Nobel untuk Bob Dylan dan polemik yang mengiringinya

Bob Dylan saat tampil di Grammy Awards 2011.
Bob Dylan saat tampil di Grammy Awards 2011. | Matt Sayles/AP Photo

Penganugerahan Nobel Kesusastraan 2016 menghadirkan kejutan, juga memantik sedikit polemik. Untuk pertamakalinya sejak Nobel diberikan pada 1901, seorang musikus terpilih sebagai pemenang. Dia adalah Bob Dylan.

Nama Dylan (75) diumumkan oleh Swedish Academy, lembaga yang memberikan penghargaan Nobel Kesusastraan, Kamis (13/10/2016). Dengan demikian, hadiah berupa medali emas, gelar diploma, sertifikat, dan uang SEK8 juta (Rp11,8 miliar) juga berhak dimilikinya.

"Dia seorang penyair besar dalam tradisi berbahasa Inggris. Selama 54 tahun berkarier, Bob Dylan terus menciptakan sesuatu dan identitas baru," ujar Sekretaris Swedish Academy Sara Danius dilansir BBC News (13/10).

Apa yang dikatakan Danius memang sukar untuk disangkal. Lirik-lirik lagu puitis milik Dylan sungguh membius. Gaby Wood dari The Telegraph menulis bahwa reputasi "Mr. Tambourine Man" bahkan melebihi beberapa mantan pemenang Nobel.

"Dylan memiliki rentang yang lebih luas dibanding novelis Patrick Modiano, semangat politiknya melebihi Alice Munro, dan memberi pengaruh global melampaui, katakanlah, Tomas Transtromer," tulis Wood.

Pun demikian, hingga artikel ini ditulis (14/10), belum ada sepatah-dua patah kata yang meluncur dari mulut Dylan maupun juru bicaranya terkait keberhasilan mendapat hadiah Nobel.

Menyitir laman wsj.com yang mencuplik pernyataan Direktur Administratif Swedish Academy Odd Zschiedrich, Dylan adalah orang Amerika Serikat pertama yang kembali meraih Nobel setelah novelis Toni Morrison terakhir meraihnya pada 1993.

Prestasi tersebut tak ayal membuat Presiden AS Barack Obama ikut melayangkan pujian. "Selamat kepada salah satu penyair favoritku, Bob Dylan. Anda sangat layak dapat Nobel," tulis sang presiden melalui akun Twitter @POTUS (14/10).

Dalam lima dekade perjalanan karier bermusiknya, Dylan telah menghasilkan puluhan album dan bertumpuk penghargaan. Dia bahkan dianggap mewakili generasinya. Lagu "Blowin' in the Wind" (1962) dan "The Times They Are a-Changin" (1964) menjadi lagu kebangsaan untuk menyuarakan hak-hak sipil dan gerakan perdamaian menolak perang di AS.

Barisan karya dan karisma Dylan pada akhirnya berdampak bagi musisi seangkatan atau di bawahnya. Namanya dielu-elukan dan menjadi idola. Iwan Fals adalah salah satu musikus yang terinspirasi Dylan.

Polemik terpilihnya Bob Dylan

Ada yang memuji, tak sedikit pula yang mengkritisi. Tentu saja bukan menggugat reputasi Dylan sebagai penyanyi dan pencipta lagu. Tapi lebih menyoroti kinerja 18 anggota komite juri Swedish Academy.

Simaklah kicauan novelis Jodi Picoult (58) dalam akun Twitter resminya, @jodipicoult. "Saya ikut senang dengan terpilihnya Bob Dylan. Artinya saya juga bisa menang Grammy?"

Atau pendapat Rabih Alameddine (57), penulis blasteran Lebanon-AS, juga melalui medium Twitter. "Bob Dylan memenangkan Nobel Sastra hampir sama konyolnya dengan keberhasilan Winston Churchill," tulisnya.

Grammy yang dimaksud Picoult merujuk pada acara penghargaan musik bergengsi di AS yang telah 12 kali dimenangi Dylan. Sementara Churchill adalah mantan perdana menteri Inggris periode 1940-1945 dan 1951-1955.

Churchill dianggap menang Nobel Kesusastraan pada 1953 sebagai "hadiah" karena telah berhasil membebaskan Eropa dari cengkraman Nazi selama Perang Dunia II. Sungguhpun ia juga menulis beberapa buku, antara lain enam volume "The Second World War".

Beberapa hari sebelum penganugerahan edisi 2016, menurut The Guardian (6/10), novelis masyhur Jepang, Haruki Murakami, memang paling dijagokan oleh para petaruh di rumah judi Ladbrokes. Namanya ada di posisi atas dengan bursa 1/4.

Menyusul kemudian penyair Ali Ahmad Said Esber alias Adonis (6/1), Philip Roth (7/1), Ngugi wa Thiong'o (10/1), dan Joyce Carol Oates (14/1). Ketiga nama terakhir adalah novelis.

Kemenangan Dylan seperti mengulang kisah tahun lalu. Saat itu, secara mengejutkan nama Svetlana Alexievich (68) diumumkan sebagai peraih Nobel Kesusastraan.

Jurnalis asal Belarusia yang pernah menulis esai tentang tentang korban nuklir di Chernobyl, Ukraina, berjudul "Voices from Chernobyl" (1999) menyisihkan Murakami, Thiong'o, dan Roth yang digadang-gadang.

Terpilihnya Dylan sekaligus merombak kebiasaan lama para komite juri Nobel Kesusastraan. Selama ini kemenangan hanya untuk para penulis prosa, puisi, dan drama yang masuk kategori karya sastra fiksi. Juga penulis biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra yang masuk bagian sastra nonfiksi.

Jika memahami kesusastraan sebagai cabang seni yang menggunakan bahasa sebagai medium, maka benarlah perkataan penyair Billy Collins (75). "Larik lagu Bob Dylan adalah halaman tersendiri karena tetap bermakna bahkan tanpa harmonika, gitar, dan suaranya yang sangat khas. Saya pikir dia memenuhi syarat sebagai penyair."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR