FESTIVAL FILM INDONESIA

Mereka yang rajin memboyong Piala Citra

Christine Hakim, pengoleksi Piala Citra terbanyak untuk kategori akting.
Christine Hakim, pengoleksi Piala Citra terbanyak untuk kategori akting. | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Festival Film Indonesia (FFI) bakal digelar pada Minggu (9/12/2018). Ajang tahunan ini memberikan Piala Citra untuk insan film yang dianggap terbaik pada tahun penyelenggaraannya.

Lokadata Beritagar.id mengumpulkan beberapa nama yang menjadi “langganan” mendapat Citra sejak pertama kali digelar dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional pada 1955.

Tahun ini, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi yang paling berpeluang memborong Citra terbanyak. Film garapan Mouly Surya ini dinominasikan dalam 14 kategori, termasuk Film Terbaik.

Marlina berpeluang mengalahkan Ibunda (1986), film peraih Piala Citra terbanyak sepanjang masa. Hasil karya Teguh Karya ini mendapat delapan piala, termasuk kategori Film Cerita Terbaik. Sang sutradara membawa pulang dua piala; Sutradara Terbaik dan Cerita Asli Terbaik.

Teguh Karya (1937-2001) adalah salah satu sineas terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 14 tahun setelah kematiannya, Teguh menjadi ikon FFI 2015. Wajar kiranya jika dia menjadi salah satu kebanggaan FFI.

Secara total, sepanjang kariernya, Teguh memperoleh delapan Citra. Enam kali lelaki bernama asli Steve Liem Tjoan Hok ini memenangi kategori Sutradara Terbaik; dua sisanya sebagai penulis skenario.

Sebagai sutradara, Teguh dikenal penuh totalitas, tegas, dan telaten. “Ia berhasil menyentuh sisi komersial tanpa meninggalkan esensi penting dalam pembuatan film,” ujar IGAK Satrya Wibawa, pengajar Kajian Film, Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya kepada Femina (9/1/2016).

Latar teater membuat Teguh menguasai teknik penyutradaraan film dengan baik. Ini dipadukan dengan penceritaan yang menarik bagi penonton.

“Isu yang diangkat Teguh selalu dekat dengan masyarakat Indonesia. Alhasil, karya filmnya selalu disukai masyarakat karena bisa diterima dengan akal sehat,” ungkap Satrya.

Teguh juga dikenal mampu mencetak aktor bertalenta, contohnya Christine Hakim. Ia menggarap film pertama Christine yaitu Cinta Pertama (1974).

Meskipun pendatang baru, sang aktris langsung memenangi Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Prestasi yang tak terulang selama lebih dari 30 tahun, sebelum Putri Marino memenangi kategori yang sama dalam Posesif (2017).

Perempuan yang kini sudah berusia 61 ini memperoleh delapan piala untuk kategori akting; baik sebagai Aktris Utama Terbaik maupun Aktris Pendukung Terbaik.

Hingga kini, Christine masih aktif main film. Bahkan, tahun lalu ia masih memenangi Citra sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat Kartini (2017).

"Untuk bisa mencapai tahap yang sekarang, saya mendapat sokongan dari banyak orang. Keluarga terutama. Kemudian kru film, sutradara, sesama rekan main, hingga para penonton," ujar Christine Hakim kepada Beritagar.id (17/5/2017).

Daftar peraih Piala Citra terbanyak dari seluruh kategori.
Daftar peraih Piala Citra terbanyak dari seluruh kategori. | Lokadata /Beritagar.id

Seperti yang disebut Christine, nyaris tidak mungkin ada film yang hanya mengandalkan satu-dua orang. Dalam proses pembuatan sebuah film, setidaknya selalu ada empat pekerjaan utama; produser, sutradara, aktor/aktris, penulis skenario, dan sinematografer (penata kamera).

Hal ini membawa kita kepada Asrul Sani (1927-2004), salah satu penulis naskah terbaik negeri ini. Sepanjang kariernya dari 1952-1992, Asrul menang delapan kali sebagai penulis skenario -- tiga diantaranya didapat dari kategori Cerita Asli Terbaik.

Salah satu karya Asrul paling tenar adalah Naga Bonar (1987), film yang mencuatkan nama Deddy Mizwar, aktor pengkoleksi Citra terbanyak dengan raihan lima piala.

Sebelum masuk perfilman, Asrul sudah dikenal secara nasional sebagai penyair Angkatan '45, seangkatan dengan Chairil Anwar dan Rivai Apin. Di bidang sastra, Asrul tak hanya menulis puisi tapi juga cerita pendek, esai, dan menerjemahkan banyak naskah teater.

Jumlah delapan piala yang diperoleh Christine dan Asrul Sani bukan terbanyak. Sineas dengan koleksi Citra terbanyak adalah Idris Sardi (1938-2014) dengan 11 piala; seluruhnya dari kategori Tata Musik Terbaik.

Menata musik dalam film bisa dibilang sebagai sampingan Idris. Ia lebih dikenal sebagai maestro biola Tanah Air. Keluarganya memang punya darah seni kental.

Ayahnya, M. Sardi merupakan pemain biola orkes RRI Studio Jakarta, sementara Hadidjah, sang ibu, adalah seorang bintang film. Anak Idris, Lukman Sardi berkarier sebagai aktor, kini ia jadi Ketua Komite FFI hingga 2020.

Seperti penata musik, profesi penata kamera alias sinematografer juga kerap dilupakan orang. Padahal, ia seperti mata bagi sutradara dalam menerjemahkan skenario ke dalam bentuk gambar hidup.

"Apa yang ada di gambar adalah bahasa pengucapan sutradara dan penata kamera," ungkap sinematografer Yudi Datau kepada Tempo (10/1/2017). Bersama Lukman Hakim Nain (1931-2001), suami aktris Sha Ine Febriyanti ini adalah pemenang kategori Penata Kamera terbanyak; masing-masing sudah membawa pulang empat piala.

Menurut Yudi, pandangan sebelah mata terhadap profesi penata kamera, musik, busana, dan lain-lain menyebabkan regenerasi tidak jalan.

Regenerasi yang mandek terus menjadi masalah, bahkan hingga saat ini. Contohnya tahun lalu, ketika hasil kerja Khikmawan Santosa dalam lima film berujung lima nomine Penata Suara Terbaik. Akhirnya ia memenangi Piala Citra lewat Pengabdi Setan.

Pemenang Citra terbanyak berdasarkan lima kategori utama.
Pemenang Citra terbanyak berdasarkan lima kategori utama. | Lokadata /Beritagar.id
BACA JUGA