PENTAS SENI

Pemburu Utang, ketika si miskin tetap diperas oleh negara

Sebuah adegan dalam lakon Pemburu Utang.
Sebuah adegan dalam lakon Pemburu Utang. | Muhammad Imaduddin Siregar /Beritagar.id

Program Indonesia Kita sukses menggelar lakon bertajuk Pemburu Utang. Pentas ke-34 dari program yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu diselenggarakan pada 1-2 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Digawangi oleh trio seniman kreatif Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto, Pemburu Utang adalah sebuah sindiran atas fenomena dalam masyarakat, ketika orang-orang yang sudah miskin pun tetap diperas harta bendanya.

Apa yang terjadi ketika sebuah negara dinyatakan bangkrut karena utang yang terlalu menumpuk? Rakyat adalah pihak yang turut menanggung utang. Setiap warga negara yang masih memiliki aset dan kekayaan diwajibkan membayar utang.

Karena situasi seperti itu maka seluruh rakyat memilih untuk menjadi miskin. Semua beramai-ramai membangkrutkan diri dan lebih memilih hidup menggelandang atau menjadi pengemis. Namun, sudah jadi miskin pun mereka tetap didenda.

Ketua perkumpulan orang miskin bernama Marwoto lantas membentuk petugas "Pemburu Utang" yang bertugas menyita apapun barang berharga yang masih tersisa; dari uang, emas, panci, gayung, atau barang apapun. Marwoto bahkan tidak segan-segan memeras air mata orang miskin sebagai pajak.

Hal ini semakin diperparah fakta bahwa ketika banyak yang menderita, selalu ada pihak-pihak jahat yang mengambil keuntungan dari penderitaan itu.

Penampilan Cak Lontong (kiri) dan Akbar dalam lakon Pemburu Utang
Penampilan Cak Lontong (kiri) dan Akbar dalam lakon Pemburu Utang | Muhammad Imaduddin Siregar /Beritagar.id

Cak Lontong dan Akbar adalah sahabat sejak kecil. Begitu dewasa, keduanya berbeda nasib. Cak Lontong jadi kaya karena ia diangkat sebagai pejabat, sementara Akbar hanya jadi pedagang asongan.

Ketika Akbar terus mengeluhkan nasibnya, Cak Lontong memutuskan untuk “bertukar nasib” dengan sahabatnya. Akbar jadi pejabat yang kaya raya, sementara Cak Lontong jadi orang miskin. Rupanya ada udang di balik batu. Cak Lontong ternyata punya niat jahat.

Ia dan Marwoto berniat memasukkan uang hasil tagihan rakyat miskin ke kantong mereka sendiri. Niat jahat ini diendus oleh Akbar.

Akbar pun berusaha membongkar kejahatan Cak Lontong dan Marwoto ke hadapan masyarakat. Ndilalah, tak ada yang percaya. Cak Lontong dan Marwoto malah menuduh Akbar mau merampok uang tersebut. Akbar pun dihukum gantung.

Selain Cak Lontong, Akbar, dan Marwoto, lakon Pemburu Utang juga dibintangi oleh Mucle, Inaya Wahid, Yu Ningsih, Endah Laras, Sruti Respati, Heny Janawati, Encik Krishna, Wisben, Joned, Odon Saridon, dan Kiki Narendra.

Seperti biasa, tiap lakon Indonesia Kita selalu dihiasi tari dan nyanyi. Lantunan dari suara merdu Sruti Respati, Heny Janawati, Endah Laras, dan Encik Krishna terdengar di seantero Graha Bhakti Budaya yang dipenuhi penonton.

Endah Laras menyanyi diiringi tarian oleh kelompok Josh Marcy Company
Endah Laras menyanyi diiringi tarian oleh kelompok Josh Marcy Company | Indra Rosalia /Beritagar.id

Di antara ratusan penonton yang datang pada Jumat (1/11/2019), ada beberapa nama besar di panggung politik seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan mantan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri.

“Kami memang rada sensi kalau ngomongin utang,” ujar Sri Mulyani, yang diminta Butet untuk naik ke panggung setelah lakon selesai. “Makanya banyak (pejabat) eselon satu yang saya ajak nonton, terutama yang ngurusi utang,” ujar perempuan yang baru saja dipilih Presiden Joko Widodo untuk jadi Menkeu dalam kabinet Indonesia Maju 2019-2024 itu.

Sri, Lukman, dan Hanif sama-sama menyatakan bahwa Pemburu Utang banyak memiliki sentilan politik yang dibumbui humor. Ada beberapa hal yang disindir, seperti buku merah KPK, bersatunya dua kubu yang berseteru dalam Pemilu 2019, hingga persoalan Presiden yang enggan menerbitkan Perppu KPK.

“Bagi saya pribadi, banyak yang menyentil. Malam hari ini kita mendapat satu cerita yang sangat bermakna tentang kondisi sosial, tentang kemiskinan, dan pesan-pesan kepada kita yang masih mengurusi negara untuk tidak lupa pada tujuan utama, yaitu mengurus rakyat," ujar Sri Mulyani.

Pemburu Utang menjadi penutup lakon Indonesia Kita pada 2019. Menurut Butet Kartaredjasa, kemungkinan Pemburu Utang juga jadi lakon terakhir Indonesia Kita yang digelar di Graha Bhakti Budaya.

“Kami akan mencari tempat baru, belum tahu di mana,” ujar Butet. Alasannya adalah Taman Ismail Marzuki yang sedang direnovasi besar-besaran, juga kondisi Jalan Cikini dan sekitarnya yang masih amburadul karena perbaikan trotoar.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media program Indonesia Kita.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR