FILM INDONESIA

Misi terselubung Posesif menembus FFI 2017

Penampilan Putri Marino (mengangkat tangan) dalam film Posesif
Penampilan Putri Marino (mengangkat tangan) dalam film Posesif | Palari Films

Dari semua nomine kategori Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2017 yang diumumkan Kamis (5/10/2017), film Posesif paling berbeda dibanding empat film lain.

Maklum, film garapan sutradara Edwin itu satu-satunya yang belum bisa dinikmati masyarakat luas alias belum tayang di bioskop.

Sementara Cek Toko Sebelah, Kartini, Night Bus, dan Pengabdi Setan sudah tayang di jaringan bioskop besar. Paling awal adalah Cek Toko Sebelah (tayang 28 Desember 2016), sementara teranyar Pengabdi Setan yang saat ini masih tayang. Adapun Posesif baru diputar di bioskop pada 28 Oktober mendatang.

Lantas mengapa Posesif tetap masuk ke dalam FFI 2017? Rupanya ini adalah "misi terselubung" dari rumah produksinya, Palari Films.

"Sebenarnya begini, di bioskop komersial Posesif belum tayang, tapi kami sudah screening secara terbatas. Kebetulan, tim Palari Films punya bioskop kecil namanya Kinosaurus, tempat pemutaran film alternatif di Kemang (Jakarta Selatan)," jelas Muhammad Zaidy, produser Posesif kepada Beritagar.id, usai pengumuman nomine di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Pusat.

Dengan menayangkan Posesif secara terbatas kepada publik, termasuk juri dan asosiasi profesi yang terlibat dalam FFI 2017, film ini bisa masuk persaingan ajang tahunan itu.

Maklum, salah satu syarat masuk FFI adalah film harus sudah beredar di wilayah Indonesia sejak Oktober 2016 hingga akhir September 2017. Peredaran itu boleh melalui jaringan distribusi bioskop dan non-bioskop.

Dengan begitu, Palari Films ingin menunjukkan bahwa bioskop mini itu eksis dan hidup dalam ekosistem perfilman Indonesia. Di Jabodetabek saja pria yang akrab dipanggil Eddy itu menyebut tiga. Selain Kinosaurus; ada Cine Space di Serpong; Tangerang Selatan, Banten; dan Kineforum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

"Kami menayangkan Posesif di tiga tempat tersebut. Kami juga menayangkan di ruang alternatif lainnya yang ada di luar Jakarta," jelas salah satu produser Athirah (2016) ini.

Meski Posesif merupakan karya pertama Palari Films, juga film mainstream perdana dari Edwin yang lebih dikenal sebagai sutradara film-film arthouse, gemanya dalam ajang FFI cukup terasa.

Posesif dinominasikan dalam 10 kategori, termasuk kategori utama seperti Film Terbaik, Aktor Utama Terbaik, Aktris Utama Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Skenario Asli Terbaik.

Dari semua nomine Posesif, Eddy mengharapkan Putri Marino keluar sebagai Aktris Terbaik dalam ajang yang bakal digelar di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 November itu.

Akting Putri dinilai sangat luar biasa, padahal gadis berdarah Italia itu sebenarnya bukan pilihan pertama Palari untuk memerankan Lala. "Tapi kami jatuh hati dan kami percaya melihat progress-nya yang luar biasa. Padahal dia pemain yang nggak punya basic akting sama sekali dan juga belum dikenal sama sekali.

"Saya sangat berharap pada Putri Marino dan juga Adipati Dolken. Ini penampilan terbaik mereka," tutup Eddy.

Posesif bercerita tentang Lala (diperankan Putri Marino), atlet loncat indah yang hidupnya juga ikutan jungkir balik setelah menemukan cinta pertamanya, si murid baru Yudhis (Adipati Dolken). Cinta pertama itu jadi jebakan, karena Yudhis ternyata mencintai Lala secara obsesif, bahkan cenderung berbahaya.

Naskah Posesif ditulis oleh Ginatri S. Noer (sebelumnya menulis skenario film Rudy Habibie, Pinky Promise, dan Habibie & Ainun). Film ini juga menampilkan Yaya Unru, Cut Mini, Gritte Agatha, dan Chicco Kurniawan.

Official Trailer Film POSESIF /Palari Films
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR