FILM INDONESIA

Perdebatan alot soal kostum dalam film Bumi Manusia

Sebagian tokoh-tokoh yang hadir dalam film Bumi Manusia
Sebagian tokoh-tokoh yang hadir dalam film Bumi Manusia | Yusuf Yudo/Falcon Pictures

Ekranisasi Bumi Manusia akhirnya menjadi kenyataan. Adalah Hanung Bramantyo yang menyutradarainya dengan sokongan rumah produksi Falcon Pictures. Prosesnya tentu saja melewati perdebatan alot.

Perdebatan yang terjadi itu merupakan imbas dari kepentingan orisinalitas merujuk sejarah dengan standar estetika tertentu untuk menunjang nilai komersial.

Salah satu titik perdebatan alot dalam film ini terkait kostum yang digunakan para pemain. Pramoedya Ananto Toer menulis novel Bumi Manusia mengambil latar waktu era 1890-an hingga 1920-an. Masa ketika Belanda menjajah Tanah Air.

Kepada Beritagar.id yang menemuinya usai peluncuran trailer film Bumi Manusia di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, awal Juli 2019, Hanung kukuh ingin menampilkan Nyai Ontosoroh (diperankan Sha Ine Febriyanti) mengenakan kebaya putih dan jarik sogan yang didominasi warna cokelat dan hitam.

Alasannya karena sesuai dengan hasil riset yang telah dilakukan Hanung dan timnya sejak membuat film Sang Pencerah (2010), film biografi drama tentang sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah asal Yogyakarta.

Menyutradarai film berlatar belakang sejarah Nusantara memang bukan kali pertama dilakukan Hanung, mulai dari Soekarno (2013), Kartini (2017), hingga Sultan Agung (2018).

“Saya sudah melakukan riset sejarah Indonesia bersama tim sejak membuat film Sang Pencerah. Untuk kebutuhan Bumi Manusia, kami tinggal membuka kembali temuan riset terdahulu,” ungkapnya.

Bagian paling menantang dari temuan hasil riset tadi adalah bentuknya yang berupa foto-foto hitam putih.

“Harus kami beri warna. Alhasil masing-masing pihak punya interpretasi sendiri. Di sini muncul perdebatan. Kalau selera saya merujuk warna-warna gelap dan kusam, tetapi pihak produser memiliki pandangan lain,” kata sineas berusia 43 ini.

Ditambahkan Hanung, produser ingin film Bumi Manusia tetap harus vintage, tapi jangan sampai memberikan kesan jadul (jaman dulu). Pasalnya film ini bagaimana pun hendak mengenalkan karya-karya Pram kepada remaja kekinian yang serba modern.

Salah satu contoh perdebatan mereka terkait warna kebaya yang dikenakan Nyai Ontosoroh.

Berdasarkan hasil riset yang ditemukan Hanung bersama timnya, perempuan Jawa pada masa Bumi Manusia mengenakan kebaya putih.

“Nyai pada zaman itu selalu digambarkan memakai kebaya warna putih, bawahannya jarik. Enggak bisa diwarnai kuning, hijau, segala macam. Sementara produser menginginkan tetap berwarna. Debatnya lumayan panjang,” cerita Hanung.

Kesepakatan yang terjadi kemudian, tetap mengenakan kebaya putih, tapi model jariknya menggunakan yang lazim digunakan oleh orang-orang di daerah pesisir pantai utara Jawa.

Pola dan penggunaan warna pada jarik di wilayah pesisir pantai utara Jawa dikenal lebih beragam. Berbeda dengan jarik sogan asal Yogyakarta dan Solo yang biasanya didominasi warna hitam dan cokelat.

“Ini pilihan paling pas mengingat Nyai Ontosoroh juga tidak berasal dari Solo,” pungkas Hanung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR