MUSIK INDONESIA

Musik nusantara dari kuartet harpa lokal

Konser Harpa Nusantara di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung,  Jawa Barat, Senin malam (30/9/2019)
Konser Harpa Nusantara di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Jawa Barat, Senin malam (30/9/2019) | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Musik tarawangsa mengalun. Nadanya mengalir tenang dari alat musik gesek berdawai ganda khas Sunda itu. Sisca kemudian menimpalinya dengan petikan harpa. Instrumen lain seperti biola dan suling bergantian mengekor.

Mereka membawakan tembang Sunda berjudul Hariring Kuring untuk membuka konser berjudul Harpa Nusantara di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Jawa Barat, Senin malam (30/9/2019).

Fransisca Agustin alias Sisca Guzheng memadukan konser perdananya dengan balutan seni rupa dan seni tari di atas panggung. Seniman musik kelahiran Bandung 17 Agustus 1982 itu menyiapkan spesial pertunjukannya selama 1,5 jam.

Memainkan delapan lagu ditambah medley potongan lagu perjuangan, ia mengenalkan empat harpa buatan lokal pesanannya. Di pentas, Sisca bergantian memainkan instrumen itu.

Mulai dari harpa yang bentuknya terbesar dengan nama Dewi Sri, jemarinya pindah memetik harpa Toraja dan Mega Mendung yang berdiri sejajar di lantai panggung. Khusus harpa Kawung yang ukurannya terkecil, Sisca memainkannya sambil berdiri dan menggendongnya di depan perut.

Lagu lain yang telah disiapkan adalah Yamko Rambe Yamko (Papua), Kidung Wahyu Kolosebo (sholawat Sunan Kalijaga), Marendeng Marampa (Toraja), Warung Pojok (Cirebon), Nasonang Do Hita Nadua (Tapanuli), Selayang Pandang (Melayu), Tanduk Majeng (Madura), yang diakhiri medley lagu perjuangan.

Direktur Musik Iman Ulle membangun suasana Indonesia yang beragam dan asyik kepada 200-an penonton yang memenuhi ruangan. "Ketika Indonesia sedang banyak gonjang-ganjing soal kesukuan, saya tidak menemukan relevansi (masalah) itu dengan musik," kata Sisca di atas panggung.

Sisca mengaku beretnis Tiongkok dan beragama Katolik. Ia belajar memainkan harpa secara otodidaktis dan sudah selama 16 tahun ia meramaikan hajatan pernikahan.

Ia juga pernah berkolaborasi dengan para pemusik tradisional. Atau bermain bersama gitaris Dewa Budjana, dalang mbeling Sudjiwotejo, musisi jazz Dwiki Dharmawan, dan Samba Sunda.

Jika harpa dipelajari secara otodidaktis, tidak demikian dengan urusan komposisi musik. Dirinya pun kursus privat komposisi musik bersama komposer Slamet Abdul Syukur. "Kita bisa main bersama lagu apa saja, saya serasa sedang berdoa bersama mereka,"

Sisca Guzheng (kanan) beraksi  dengan empat buah harpa.
Sisca Guzheng (kanan) beraksi dengan empat buah harpa. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Produser pertunjukan Syarif Maulana mengatakan Sisca membuka wacana penting tentang Nusantara yang terbentuk dari ragam budaya dalam dan luar Indonesia. Harpa yang identik sebagai alat musik dari negara barat dan lazim dimainkan pada musik klasik, kini dibuat bersama pengrajin lokal di Bandung.

"Mudah-mudahan konser Harpa Nusantara tidak hanya menghibur, tapi juga menawarkan hal-hal yang membuka pikiran kita lebih luas," kata pemain gitar klasik itu.

Proses pembuatan

Harpa lokal yang dimainkan Sisca berjenis silang (cross-strung harp). Jumlah dawainya berjumlah 72 senar baja yang dipasang menyilang vertikal.

Dia mengatakan butuh perjuangan keras dalam pembuatan harpa berornamen tradisional Nusantara itu. Purwarupa pertama adalah harpa Toraja yang mulai dibuat pada 2009 oleh Ki Anong Naeni.

Modelnya berdasarkan harpa silang yang dibeli secara daring (online) dari Sidney, Australia. Ki Anong sebelumnya merupakan luthier atau pembuat gitar akustik di Bandung. Upayanya meniru desain dan ukuran dari model harpa yang ada ternyata tak semudah di angan.

"Terbentur sangat banyak kendala kalkulasi," ujar Sisca.

Semua kayu bagian harpa secara bergantian mengalami retak, bahkan patah. Kejadiannya hanya beberapa jam setelah senar dikencangkan hingga harus diganti dan dibuat ulang. Hanya bagian pilar ukirnya yang bertahan.

Hingga akhir hayatnya pada 2014, Ki Anong belum berhasil memperbaiki harpa Toraja hingga layak dimainkan. Cucunya yang juga luthier gitar, Awan Abu Sofyan, melanjutkan proses pembuatan harpa itu dengan kalkulasi yang berbeda pada 2015.

Harpa Toraja pun akhirnya selesai dibuat dua tahun kemudian. “Selamat melewati dua minggu genting setelah senar mencapai nada (pitch),” kata Sisca.

Setelah dua pekan terpasang, nadanya stabil. Setelah itu tiga bulan kemudian lahir harpa Mega Mendung, kemudian harpa Dewi Sri, lalu harpa Kawung yang terbaru. Rentang pembuatannya selama setahun terakhir.

"Harpa Dewi Sri baru selesai dua minggu sebelum hari konser."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR