Puisi Tak Terkuburkan masuk 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa

Berliana Febrianti (kiri) dalam film Puisi Tak Terkuburkan.
Berliana Febrianti (kiri) dalam film Puisi Tak Terkuburkan. | iffr.com

Satu pengakuan dari dunia internasional kembali didapatkan oleh sineas Garin Nugroho (54). Dilansir BBC Indonesia, Kamis (13/8/2015), salah satu film arahannya yang berjudul Puisi Tak Terkuburkan terpilih sebagai penghuni daftar Asian Cinema 100 alias 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa.

Tidak ada penjelasan detil pada posisi berapa Puisi Tak Terkuburkan menghuni daftar yang akan diperbaharui setiap lima tahun itu.

Puisi Tak Terkuburkan (di luar negeri diedarkan dengan judul The Poet) yang dirilis 1999 sebelumnya telah mendapat penghargaan Silver Leopard Video di Festival Film Internasional Locarno (2000) dan nomine Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival (2000).

Kisahnya tentang seorang penyair didong, Ibrahim Kadir (diperankan oleh Ibrahim Kadir), yang dipenjara tahun 1965 di Tanah Gayo, Aceh, karena tuduhan terlibat dalam partai komunis.

Pengalaman selama 22 hari di dalam penjara itu yang kemudian diceritakan, sampai saat ia dilepaskan karena ternyata salah tangkap.

Dilansir Tempo Interaktif (28/2/2010), Garin mengungkapkan bahwa film ini adalah manifesto politiknya terhadap peristiwa 30 September 1965 yang mengakibatkan banyak terjadi pelanggaran HAM berupa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh maupun terlibat dalam Partai Komunis Indonesia.

"Idenya berawal dari keinginan saya menafsirkan kembali luka-luka sejarah," tutur Garin.

Daftar 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa dikeluarkan oleh Busan International Film Festival dan Busan Cinema Center dalam rangka merayakan 20 tahun eksistensi salah satu ajang penghargaan film prestisius di Asia tersebut.

"Daftar ini dimaksudkan untuk jadi panduan nilai estetik dan sejarah sinema Asia dan menemukan mahakarya tersembunyi serta sutradara berbakat di Asia," tulis Busan International Film Festival dalam rilis persnya di situs BIFF.

Mekanisme pemilihannya melibatkan 73 orang tokoh yang terdiri dari kritikus, programmer festival dan sutradara di Asia. Beberapa nama yang terlibat antara lain kritikus film Jonathan Rosenbaum, Tony Rayns dan Hashumi Shigehiko; serta sutradara Mohsen Makhmalbaf, Bong Joon-ho, dan Apichatpong Weerasethakul.

Masing-masing anggota panel merekomendasikan 10 film Asia terbaik versi mereka yang menghasilkan jumlah 113 judul film. Dari jumlah tersebut lantas disusun dalam rangking 100 besar.

Selain daftar 100 Film Asia Terbaik, lembaga yang sama juga menyusun daftar 100 Sutradara Asia Terbaik Sepanjang Masa. Nama sutradara andal asal Jepang, Yasujiro Ozu (60), menduduki peringkat pertama.

Disusul Hou Hsiao-Hsien (68), Abbas Kiarostami (75), Akira Kurosawa (1910-1998), Satyajit Ray (1921-1992), Wong Kar-wai (57), Apichatpong Weerasethakul (45), Jia Zhangke (45), Kenji Mizoguchi (1898-1956) dan Edward Yang (1947-1997).

Berikut penghuni 10 besar daftar 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa

1. Tokyo Story (rilis 1953) - Yasujiro Ozu (Jepang)

2. Rashomon (1950) - Akira Kurosawa (Jepang)

3. In the Mood for Love (2000) - Wong Kar-wai (Hong Kong)

4. The Apu Trilogy (1955) - Satyajit Ray (India)

5. A City of Sadness (1989) - Hou Hsiao-hsien (Taiwan)

6. Seven Samurai (1954) - Akira Kurosawa (Jepang)

7. A Brighter Summer Day (1991) - Edward Yang (Taiwan)

8. Spring in a Small Town (1948) - Fei Mu (Tiongkok)

8. Still Life (2006) - Jia Zhangke (Tiongkok)

10. The Housemaid (1960) - Kim Ki-young (Korea Selatan)

10. Close-Up (1990) - Abbas Kiarostami (Iran)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR