FILM INDONESIA

Merancang beladiri dalam film Wiro Sableng

Aktor Yayan Ruhian beraksi dalam sesi foto kunjungannya bersama para pemain Wiro Sableng ke redaksi Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/2018).
Aktor Yayan Ruhian beraksi dalam sesi foto kunjungannya bersama para pemain Wiro Sableng ke redaksi Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/2018). | Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Semesta Wiro Sableng tak lepas dari ilmu beladiri dan jurus-jurus yang fantastis hasil imajinasi penulis Bastian Tito. Maka tak heran kalau adegan berkelahi bertebaran dalam Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang saat ini sedang tayang di bioskop.

Untuk menampilkan pertarungan yang meyakinkan, film yang diproduksi LifeLike Pictures itu menggunakan dua sutradara. Sutradara utama adalah Angga Dwimas Sasongko, sementara tambahannya adalah Chan Man Ching sebagai action director.

Chan sudah kenyang pengalaman. Lelaki asal Hong Kong ini merupakan koreografer aksi untuk film-film Jackie Chan seperti Rush Hour (1998), Who Am I? (1998), Mr. Nice Guy (1997), dan The Legend of Drunken Master (1994).

"Action di-handle oleh Chan Man Ching, tapi tentunya harus koordinasi," ungkap produser Sheila “Lala” Timothy dalam kunjungannya bersama para pemain Wiro Sableng ke redaksi Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/2018). Keputusan tetap ada pada para petinggi film ini.

“Sutradara (Angga, red.) dan produser selalu ada di lokasi untuk memutuskan apakah (adegan) ini oke atau tidak. Action director lebih ke framing, ke gerakan kamera, shot list, dan sebagainya,” lanjut Lala.

Ihwal penggunaan dua sutradara berasal dari pembicaraan Lala dengan Yayan Ruhian pada 2015. Lala mengajak aktor The Raid (2011) itu untuk menjadi koreografer aksi Wiro Sableng.

“Karena Chan Man Ching punya sentuhan Asia, terus akhirnya kami pilih dia untuk jadi action director,” ujar Lala.

Cita rasa Asia diperlukan, sebab silat dalam Wiro Sableng kental dengan aroma Indonesia. Ini juga jadi dasar keputusan LifeLike untuk menggunakan jasa Yayan sebagai koreografer.

Segudang pengalaman menangani dua film The Raid diterapkan Yayan dalam Wiro Sableng. Tentu saja ada perbedaan yang mendasar. Beladiri dalam The Raid lebih ke arah pertarungan tangan kosong yang dipadu penggunaan senjata modern. Sementara, Wiro Sableng jauh lebih tradisional.

“Jadi tidak saja karakter bela dirinya, tapi nuansa alam Indonesia ditampilkan, kemudian kostumnya, nanti yang ditampilkan itu betul-betul Indonesia banget,” jelas Yayan, yang juga memerankan tokoh antagonis Mahesa Birawa.

Terlibat dari awal praproduksi membuat Yayan lebih mudah dalam menciptakan gaya bertarung masing-masing tokoh dalam Wiro Sableng. Semua punya batas yang jelas, dari naskah bikinan Lala, Tumpal Tampubolon, dan Seno Gumira Ajidarma; maupun karakter asli yang diciptakan Bastian Tito dalam novel-novel Wiro Sableng.

Misalnya, Anggini (diperankan Sherina Munaf) dengan senjatanya selendang, atau gaya bertarung Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) yang tampil dengan pakaian seperti bidadari. Atau karakter Dewa Tuak (Andi /rif) yang berkelahi sambil mabuk-mabukkan.

"Semua sudah jadi. Tim kami hanya menyiapkan pola saja. Pola fighting-nya akan begini, mudah-mudahan sesuai dengan script," jelas Yayan.

Selanjutnya, Yayan dan tim koreografi berdiskusi dengan sutradara, produser, dan pemain. Ia menganggap hal ini penting, untuk menampilkan gerakan yang alami.

Insyaallah, apapun yang dilakukan dalam fighting nanti, itu bukan sebuah adegan yang dipaksakan. Kelihatan dilatih, tapi kami mengembangkan dari gerakan-gerakan yang sudah terbiasa dilakukan (para pemain).”

Jurus-jurus dalam Wiro Sableng tak hanya dirancang aktor John Wick 3 ini agar bisa diikuti pemain, tapi juga para penonton. Khususnya anak-anak, dalam rangka mempromosikan beladiri Indonesia dan waralaba Wiro Sableng.

“Begitu mereka keluar dari bioskop, nanti mereka sudah bisa teriak-teriak ‘Pukulan Kunyuk Melempar Buah’, ‘Pukulan Sinar Matahari’. Jadi kami ingin teruskan, Wiro ini adalah Indonesian Hero dan ini untuk dunia lho, bukan untuk kita saja,” tutup Yayan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR