar memilih film sesuai klasifikasi usia sesuai ketentuan Motion Picture Association of America (MPAA).

Penggolongan usia penonton di AS terdiri dari; General Audiences (semua umur), Parental Guidance (bimbingan orangtua), PG 13 (khusus penonton berusia 13 tahun ke atas), Restricted (penonton berusia di bawah 17 tahun harus didampingi orang yang lebih tua), dan NC-17 (penonton di bawah usia 17 tidak diperkenankan menonton).

Sementara gunting sensor LSF bekerja sesuai Undang–Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman dan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film.

Pun demikian, LSF membuka kesempatan dialog dan diskusi kepada pemilik film (produser, sutradara, atau importir) jika berkeberatan dengan penyensoran yang mereka terima.

Hasil akhir dari proses dialog dan diskusi tersebut yang kemudian melahirkan Surat Tanda Lulus Sensor. Lebih jauh soal bagaimana kriteria penyensoran film di Indonesia termuat dalam laman ini.

Beberapa film aksi laga Indonesia yang sebelumnya mendapat klasifikasi penonton 21 tahun ke atas, antara lain The Raid (2012), The Raid 2: Berandal (2014), dan Headshot (2016).

Dari tiga film tersebut, hanya Headshot yang gagal meraup lebih dari satu juta penonton.

Apakah Foxtrot Six tetap bisa meraup jutaan penonton harus menunggu respons penonton saat film ini mulai bertarung di layar-layar bioskop mulai 21 Februari 2019.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR