KRITIK FILM

Overlord menurut para kritikus

Penampilan aktor Wyatt Russell dalam film Overlord
Penampilan aktor Wyatt Russell dalam film Overlord | Peter Mountain /Paramount Pictures

Overlord sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak Rabu (7/11/2018). Dari berbagai materi promosinya, film ini menjual nama besar J.J. Abrams, sutradara Star Trek (2009) dan Star Wars: The Force Awakens (2015).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah Overlord semenarik dua film itu?

Meski namanya dipajang cukup mencolok dalam poster Overlord, Abrams hanya bertindak sebagai produser. Sutradaranya adalah Julius Avery, seorang sineas kelahiran Australia. Overlord adalah film kedua Avery.

Setelah serangkaian film pendek, Avery membuat film panjang pertamanya pada 2014 dengan judul Son of A Gun. Setelah Overlord, ia dipercaya 20th Century Fox untuk membuat produksi ulang Flash Gordon.

Overlord berlatar pada Perang Dunia II, tepatnya menjelang operasi Pendaratan Normandia yang dilakukan oleh Sekutu. Para penerjun payung Amerika Serikat dijatuhkan di garis depan untuk melakukan misi krusial.

Ketika pasukan itu mencapai target, mereka mulai menyadari bahwa ancaman di lokasi tak hanya tentara Nazi. Mereka harus mempertahankan diri menghadapi sebuah kekuatan supernatural, bagian dari eksperimen Nazi.

Menurut kritikus yang ulasannya terkepul dalam Rotten Tomatoes, film Overlord terbilang sedang-sedang saja. Skor Tomatometer-nya memang mencapai 90 persen; dari 39 kritikus hanya empat yang menganggapnya jelek. Namun, nilai rata-ratanya hanya 6,7 dari 10 poin.

“Sebagian film ini adalah drama perang, sebagian lagi thriller soal zombie, sisanya banjir darah. Overlord menawarkan level kesenangan tingkat A bagi para penggemar film kelas B,” tulis Rotten dalam kesimpulan kritiknya.

Satu alasan film ini tergolong kelas B karena bintang-bintangnya tidak ada yang terdengar familiar, kecuali Jovan Adepo yang memerankan anak Denzel Washington dalam Fences (2016).

Kritikus Amy Nicholson dari Variety membandingkan Overlord dengan Inglourious Basterds (2009), film garapan Quentin Tarantino yang juga berlatar Perang Dunia II dan membawa unsur banjir darah, meski tidak ada zombie.

Overlord bermain bebas dan seenaknya dengan sejarah Perang Dunia II,” tulis Nicholson. Inglourious Basterds juga melakukan hal yang sama, terutama di bagian akhir film.

Jika akhir Inglourious Basterds cukup menghentak, hal itu tak terjadi pada Overlord. “Film ini diproduksi J.J. Abrams, yang suka bikin film dengan belokan cerita, tapi tak semengejutkan yang ia pikir,” kritik Nicholson.

Sean Mulvihill dari Fanboy Nation setuju dengan Nicholson. “Monster Nazi melawan tentara Amerika dapat jadi genre yang menarik, tapi Overlord kacau dan penuh klise, hingga kerap monoton dan mudah tertebak, kurang masuk akal dan imajinasi.”

“Film ini bahkan mencoba memasukkan unsur jump scare (adegan mengagetkan) yang dibuat secara kaku, sehingga penonton bisa menebaknya. Tidak menyeramkan, tidak mengguncang. Membosankan,” sambung Mulvihill.

Kalyn Corrigan dari Indiewire paham kalau Overlord hanyalah film kelas B. “Overlord mampu memuaskan ekspektasi sebagai film ‘pelarian’, bahkan ketika digali lebih jauh. Film ini adalah sebuah alternatif yang kebanyakan film bahkan tidak mau mencobanya,” puji Corrigan.

Bagi para penyuka film dengan adegan berdarah-darah, kemungkinan akan menyukai Overlord. Di Amerika Serikat, Overlord diberi rating R karena kekerasan penuh darah, adegan yang mengganggu, bahasa kasar, dan sekilas konten seksual. Lembaga Sensor Film Indonesia memberi rating “17+” untuk film berdurasi 108 menit ini.

Beberapa kritikus mengkonfirmasi hal ini, termasuk Trace Thurman dari Bloody Disgusting. “Jika Anda mencari film banjir darah Nazi, Anda pasti akan menemukan hal yang bakal disukai dalam film ini.”

“Dari adegan pembuka, darah tak pernah berhenti berkucuran. Meski sebagian besar merupakan hasil efek CGI, ada beberapa adegan cemerlang yang menggunakan efek praktikal,” tulis Thurman.

OVERLORD (2018)- Official Trailer - Paramount Pictures /Paramount Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR