FILM HOLLYWOOD

Millicent Simmonds, bintang tunarungu dalam A Quiet Place

Millicent Simmonds (kanan) dalam salah satu adegan film A Quiet Place.
Millicent Simmonds (kanan) dalam salah satu adegan film A Quiet Place. | Jonny Cournover /Paramount Pictures

Salah satu film yang sedang laris seminggu belakangan ini adalah A Quiet Place, yang memuncaki box office Amerika Serikat pekan lalu. Seperti judulnya, salah satu daya tarik film ini adalah faktor kesunyian.

A Quiet Place bercerita tentang umat manusia yang nyaris punah karena Bumi dikuasai makhluk asing. Sepasang suami istri harus melindungi diri mereka dan dua anaknya dari alien yang memburu manusia berdasarkan suara. Dalam film itu, suara adalah sesuatu yang langka.

Untuk memaksimalkan efek senyap dalam A Quiet Place, sutradara John Krasinski melakukan langkah berani. Lelaki yang juga bintang utama film tersebut memberi kesempatan pada Millicent Simmonds, seorang aktris muda untuk memerankan karakter anak tunarungu bernama Regan.

Dalam kehidupan nyata, Simmonds juga penyandang tunarungu.

Sutradara lain mungkin akan memilih aktor dengan pancaindra sempurna untuk memerankan karakter dengan cacat fisik. Seperti dalam Suspect (1987), ketika Liam Neeson memerankan karakter tunarungu yang ditangkap karena tuduhan pembunuhan.

"Dalam naskah selalu ada karakter tunarungu, tapi John benar-benar berjuang agar mereka (pihak produser) mempekerjakan Millicent," ujar penulis naskah Scott Beck kepada Hollywood Reporter (7/4/2018).

Rupanya pertaruhan Krasinski berhasil. Millicent mengajarkan bahasa isyarat pada pemain lain dan para kru. "Sungguh luar biasa, ia memberi kedalaman ekstra untuk film ini," tambah Beck.

Agar lebih autentik

Millicent Simmonds (14) kehilangan pendengarannya karena kelebihan dosis obat saat ia baru berusia 12 bulan. Seketika Emily Simmonds, ibunya, memutuskan untuk mempelajari bahasa isyarat. "Saya ingin punya hubungan baik dengan anak perempuan saya," ujar Emily kepada Signpost (4/3/2014).

Dokter sempat melarang Emily mempelajari bahasa isyarat, sebab ia khawatir Millicent jadi tak mau melatih pendengarannya.

Soal ini, Emily punya alasan tersendiri. Ia punya bibi yang juga tunarungu. Ayah sang bibi--kakek Emily--tak mau mempelajari bahasa isyarat. Hubungan mereka pun memburuk. Emily tak ingin kisah sedih itu terulang pada Millicent.

Sebab, Emily yakin komunikasi adalah hal terpenting untuk si buah hati. Kerap terjadi, anak bisa "mendengar" orangtuanya--karena sudah terbiasa membaca gerak bibir dan gestur--tapi, orang lain tak bisa berkomunikasi dengan anak itu karena tak mempelajari bahasa isyarat.

Langkah Emily ternyata tepat, sehingga akhirnya Millicent bisa jadi seorang aktris. Sebelum A Quiet Place, sutradara Todd Haynes mengajaknya bermain dalam Wonderstruck (2017).

Film itu menceritakan Ben, bocah lelaki yang dikisahkan secara simultan dengan Rose, seorang anak perempuan dari 50 tahun lalu, karena mereka dihubungkan sebuah koneksi misterius. Ada kesamaan lain dari dua anak itu, mereka tunarungu.

Untuk peran Rose, Haynes mengirim surat pemberitahuan kepada berbagai komunitas tunarungu di seluruh AS. Ada 200 pelamar, akhirnya yang terpilih adalah Millicent Simmonds. Sementara peran Ben yang jadi tunarungu karena tersambar petir diperankan Oakes Fegley, aktor cilik dengan pendengaran normal.

"Para sineas berpikir mempekerjakan aktor tunarungu adalah hal sulit," ujar penerjemah bahasa isyarat Lynnette Taylor kepada Variety (13/10/2017). "Itu tidak negatif, tapi mereka begitu ketakutan membuat kesalahan, sehingga menghindarinya. Padahal mereka takut karena ketidaktahuan mereka."

Dalam film drama misteri itu, Haynes melakukan langkah relatif lebih berani daripada Krasinski dalam A Quiet Place. Ia mempekerjakan tujuh aktor tunarungu untuk memerankan karakter dengan pendengaran sempurna.

Seperti alasan Krasinski, Haynes rela merepotkan diri demi proses film yang lebih autentik.

"(Dengan kehadiran aktor tunarungu) kami dikelilingi orang-orang yang bisa bahasa isyarat, menjadikannya bagian sangat berharga dalam proses syuting," ujar Haynes. "Banyak kru dan pemain yang mempelajari dan mempraktikkan bahasa isyarat. Ini film soal tunarungu, juga soal komunikasi."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR