HARI FILM NASIONAL

Naik turun penonton film Indonesia

Pengunjung hendak menonton film Ada Apa Dengan Cinta di Bioskop Megaria, Jakarta (12/2/2002).
Pengunjung hendak menonton film Ada Apa Dengan Cinta di Bioskop Megaria, Jakarta (12/2/2002). | Arif Ariadi /Tempo

Hari Film Nasional (HFN) diperingati setiap tanggal 30 Maret merupakan momentum hari pertama pembuatan film Darah dan Doa (Long March) karya Usmar Ismail yang dijuluki "Bapak Film Nasional". Penetapannya diakui Presiden BJ Habibie melalui Keputusan Presiden No 25/1999.

Sebagai sebuah medium audio visual untuk menuangkan gagasan dan informasi dari sineasnya, film akan bermakna jika bertemu penontonnya. Semakin banyak tentu semakin baik dan menguntungkan.

Namun jangan bayangkan proses menuju ke arah itu semudah membalik telapak tangan. Rumit laiknya proses pembuatan film itu sendiri. Harus menghabiskan banyak tahapan, modal, dan sedikit "keberuntungan".

Naik turun jumlah penonton film Indonesia bisa anda lihat di tabel pada akhir tulisan ini. Perihal apa penyebabnya, ada analisisnya yang bisa dibaca pada artikel "Hiburan rakyat yang tak terjangkau".

Laiknya sejarah perfilman Indonesia yang semrawut karena kurangnya pengarsipan, atau berceceran di berbagai tempat yang entah, mengetahui jumlah pasti angka penonton film Indonesia juga sangat kabur. Itu terjadi karena tidak ada satu lembaga resmi yang dibentuk untuk mengakumulasi berapa total penonton film Indonesia. Tidak juga oleh negara meski telah diamanatkan dalam Undang-undang No.33 Tahun 2009 tentang Perfilman.

Pasal 33 ayat 1 mengatakan bahwa pelaku usaha pertunjukan film yang melakukan pertunjukan film di bioskop wajib memberitahukan kepada menteri secara berkala jumlah penonton setiap judul film yang dipertunjukkan. Sementara isi ayat 2 mewajibkan menteri mengumumkan kepada masyarakat secara berkala jumlah penonton setiap judul film yang dipertunjukkan di bioskop.

Ikhtiar mencatat jumlah penonton film Indonesia pada akhirnya lebih telaten dilakukan oleh kolektif nirlaba filmindonesia.or.id. Itu pun minus catatan selama kurun 1995-2006. Sementara data jumlah penonton sejak 1973-1995 hanya berasal dari Jakarta menurut data PT. Peredaran Film Nasional (Perfin).

Terhitung sejak 2007 hingga sekarang, pencatatan mulai rutin dilakukan. Dalam keterangannya, situs yang diinisiasi oleh JB Kristanto beserta Lisabona Rahman dan Yayasan Konfiden itu melakukan pencatatan berdasarkan sumber data dari Cinema 21, Persatuan Perusahaan Film Indonesia, Blitzmegaplex (sekarang CGV), produser film, dan sumber-sumber lainnya yang diperbarui setiap pekan.

Laskar Pelangi (Miles Films) yang disutradarai Riri Riza adalah film dengan raihan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah. Sejak tayang perdana pada 25 September 2008, ekranisasi novel berjudul sama karya Andrea Hirata itu ditonton 4,6 juta orang.

Posisi kedua film terbanyak ditonton adalah Habibie & Ainun (2012) arahan Faozan Rizal yang merengkuh lebih dari 4,4 juta orang. Film tersebut mengisahkan awetnya cinta BJ Habibie dengan mendiang istrinya, Hasri Ainun Habibie.

MD Pictures saat ini telah memulai proses syuting Rudy Habibie yang merupakan prekuel Habibie & Ainun. Film tentang masa muda mantan Presiden Republik Indonesia saat berkuliah di Jerman itu diproyeksikan rilis 25 Juni 2016, tepat saat perayaan ulang tahunnya yang ke-80.

Dua film bernuansa religi mengisi daftar ketiga dan keempat, yaitu Ayat-ayat Cinta (3,5 juta penonton, tahun rilis 2008) dan Ketika Cinta Bertasbih (3,1 juta penonton, 2009). Penggenap lima besar film terlaris ditempati 5 cm (2,3 juta penonton, 2012).

Hingga menjelang bulan keempat 2016, alih-alih melewati rekor penonton Laskar Pelangi, jumlah 2,3 juta orang yang menyaksikan film 5 cm bahkan belum ada yang mendekati.

Peringkat teratas box office Indonesia tahun ini berdasarkan tahun edar film yang ditempati Comic 8: Casino Kings Part 2 baru mencapai 1.797.182 penonton. Padahal jumlah layar bioskop di Indonesia sejak akhir 2015 sudah bertambah menjadi 1.159 layar berbanding 1.002 layar pada 2014.

Pesona Warkop DKI

Kasino, Dono, dan Indro (dari kiri) saat masih bernama Warkop Prambors.
Kasino, Dono, dan Indro (dari kiri) saat masih bernama Warkop Prambors. | Syafrial Arifin/Tempo

Satu nama yang harus disebut jika menelaah film dengan penonton terbanyak adalah kelompok Warkop DKI. Wahyu Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Indrojoyo Kusumonegoro (Indro) adalah tiga serangkai yang tidak pernah gagal mengocok perut penonton dengan suguhan komedi mereka.

Membintangi 34 film yang dimulai dari Mana Tahan (1979) dan terakhir Pencet Sana Pencet Sini (1994), kelompok yang awalnya menebar humor melalui stasiun radio di program "Obrolan Santai di Warung Kopi" hampir selalu masuk jajaran box office di Jakarta.

Kesuksesan Warkop DKI dengan suguhan komedinya dengan beberapa "kembang" pendamping seperti Eva Arnaz, Nurul Arifin, Sally Marcellina, Kiki Fatmala, atau Fortunella memantik hadirnya lebih banyak film bergenre komedi yang muncul sepanjang dekade 80-an.

Magnet Warkop DKI bertahan hingga pertengahan era 90-an saat produksi film Indonesia mulai memperlihatkan titik lesu (setiap tahun hanya diproduksi rerata 20 film, berbanding 70 film pertahun pada dekade sebelumnya). Penyebabnya beragam, salah satunya karena semakin menjamurnya penggunaan VCD di kalangan masyarakat (Katalog Film Indonesia: 1926-2006, hal. XIV).

Sabar Dulu Dong (424 ribu penonton), Lupa Aturan Main (477 ribu), Bisa Naik Bisa Turun (419 ribu), Bagi-bagi Dong (271 ribu), Salah Masuk (371 ribu), dan Bebas Aturan Main (397 ribu) adalah deretan film Warkop DKI yang memuncaki tangga film terlaris di Jakarta sejak tahun 1990 hingga 1994.

Ketika perfilman nasional mulai terlelap dalam tidur panjang dan stasiun televisi mulai mengambil alih perhatian masyarakat dengan beragam suguhan sinetron, kelompok ini mampu bertransformasi. Aksi mereka di layar kaca bertajuk Warkop DKI the Series tayang di Indosiar.

"Mas Dono, sang intelektualnya Warkop, paling antusias menghadapi sesuatu yang baru. Pelan-pelan mas Dono mempelajari hal-hal baru di dunia sinetron. Dengan ilmu yang diperolehnya, ia mulai unjuk gigi menjadi sutradara dan produser," kenang Indro dilansir Tabloid Nova.

Hantaman terbesar dirasakan Warkop DKI datang pada 1997 ketika Kasino wafat karena tumor otak. Dua personel tersisa berusaha meneruskan sepak terjang kelompok ini di layar kaca meski dengan nama yang sedikit dimodifikasi menjadi Warkop Millenium. Petualangan Warkop benar-benar usai setelah Dono mengembuskan napas terakhir pada 2001.

Belakangan semangat Warkop DKI berusaha dibangkitkan lagi oleh Indro melalui proyek film bernama Warkop DKI Reborn bersama Falcon Pictures. Film-film lama trio itu akan digarap ulang dengan pemain berbeda dan menyelaraskan kondisi kekinian. Film pertama Warkop DKI Reborn tayang menjelang lebaran 2016.

"Kalau Warkop saya biarkan begitu saja, ini seperti saya mendapat warisan tanpa melakukan apa-apa. Saya ingin Warkop DKI terus hidup karakternya. Seperti Spiderman yang tetap digemari meskipun pemainnya ganti-ganti. Dono, Kasino, Indro harus tetap hidup," ungkap Indro tentang keputusannya menyerahkan hak cipta penggunaan nama Warkop DKI, dikutip Bintang.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR