FILM INDONESIA

Nirina dan Zara jadi Emak dan Euis kekinian dalam Keluarga Cemara

Nirina Zubir (kiri) dan Zara JKT48 berpose saat mendatangi kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (26/11/2018).
Nirina Zubir (kiri) dan Zara JKT48 berpose saat mendatangi kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (26/11/2018). | Muhammad Imaddudin Siregar /Beritagar.id

Keluarga Cemara, sinetron TV yang populer pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, bakal lahir kembali sebagai film layar lebar pada 3 Januari 2019 di bioskop. Pada masa itu, siapa orang Indonesia, terutama anak dan remaja, yang tak kenal dengan Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil, para tokoh utama.

Namun ternyata, dua tokoh utama versi layar lebar film ekranisasi novel berjudul sama karangan Arswendo Atmowiloto itu, mengakui bahwa mereka tidak dekat dengan versi sinetron yang tayang sebanyak 412 episode hingga 2006 itu.

Mereka adalah Nirina Zubir yang akan berperan sebagai Emak sang perekat keutuhan keluarga, dan Zara JKT48 yang menjadi Euis, si anak pertama yang tengah dalam proses pencarian jati diri.

Ketika berkunjung ke kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2018), Nirina (38) dan Zara (15) menyatakan belum pernah menyaksikan sinetron tersebut.

Saat sinetronnya tayang pertama kali pada 1995, Zara belum lahir. Dara kelahiran Bandung ini baru berusia 2 tahun saat sinetronnya tamat.

“Kemarin, begitu tahu dapat peran Euis disini, aku berusaha cari gitu, mau nonton, ternyata susah untuk mencari yang versi full, jadi cuma ada cuplikan-cuplikannya saja, paling lihat yang pas Euis bilang opak, yang teriak, ‘opak… opakkk…’,” ungkap Zara.

Kisah Nirina lain lagi. Ayahnya, Zubir Amin, adalah seorang diplomat yang kerap ditugaskan ke berbagai negara. Nirina lahir di Madagaskar pada 1980 dan menghabiskan masa kecilnya hingga remaja di berbagai negara termasuk Hong Kong.

Perempuan yang menyebut dirinya “Na” ini mengaku tak membayangkan kalau Keluarga Cemara sangat populer di Indonesia. Begitu ia mendapatkan peran ini, orang-orang di sekitarnya langsung menegaskan betapa terkenalnya sinetron garapan Arswendo Atmowiloto ini.

“Setiap kali orang-orang ngomongin Keluarga Cemara tuh mereka langsung bilang, ‘Wah, itu pengalaman gue SD lah, SMP lah, SMA lah’, everyone notice about Keluarga Cemara, jadi buat Na itu rasanya deg-degan dan segala macam,” ujar Nirina.

Tak pernah menonton tak jadi masalah. Rupanya Nirina dan Zara tak harus mengikuti Emak dan Euis versi sinetron, yang dulu diperankan masing-masing oleh Novia Kolopaking dan Ceria Hade.

Nirina dan Zara berkiblat kepada Yandy Laurens, sang sutradara, yang ingin menampilkan versi kekinian dari karakter-karakter Keluarga Cemara.

“Kekinian dalam arti sekarang yang terjadi seperti apa, dan orang tua zaman sekarang tuh kayak bagaimana sih menghadapi anaknya,” jelas Nirina.

Setelah mengetahui perannya bakal seperti apa, Nirina dan Zara ditugaskan Yandy untuk menampilkan kekompakan dengan Ringgo Agus Rahman (pemeran Abah) dan Widuri Putri Sasono (pemeran Ara si anak kedua) sebagai sebuah keluarga. Rupanya ini cenderung mudah.

“Sebelum reading itu kan biasanya ada games dulu kan, jadi dari situ mulai dekat, apalagi Ara di situ dia masih malu-malu banget,” ungkap Zara. “Karena kita semua orangnya bocor, ya orang tua kan menurun ke anak kan,” lanjut perempuan bernama lengkap Adhisty Zara ini.

Nirina juga mengaku cukup mudah menampilkan chemistry dengan “anak-anaknya”. Yang sulit justru berhadapan dengan Ringgo. Padahal keduanya sudah sering kerja bareng sejak tampil bersama dalam Get Married (2007) dan Kamulah Satu-satunya (2007).

“Aku sama Ringgo tuh sudah sangat dekat banget, bahkan terlalu dekat. Kami tuh kayak saudara,” ungkap Nirina.

“Tapi kan di sini sebagai suami istri. Kalau jambak, jenggut-jenggutan bisa, nyakitin bisa, tapi kalau sayang gak bisa,” lanjut Nirina sambil tergelak. Akhirnya Nirina dan Ringgo memutuskan untuk melupakan kalau mereka bersahabat.

“Kami ngomong kayak begini. ‘Ya sudah ya.. kita lupain apa yang pernah kita lewatin, sejauh apa kita bersahabat, sejauh apa saya tahu tentang kamu, kamu tahu tentang saya, kita disini sebagai suami istri, kita mulai dari nol ya. Jadi, kesampingkan semua rasa ya.’,” jelas Nirina.

Soal kekeluargaan, perempuan berdarah Minang ini mengaku bahwa sekarang mereka berempat sudah seperti keluarga betulan.

“Kami kan hampir 80 persen syuting di Puncak ya, di luar kota, jadi kebersamaannya tuh terasa banget, bangun pagi, sarapan bareng, sampai makan tengah malam bareng-bareng, begadang,” tutup Nirina.

Versi layar lebar Keluarga Cemara produksi Visinema Pictures ini akan bercerita masa sebelum Abah dan sekeluarga pindah ke Sukabumi. Saat itu Abah masih menjadi seorang pengusaha kaya sehingga kehidupan mereka amat berkecukupan.

Walau baru tayang di bioskop pada 3 Januari 2019, Keluarga Cemara telah ditayangkan perdana pada ajang Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018 yang berlangsung 27 November hingga 4 Desember.

BACA JUGA