FILM INDONESIA

Perjalanan dari Sephia menjadi Generasi 90an: Melankolia

Jajaran sutradara, produser, dan produser eksekutif film Generasi 90an: Melankolia
Jajaran sutradara, produser, dan produser eksekutif film Generasi 90an: Melankolia | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Ekranisasi buku Generasi 90an oleh Visinema Pictures sebelum dinyatakan mendapat tambahan judul Melankolia seperti sekarang, pada awalnya hanya mengusung tajuk Sephia.

Hal itu sempat tercantum saat studio film ini merilis “timeline of theatrical release” beberapa proyek film mereka hingga 2020. Tempat pengumumannya berlangsung di Hotel GranDhika Iskandarsyah, Jakarta Selatan (24/5/2019).

Dalam kesempatan tersebut, M. Irfan Ramli selaku penulis naskah dan sutradara mengaku judul Sephia terinspirasi dari lagu Sheila on 7, band asal Yogyakarta yang pada akhir era 90an sempat mendapat julukan “band sejuta copy”.

Lagu yang termuat dalam album Kisah Klasik untuk Masa Depan itu berkisah tentang sosok kekasih gelap bernama Sephia.

Seiring perjalanan waktu, dengan segala pertukaran ide dan gagasan yang menyertainya, pihak Visinema memutuskan bahwa penggunaan Sephia semata sebagai judul film tidak lagi relevan.

Ada banyak hal-hal baru yang masuk. Ini merupakan keniscayaan yang terjadi dalam ranah kreatif. Lumrah terjadi.

Pasalnya, dikisahkan Angga Sasongko selaku eksekutif produser, film yang segera mereka garap untuk memenuhi tenggat rilis pada 2020 itu kini tak hanya terinspirasi dari lagu "Sephia".

“Proyek ini tadinya memang cuma berisi satu lagu. Seiring waktu saya ketemu Piyu (gitaris Padi, red.) yang mengaku tertarik dengan proyek ini. Demikian juga kelompok Dewa,” ungkap Angga saat menggelar konferensi pers di Kantor Visinema Group, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan (13/9).

Hasil pertemuan dengan pentolan kelompok Padi dan Dewa tersebut membuat Ipang, sapaan akrab Irfan Ramli, bersama tim penulis di Visinema melebarkan lagi struktur penceritaan film ini.

Diakui Angga, jika hanya berpatokan pada satu lagu milik musisi atau band saja, ibarat mengulang pendekatan yang sudah mereka lakukan dalam film Surat dari Praha (2016).

“Waktu itu kami bikin perayaan 20 tahun berkaryanya Glenn Fredly. Menggunakan tiga lagunya Glenn yang tidak terlalu dikenal publik karena bukan merupakan single. Istilahnya B-Sides kalau masih zaman kaset pita. Lewat lagu-lagu tersebut kami bikin jalan cerita,” lanjut Angga.

Sementara sejak awal Angga menginginkan Visinema sebisa mungkin terus menjamah kemungkinan-kemungkinan baru dalam ranah penceritaan.

Alhasil dari yang semula hanya terinpirasi dan berisi tokoh bernama Sephia, hadir dua sosok lain, yaitu Indah dan Kirana, sebagai bentuk mewujudnya lagu “Begitu Indah” milik grup Padi dan “Kirana” oleh Dewa.

Secara berurutan tiga sosok kunci tadi akan diperankan Taskya Namya, Aghniny Haque, dan Jennifer Coppen.

Proses pengembangan cerita terus berlanjut. Dalam kesempatan lainnya, Visinema kemudian bertemu Marchella FP.

Pertemuan yang awalnya untuk mengadaptasi buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini itu memunculkan gagasan baru. Mengangkut buku karya Chella lainnya yang berjudul Generasi 90an ke dalam film yang awalnya hendak dinamai Sephia tadi.

Visinema dengan jeli melihat kelindan antara tiga lagu hit pada zamannya itu dengan buku karangan Chella. Paling kasat mata tentu saja unsur dekade 90an yang menaungi keempat titik tersebut.

“Perubahan dari Sephia menjadi Melankolia, lalu sekarang Generasi 90an: Melankolia adalah bukti bahwa sepanjang proses pengembangan proyek ini ada banyak nilai-nilai baru yang masuk,” pungkas Angga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR