FILM INDONESIA

Monty Tiwa membayar utang kreatif

Monty Tiwa saat konferensi pers film Pocong the Origin di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (11/4/2019)
Monty Tiwa saat konferensi pers film Pocong the Origin di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (11/4/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Selama 13 tahun Monty Tiwa merasa resah. Sutradara dan penulis skenario berusia 42 itu mengaku punya utang kreatif. Ada cerita tertunda yang harus sampai ke penonton.

Bermula pada 2006 silam. Saat itu ia menulis skenario film bertajuk Pocong. Rudi Soedjarwo menjadi sutradara. Sementara SinemArt Pictures sebagai rumah produksi.

Setelah melalui berbagai pertemuan, Lembaga Sensor Film (LSF) tak memberikan lampu hijau penayangan film tersebut.

Melansir arsip berita Tempo (17/10/2006), ada sembilan poin pertimbangan yang mendasari penolakan tersebut.

Beberapa di antaranya karena film dinilai tidak sesuai norma kesopanan umum (adegan perkosaan), menonjolkan kekerasan, dan menyajikan adegan kekejaman serta kejahatan lebih dari 50 persen, sehingga mengesankan kebaikan dapat dikalahkan oleh kejahatan.

"Terus terang ini keputusan tidak populer bagi LSF," ujar Titie Said yang kala itu menjabat Ketua LSF.

Untuk mengobati rasa kecewa, Monty, Rudi, dan SinemArt langsung memproduksi film Pocong 2 (2006) yang sebetulnya adalah lanjutan cerita dari film sebelumnya.

Respons pencinta film ternyata luar biasa sehingga memicu rilisnya Pocong 3 setahun kemudian.

“Sebagai kreator dalam hal ini penulis skenario, ketika mencurahkan hati dalam skenario, itu rasanya sudah seperti anak sendiri. Bayangkan saya punya anak, tapi enggak boleh berkembang,” ungkap Monty dalam konferensi pers film Pocong the Origin di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (11/4/2019).

Merasa sudah tidak tahan menanggung utang kreatif tadi, Monty menawarkan cerita yang dulu sempat ia tulis kepada Chand Parwez, pemilik Starvision. Tak butuh lama persetujuan menggarap film tersebut datang.

“Dari pengalaman saya menyutradarai film Keramat (2009) bersama Starvision, Pak Chand adalah orang yang selalu memberikan saya ruang untuk berkarya seaneh apa pun itu,” kata Monty.

“Waktu saya menawarkan proyek film Keramat, tidak sampai satu menit langsung diiyakan. Padahal waktu itu saya datang hanya dengan ide dan tanpa skenario. Para pemain yang terlibat juga harus berdasarkan pilihan saya,” lanjutnya.

Sekarang kisah Pocong yang dilarang beredar itu hadir dengan sedikit modifikasi. Tentunya agar lebih relevan dengan kondisi zaman.

Alasan pindah rumah produksi membuat proyek ini sedikit mengalami modifikasi pada judul. Terpilih Pocong the Origin alih-alih tetap mengusung Pocong.

Kisahnya tentang Ananta (diperankan Surya Saputra), seorang pembunuh berdarah dingin yang telah dieksekusi mati oleh negara.

Sashti (Nadya Arina), sebagai putri Ananta satu-satunya, harus mengantarkan jenazah sang ayah untuk dikuburkan di kampung halamannya.

Ditemani Yama (Samuel Rizal), seorang sipir penjara, keduanya berpacu dengan waktu untuk mencapai kampung Ananta di Desa Cimacan.

Perjalanan tak berjalan mulus karena berbagai gangguan gaib yang menghalangi mereka selama sepanjang perjalanan. Tambah lagi kehadiran Jayanthi (Della Dartyan), seorang jurnalis, yang punya misi lain mengungkap kasus Ananta.

Menyongsong perilisan proyek bayar utangnya ini di bioskop mulai 18 April 2019, Monty mengatakan bahwa Pocong the Origin mungkin satu-satunya prekuel yang tayang 13 tahun setelah sekuelnya rilis.

“Saya menyebut ini reinkarnasi, sebab film pertama itu belum sempat hadir sudah terlebih dahulu dimatikan,” ujar penerima Piala Citra di Festival Film Indonesia 2006 itu.

Para pemain lain mengakui alasan mereka membintangi film ini lantaran ceritanya sangat menarik. Semisal Surya Saputra (43) yang aslinya punya ketakutan di dalam ruangan sempit (Claustrophobia).

Surya yang berlakon sebagai Ananta memang harus banyak menghabiskan waktu syuting dalam mobil, plus sekujur tubuh dikafani laiknya pocong.

Tyo Pakusadewo (55) juga mengungkap cerita yang ditawarkan Monty kepadanya terlalu bagus untuk ditolak. Sebab menurutnya faktor utama yang membuat film akan bagus adalah cerita.

“Film yang jelek bisa jadi bagus kalau pemain-pemainnya main bagus. Namun enggak bisa sebagus kalau filmnya sejak awal sudah punya pondasi cerita bagus. Sebab kalau cerita sudah bagus yang lain pasti akan ikut bagus,” lanjut pemeran Ki Endang itu.

Nadya Arina tadinya juga sempat ragu ikut bergabung. Itu lantaran sebelumnya ia telah bermain dalam film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) yang juga bergenre horor.

Ia tak ingin kemudian mendapat cap sebagai pemain spesialis film horor. Keraguannya sirna setelah membaca skenario Pocong the Origin yang ditulis Monty bersama kakaknya, Eric Tiwa.

POCONG The Origin - Official 4K Trailer /StarvisionPlus
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR