Natasha Tontey: 'Makan Mayit' bukan bercanda

Satu sesi perjamuan "Makan Myit" pada 28 Januari 2017 di Footurama, Kemang Timur, Jakarta.
Satu sesi perjamuan "Makan Myit" pada 28 Januari 2017 di Footurama, Kemang Timur, Jakarta. | Samuel Evander /Dokumentasi "Little Shop of Horrors"

Natasha Gabriella Tontey (27) kerap disebut sebagai seniman muda potensial.

Paling tidak, Nylon Indonesia (November, 2016), menempatkannya dalam lis 30 seniman muda berusia di bawah 30. Namanya juga tercantum pada daftar 10 seniman muda Indonesia paling bersinar versi Detikcom (Desember, 2013).

Sejak 2008, Tontey pernah terlibat pelbagai pameran, antara lain: "Glosarium", Galeri Foto Jurnalistik Antara (2008); "Body Festival", Ruang Rupa (2013); "Pelicin", Jakarta Biennale (2013); "Youth of Today", Ruang Mes56 . Selama itu pula karyanya acap kali beroleh apresiasi positif.

Namun tidak demikian dengan proyek seni "Little Shop of Horrors", yang menawarkan sesi pertunjukan perjamuan makan malam bertajuk "Makan Mayit". Proyek itu menuai kritik dari khalayak internet sejak akhir pekan lalu.

"Makan Mayit" merupakan perjamuan makan malam dengan menu tak biasa. Ada camilan berbentuk janin, makanan yang disajikan dalam potongan-potongan boneka bayi, dan sajian horor lainnya.

Konon pula beberapa sajiannya menggunakan bahan tak lazim: ASI (Air Susu Ibu) dan keringat dari ketiak bayi.

Adapun "Little Shop of Horors" adalah hasil residensi Tontey di Koganecho Bazaar Yokohama, Jepang (2015). Dalam proyek itu, Tontey menghadirkan "Little Shop of Horrors", sebagai toko fiksi yang menawarkan pelbagai hal ihwal kisah horor lokal.

Di Indonesia proyek ini ditambahkan konsep "Makan Mayit" dan dipresentasikan di Footurama, Kemang Timur Raya, Jakarta.

Presentasi telah berlangsung sejak 28 Januari 2017. Khusus "Makan Mayit" ada dua sesi perjamuan yang dilakukan (28 Januari dan 25 Februari), dengan total partisipan 32 orang. Mulanya presentasi itu sekadar jadi perbincangan di lingkaran penikmat seni.

Kondisi berubah sejak akhir pekan lalu. Publikasi Instagram dari seorang pesohor dan akun kasak-kasuk, @lambeh_turah, telah memicu sorotan kepada Tontey. Rangkaian tudingan berdatangan: sang seniman dianggap "psikopat", karyanya dinilai "tak mendidik", dan semacamnya.

Beritagar.id bertukar surel dengan Tontey. Kami berbincang soal "Makan Mayit", serta respons sinis khalayak internet, Senin malam (27/2).

Kenapa mengangkat tema kanibal dalam "Makan Mayit"?
Ini berhubungan dengan minat saya untuk membahas ketakutan dengan hal yang lebih global. Dimulai dari hal-hal kecil untuk membahas sesuatu yang lebih besar dan pertanyaan saya akan ketakutan.

Mungkin ketakutan adalah ciptaan oknum tertentu untuk mengontrol ketakutan lain. Contoh paling dekat adalah larangan berbentuk ketakutan yang dibuat orang tua terhadap anak. Karena orang tua memiliki ketakutan tersendiri.

Atau isu-isu hantu dan teror yang dibuat oknum-oknum tertentu untuk mengontrol masyarakat.

Maksudnya merekonstruksi ketakutan?
Lebih tepatnya mengeksplorasi ketakutan dan mempertanyakan kembali lewat "Makan Mayit".

Saya melempar isu terhadap partisipan untuk membicarakan ketakutan yang lebih dalam dengan makan malam kanibalisme. Berdiskusi santai tentang asal usul kanibalisme. Apakah ada konstruksi moral yang mengatur kehidupan kita? Bagaimana konstruksi moral mengatur kehidupan kita?

Kenapa memilih bayi sebagai model presentasi, alih-alih bagian tubuh manusia dewasa, misalnya?
Dalam karya ini, saya menggunakan pendekatan fiksi dengan membuat cerita panti asuhan yang menjual bayi. Saya sebagai performer menjadi suster panti asuhan tersebut. Ini mengacu pada riset yang saya lakukan.

Salah satu foto sajian dalam "Makan Mayit". Diunggah oleh akun Instagram @abangsimpson dengan keterangan foto, "Let us feast on this delicious newborn".
Salah satu foto sajian dalam "Makan Mayit". Diunggah oleh akun Instagram @abangsimpson dengan keterangan foto, "Let us feast on this delicious newborn". | @abangsimpson /Instagram.com

Kenapa pakai ASI dan keringat bayi? Ada pesan khusus yang hendak disampaikan?
Saya ingin mempertanyakan hasrat kanibalisme di mulai dari mana? Karena ada konsep endocannibalism*, saya terinspirasi dari fenomena sosial itu.

*) Endocanibalisme adalah praktik memakan bagian tubuh manusia dari komunitas sosial yang sama.

Dari mana asal ASI dan keringat bayi? Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Yogya, sempat protes. Karena ada yang bilang bahan itu datang dari mereka...
Saya barusan membuat surat klarifikasi untuk AIMI Yogyakarta.*

*) Dalam klarifikasi, Tontey menjelaskan bahwa pihaknya tidak berhubungan dengan AIMI Yogya. Pun mengakui kesalahan salah seorang kolaborator "Makan Mayit" yang menyebut nama AIMI Yogya.

Banyak bayi butuh donor ASI, tetapi Anda malah menggunakannya dalam karya seni. Tidakkah itu kontras?
Menanggap soal ASI, beneran atau enggak. Jawaban iya atau tidak yah efeknya (kritik) mungkin akan sama saja. Sama kayak pertanyaan: apakah Supersemar atau 65 itu benar ada atau tidak?

Anda menyajikan "janin" yang dianggap menyinggung perempuan. Misalnya, mereka yang tengah kesulitan beroleh keturunan. Atau orang dengan trauma aborsi...
Saya tidak mengarah ke situ, awalnya. Namun kajiannya jadi lebih luas dan menjadi lebih menarik.

Ini ("Makan Mayit") bukan bercanda atau sesuatu untuk tampil beda saja. Seni punya potensi untuk membicarakan hal-hal yang dianggap tabu agar bisa dipahami bersama.

Saya enggak mau hanya menerima norma yang ada sebagai taken for granted. Saya punya pertanyaan tentang etis, moral, manusia dan banyak lagi. Karenanya acara ini saya buat sebagai platform berdialog.

Di Indonesia upaya seni untuk merekonstruksi ulang hal-hal yang tabu sudah banyak dilakukan dan memantik perdebatan. Karya seni punya potensi yang bisa memantik interpretasi yang berbeda-beda dan identitas personal membuat kita punya tafsir masing-masing.

Anda dituduh "psikopat", "cari sensasi", dan lain-lain...
Saya (justru) mempertanyakan apakah sifat psikopat itu dimiliki semua manusia. Mempertanyakan lagi hakikat dari psikopat dan kanibalisme.

Karya ini dibilang "menakutkan", "mengganggu", "tidak mendidik". Bahkan ada yang mencibir, "haruskah seni sampai sedemikian rupanya"...
Saya terinspirasi perkataan Jake and Dinos Chapman (duet seniman asal Inggris), bahwa seni itu bukan untuk yang indah-indah saja, tetapi harus mengganggu masyarakat.

Sebenarnya, hal yang saya lakukan juga bukan hal baru, ada minuman darah lucu-lucuan seperti yang dijual di bazar. Setelah peristiwa berakhir, setelah lima minggu pameran berlangsung, semua menuding saya psikopat dan sebagainya.

Anda puas dengan presentasi proyek ini, serta tanggapan publik atasnya?
Dalam persiapan dan presentasi saya tidak puas. Kalau soal reaksi sosial masyarakat, negatif atau positif, itu bagian dari medan berkesenian.

The cream cheese were made out of real breast milk with no offence and the sour dough breads were made with wild yeast with a hint of baby's armpit extract ???? • terima kasih telah #makanmayit dan minum darah suci ???????? bagi para tamu jamuan spesial ???? sebuah eksperimen makan malam dengan bahan susu asi dan sour dough dari keringat ketiak bayi ???? • An attempt to make a very special evening, at the limit of good taste: bespoke dinner as the approach to the cultural politics of cannibalism. The dishes will be served in frightful names. • #littleshopofhorrorsfooturama berterima kasih kepada sensei-sensei @suriaganda & @taufan_irawan ???????????? berhasil menghancurkan toko dan kantor 1212 ???????????????????????????????????????? • serta beribu ???????????? untuk rekan saya @elianurvista untuk susu grumpy insecure but very talented cook @hatcatffonz @ffonzandsons dan ???? untuk VJ paling icus @randyrais ngalahin younglex siapa itu ngga kenal aing • • • ???????????????? terima kasih kak @trisa_suriaganda atas piring-piring cantiknya ???????????? • ???????????????? tim dokumentasi @randyrais @cucimukadulusana & mas @NasrulAkbar • • ???????????? partai yuk kita partai buat guy behind the fetus puddings @marshalnaut • tentu saja ???? untuk @mar_galo @kenjenie @jirapahmusic @hilmihilmoi @whiteboardjournal @izzihusaini @alruslaan @naninimamonto ???????????????? @tuhanzilla @vantiani • • • tidak lupa ???? untuk @agendosa atas kiriman pondohnya. saya resmi jadi reseller cabang Jkt sudah izin sama reseller yang merugi Oom @antonismael_ • #footurama #freshfleshfeast #littleshopofhorrorsjp #tontey #natashagabriellatontey #freeformfabrication #pelecehanfooturama #necrophilia #cannibalism #breastmilk

A post shared by @roodkapje on

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR