FILM INDONESIA

Ongkos produksi Foxtrot Six mencapai Rp70 miliar

Sebuah adegan dalam film Foxtrot Six
Sebuah adegan dalam film Foxtrot Six | MD Pictures

Foxtrot Six adalah film yang spesial. Mengusung genre action thriller, film garapan sutradara Randy Korompis ini diproduseri oleh Mario Kassar --sosok di balik film-film Hollywood laris seperti First Blood (1972), Total Recall (1990), dan Terminator 2: Judgement Day (1991).

Ongkos produksinya pun sangat tinggi, diklaim mencapai AS $5 juta AS alias sekitar Rp70,38 miliar. Bahkan, kemungkinan besar Foxtrot Six merupakan film Indonesia dengan bujet terbesar sepanjang sejarah.

"Kalau dari budget-nya dulu, ini sangat-sangat tinggi, tadi lagi bicara total berapa sih, hampir USD5 juta itu Rp70 miliar, biaya produksi," ungkap Manoj Punjabi, presiden MD Pictures kepada Medcom.id dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Angka di atas Rp70 miliar memang terdengar sangat tinggi. Apalagi jika ukurannya film lokal. Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018) sudah termasuk sangat tinggi dengan biaya produksi ditaksir Rp40 miliar.

Seperti tindakan MD Pictures terhadap Foxtrot Six, rumah produksi Lifelike Pictures pun menggandeng perusahaan internasional Fox International Productions --perpanjangan tangan rumah produksi terkemuka dari Hollywood, 20th Century Fox, untuk membuat film Wiro Sableng.

Film lain yang juga berongkos besar adalah The Raid 2: Berandal (2014), yang juga merupakan hasil kolaborasi rumah produksi lokal dengan sineas luar. Dalam hal ini, sutradara Gareth Evans asal Inggris. Film yang dibintangi Iko Uwais itu memakan biaya hingga Rp54 miliar.

Dari semua film lokal berskala internasional yang disebut di atas, angka Rp70 miliar untuk Foxtrot Six memang paling besar. Namun, agak susah untuk menyebutnya sebagai film termahal Indonesia sepanjang masa.

Sebab, jarang ada rumah produksi lokal yang berani buka-bukaan soal biaya produksinya. Lagipula, masih ada faktor lain yaitu biaya promosi atau pemasaran.

Andaikan menyebut biaya produksi, biasanya tak termasuk biaya promosi atau pemasaran untuk memperkenalkan film tersebut. Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (2016) adalah kasus langka.

Falcon Pictures, produser film terlaris sepanjang masa di Indonesia itu, berani mengungkap ongkos produksinya yang “hanya” Rp10 miliar. Tapi dukungan biaya promosinya mencapai Rp15 miliar.

Namun tak semua pembuat film mau buka suara. Mereka memang tak diwajibkan untuk itu. Tak seperti industri Hollywood, yang ongkos produksi film-filmnya dengan mudah bisa ditelusuri di berbagai situs seperti IMDB.

Rumah produksi di industri Hollywood biasanya merupakan sebuah perusahaan yang sudah go public di lantai bursa saham. Mereka pun punya kewajiban kepada investornya, dalam hal ini soal ongkos produksi film.

"Kalau rumah produksi luar, ada banyak pihak yang terlibat sebagai pemodal. Sehingga mereka harus mengumumkan berapa biaya produksi. Sedangkan di Indonesia rumah produksi itu biasanya memakai biaya sendiri tanpa investor," ujar Kemala Atmojo, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), kepada CNNIndonesia.com (15/9/2016).

Selain itu, rupanya rumah produksi di Indonesia lebih suka main aman. Jika biaya produksi diketahui khalayak, akan ketahuan apakah mereka merugi atau tidak. Ini berhubungan dengan citra perusahaan.

"Perusahaan harus punya rencana dan citra. Kalau terlalu kecil (biayanya) takut dibilang itu film kecil. Kalau terlalu besar tiba-tiba filmnya enggak berhasil, takutnya malu juga. Jadi mereka lebih ke strategi building image-nya saja," ujar Anggy Umbara, sutradara Warkop DKI Reborn.

Siap tayang di negara lain

Dengan memajang biaya ongkos produksi yang sangat besar, apakah MD Pictures sangat yakin bahwa Foxtrot Six akan sukses? Apalagi, kans menjaring penonton kian kecil karena film ini punya klasifikasi 21 tahun ke atas.

“Saya kira itu keberanian yang luar biasa dan mudah-mudahan film ini bisa jadi benchmark, jadi orang mau bikin film mahal yang ada value kita bisa fight, go international,” ujar Manoj.

Jadi, seandainya tak laku di negeri sendiri, Foxtrot Six masih bisa mencari laba di luar negeri atau melalui penayangan di platform pengaliran video.

"Kami sekarang menunggu waktu rilis di Indonesia, kami berharap akan (dapat sambutan) sangat baik. Kami sudah mempersiapkan strategi di Amerika, ada banyak studio yang ingin melihat film ini juga beberapa perusahaan OTT seperti Netflix dan lainnya. Jadi kesepakatan akhir belum selesai, kami memiliki banyak opsi, syukurlah," ungkap Kassar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR