FESTIVAL FILM

Plaza Indonesia Film Festival 2019 berjubel penonton

Sutradara, produser, dan para pemain yang filmnya diputar dalam Plaza Indonesia Film Festival mulai 14-17 Februari 2019
Sutradara, produser, dan para pemain yang filmnya diputar dalam Plaza Indonesia Film Festival mulai 14-17 Februari 2019 | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Rutin terselenggara sejak 2015, Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) yang menghadirkan pemutaran dan klinik film ternyata kian menyita perhatian publik.

Terbukti dalam penyelenggaraan tahun kelima yang berlangsung 14-17 Februari 2019, tiket menonton semua film yang akan diputar telah berstatus sold out alias ludes.

Hal tersebut diungkapkan Astri Abyanti Permatasuri dalam konferensi pers pembukaan PIFF di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019).

"Ini pertama kalinya terjadi. Tiket menonton film-film di PIFF ludes hanya dalam waktu satu jam sejak kami buka pada 1 Februari lalu. Rerata ada sekitar 700 orang yang masuk daftar tunggu untuk setiap film," ujar Astri, General Manager Marketing Level 4, 5, 6 Plaza Indonesia.

PIFF terpaksa tidak bisa mengakomodir semua calon penonton yang berjubel. Pasalnya mereka hanya menyediakan satu layar dan satu jam pemutaran di XXI untuk masing-masing film.

Sementara kapasitas kursi di studio 1 yang jadi tempat pemutaran hanya bisa memuat sekitar 200 orang.

Barisan penonton yang terpaksa menempati kursi deretan terdepan dengan layar juga tak hirau leher mereka pegal karena mendongak sepanjang durasi.

Kesempatan menonton film-film di PIFF terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

PIFF yang tahun ini mengusung tema “Love, Live, and Life” menyuguhkan 12 film dari Indonesia dan mancanegara.

Semua datang berbekal prestasi sebagai peserta, pemenang, atau official selection festival-festival film.

Jumlah antara film panjang dan pendek sama banyaknya. Untuk berkesempatan menonton, tidak dikenakan biaya alias gratis. Prinsipnya hanya siapa cepat daftar, dia yang dapat.

Status daftar tunggu tersematkan bagi mereka yang kalah cepat saat mendaftar. “Kami sengaja tidak menambah jumlah layar atau jam pemutaran film karena festival ini sifatnya hanya pemantik,” lanjut Astri.

Harapannya film-film pengisi acara PIFF bisa mendulang lebih banyak penonton saat nanti resmi tayang di jaringan bioskop.

Tiga film panjang Indonesia yang terputar di PIFF, yaitu Ave Maryam (tayang 14/2), 27 Steps of May (15/2), dan Kucumbu Tubuh Indahku (16/2), belum tayang resmi di jaringan bioskop. Hal tersebut jadi magnet orang berbondong ingin menonton.

Faktor penarik lain, semua film yang ditayangkan belum melalui gunting sensor. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, PIFF melakukan diskusi panjang dengan Lembaga Sensor Film.

“Alasan pertama karena ini untuk konsumsi festival film yang sifatnya terbatas. Juga kami meyakinkan ada pemeriksaan tanda pengenal. Jadi mereka menonton sesuai klasifikasi usia yang disyaratkan film bersangkutan,” pungkas Astri.

Semua film panjang yang terputar di PIFF memang bukan konsumsi penonton untuk semua umur.

Ada batasan usia sesuai konten yang terkandung pada masing-masing film.

Film Ave Maryam, misalnya. Tertulis di buklet untuk kalangan 21 tahun ke atas. Pun dengan Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho. Sementara 27 Steps of May yang dibintangi Raihaanun khusus 18 tahun ke atas.

Robby Ertanto, sutradara film Ave Maryam, mengaku semringah ketika dihubungi kurator PIFF yang berencana menayangkan filmnya.

"Walaupun film ini sebelumnya sudah berkeliling festival mancanegara, selalu lebih menyenangkan saat bisa tayang di negeri sendiri." ujar Robby yang sebelumnya menyutradarai 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita (2011).

Ifa Isfansyah, produser Kucumbu Tubuh Indahku, segendang sepenarian. Ia menyambut baik ajakan PIFF.

"Karena kami jadi punya kesempatan bertemu dengan penonton dari segmen yang berbeda lagi. Film produksi saya terdahulu, SITI dan Sekala Niskala, juga pernah tayang di sini," kata Ifa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR