FILM INDONESIA

Putri Marino jungkir balik jalani debut dalam film Posesif

Aktris Putri Marino dalam acara perilisan cuplikan (trailer) film Posesif di Mal Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (12/9/2017).
Aktris Putri Marino dalam acara perilisan cuplikan (trailer) film Posesif di Mal Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (12/9/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Seorang lagi pembawa acara serial My Trip My Adventure memasuki dunia layar lebar. Setelah Della Dartyan menemani Gading Marten dalam film Love For Sale, kini giliran Putri Marino (24) yang bakal menjajal debut akting dalam film Posesif.

Dalam film yang direncanakan tayang pada 26 Oktober itu, Putri menjadi Lala --atlet loncat indah yang kehidupannya ikut jungkir balik setelah menemukan cinta pertama pada diri murid baru Yudhis (Adipati Dolken). Cinta pertama itu jadi jebakan, karena Yudhis ternyata mencintai Lala secara obsesif, bahkan cenderung berbahaya.

Film ini disutradarai Edwin, sineas spesialis art house--film independen yang lebih mengutamakan nilai seni, dengan pasar yang niche (terbatas).

Lantaran Edwin dikenal sebagai sutradara yang karyanya kerap ditampilkan di berbagai festival film internasional, seperti Kara Anak Sebatang Pohon (film Indonesia pertama yang tayang di Festival Film Cannes pada 2005), tentu ia tidak asal memilih artis debutan.

Saat acara perilisan trailer film Posesif di Mal Senayan City, Jakarta Pusat, Senin (12/9/2017), produser Muhammad "Eddy" Zaidy menjelaskan bahwa pemilihan Putri Marino bermula dari proses casting yang melibatkan aktris lain dengan pengalaman lebih banyak darinya.

"Kenapa pilih dia karena kami jatuh cinta sama dia. Dia enggak ada basic akting tapi kami menemukan kualitas Lala dalam diri Putri Marino," jelas Eddy. Ia mengakui, karakter Lala tadinya tidak 100 persen ada dalam diri Putri. Namun setelah melihat kualitas akting Putri, tim naskah menyesuaikan cerita dan karakter tersebut dengan sang aktris.

"Kami mencari aktris yang bisa memunculkan cerita ini secara lebih unik lagi. Masalah pengalaman memang ada, tapi dia sangat oke dan saya senang dengan komposisi ini. Saya sebagai sutradara jadi bekerja dengan lancar," ungkap Edwin.

Menurut lelaki berusia 39 itu, Adipati dan Putri adalah pasangan yang luar biasa dan mau mendengarkan pendapat satu sama lain meski sang aktor jauh lebih berpengalaman dibanding lawan mainnya.

"Kita selalu sharing, jalan bareng. Dari awal gue udah nge-stalking (maksudnya membuntuti Putri di media sosial, red.) dia sebelum film ini," ujar Adipati. Kelakuan itu ia anggap cocok mewakili karakter Yudhis yang super posesif.

Bekerja bersama tim sineas dan aktor yang lebih populer--selain Adipati ada Yaya Unru, Cut Mini, Gritte Agatha, dan Chicco Kurniawan-- sempat bikin Putri merasa rendah diri.

"Pertama kali terima naskah, aku bingung. Kendala di awal, ada saja rasa takut untuk memulai sesuatu yang baru. Untungnya ada proses reading untuk memperdalam karakter. Puji Tuhan, mereka sangat suportif jadi kendala itu sedikit berkurang," Putri mengakui.

Lalu ada tantangan kedua, memerankan atlet loncat indah yang mampu melompat dari ketinggian 10 meter menuju kolam renang.

Sebagai host untuk acara petualangan, sebetulnya dari segi fisik tak ada masalah bagi Putri dalam memerankan karakter atlet. Namun loncat indah juga merupakan hal baru bagi wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara, ini. Solusi dari rumah produksi Palari Films adalah menggunakan jasa atlet loncat indah untuk mengajari Putri.

"Untungnya mereka semua seumuran sama aku. Jadi sahabat deh, sekarang. Sebenarnya sih aku enggak takut ketinggian, tapi belajar loncat indah tuh bikin deg-degan juga ya," jelas perempuan berdarah Italia dan Bali ini.

Soal loncat indah ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan karakter Lala dan kisah cinta Posesif secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi plot, tapi juga ada semacam filosofi yang menaungi kisah Posesif.

"Kenapa loncat indah? Atlet kan harus punya mental yang jauh lebih kuat dari kita yang bukan olahragawan," ujar penulis skenario Ginatri S. Noer. Penulis cerita Habibie & Ainun ini menjelaskan bahwa orang yang bermental baja saja bisa merasa takut saat dikejar kekasihnya yang posesif.

"Feeling saat jatuh cinta itu seperti loncat indah. Jatuh cinta yang pertama (sama seperti jatuh pertama kali saat belajar loncat indah), bisa jadi jatuh yang sakit banget, kan?" Edwin menambahkan.

Posesif adalah karya pertama Edwin yang masuk lembaga sensor dan akan tayang secara luas di bioskop-bioskop Indonesia mulai 26 Oktober 2017. Naskah Posesif ditulis oleh Ginatri dan sempat diangkat ke novel oleh Lucia Priandarini. Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy bertindak sebagai produser film perdana Palari Films ini.

Official Trailer Film POSESIF /Palari Films
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR