FILM INDONESIA

Ramadan dan Lebaran tak identik dengan film religi

Sebuah adegan dalam Jailangkung (2017). Film horor ini diluncurkan tepat saat Lebaran, bahkan menjadi salah satu film terlaris pada 2017.
Sebuah adegan dalam Jailangkung (2017). Film horor ini diluncurkan tepat saat Lebaran, bahkan menjadi salah satu film terlaris pada 2017. | Legacy Pictures, Screenplay Films

Momen bulan puasa dan Lebaran ternyata tak harus diisi dengan film-film yang bertemakan religi. Menurut data dari Lokadata Beritagar.id, ada 34 film lokal yang tayang selama bulan Ramadan dan Idulfitri selama lima tahun belakangan.

Dari 34 film itu hanya ada delapan yang bernuansa religi--menunjukkan cerita dari sudut pandang agama, dalam hal ini Islam, dan berlatar di rumah ibadah atau pondok pesantren. Sisanya beragam, dari drama percintaan, komedi, bahkan horor.

Tren film religi pada periode Ramadan-Lebaran bahkan cenderung berkurang. Pada 2013 sempat ada tiga film, berkurang jadi dua pada masing-masing 2014 dan 2015. Periode 2016-2017 tak ada film religi sama sekali.

Baru tahun ini ada 5PM: Dia yang Hatinya Terpaut pada Masjid, film yang mengisahkan seorang maling kotak amal yang terinspirasi untuk bertobat setelah didaulat menjadi pengurus masjid. Film garapan Humar Hadi itu tayang pada 17 Mei, ketika bulan Ramadan baru dimulai.

Hanya ada delapan film bernuansa religi dalam 34 film yang diputar selama bulan Ramadan sejak 2013
Hanya ada delapan film bernuansa religi dalam 34 film yang diputar selama bulan Ramadan sejak 2013 | Lokadata Beritagar.id

Pada periode sebelum 2013, pihak pembuat film masih setia merilis sinema bertema religi pada bulan puasa dan Lebaran. Contohnya adalah Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009), Sang Pencerah (2010), dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (2011). Menurut FilmIndonesia.or.id, ketiga film tersebut masuk daftar terlaris pada tahunnya masing-masing.

Apakah ini berarti genre religi sudah kurang diminati masyarakat? Rupanya tidak. Toh, film beraroma religi seperti Ayat-Ayat Cinta 2 dan Surga yang tak Dirindukan 2 masih masuk dalam daftar 15 film dengan jumlah penonton terbanyak pada tahun lalu. Hanya saja, pemutarannya tak melulu harus di bulan puasa/Lebaran.

“Film-film bernuansa Islam punya pasar khusus ya. Saya kira, memang ada pasarnya, entah jadi niche atau pasar umum, itu masih bisa jadi kompetitif,” ujar Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, Hikmat Darmawan, kepada CNNIndonesia.com (11/6/2017).

Lagipula, saat Ramadan justru tren penonton memang menurun. Ini diungkap oleh Kemala Atmojo, Ketua Badan Perfilman Indonesia.

"Saat saya mengunjungi 21 (jaringan bioskop 21 Cineplex, red.), mereka sampai bilang, 'Kalau ada yang mau rilis film Indonesia sekarang, saya bayarin, deh'. Tapi faktanya memang enggak ada yang mau," ujar Kemala.

Itulah sebabnya hanya sedikit film yang tayang pada bulan Masehi yang berbarengan dengan Ramadan. Pada bulan Juni 2018, tercatat hanya ada 7 film nasional yang tayang. Padahal, pada bulan-bulan sebelumnya nyaris selalu ada belasan film. Pada bulan Juni 2017, yang juga kejatuhan libur Lebaran, hanya ada lima film.

Lebaran = tambang emas

Meski Ramadan dipandang sepi penonton, Lebaran sebaliknya. Ini seakan sudah jadi tradisi di negeri ini sejak lama.

Pada 1980-an, film-film kelompok komedian legendaris Warkop DKI nyaris selalu meramaikan bioskop tepat saat Lebaran. Pada saat industri film lokal mati suri kurun 1990-an, film-film lawas Warkop menemukan tempatnya di televisi, untuk menghibur masyarakat segala golongan di hari raya.

Bagaimana dengan sekarang? Strategi Warkop rupanya masih relevan. Tahun lalu, ada empat film yang tayang tepat pada hari pertama Idulfitri 1438 H, yang jatuh pada 25 Juni 2017. Mereka adalah Insya Allah, Sah; Jailangkung; Surat Kecil Untuk Tuhan; dan Sweet 20.

Judul-judul film nasional yang tayang dalam periode Ramadan-Lebaran sejak 2013
Judul-judul film nasional yang tayang dalam periode Ramadan-Lebaran sejak 2013 | Lokadata Beritagar.id

Keempatnya relatif sukses, masuk ke dalam 15 besar film lokal terlaris 2017. Prestasi terbaik diraih Jailangkung dengan menyedot 2,5 juta lebih penonton ke bioskop dan menjadi film Indonesia terlaris nomor lima pada tahun tersebut.

Rumah produksi Screenplay Films pun kembali mencoba peruntungan pada tahun ini, dengan merilis Jailangkung 2 tepat pada hari pertama Idulfitri. Sekuel Insya Allah, Sah juga tayang pada hari yang sama.

Total film yang tayang tepat pada Lebaran tahun ini ada lima. Selain tiga film di atas, ada film komedi Dimsum Martabak dan Target.

Produser Mira Lesmana dari Miles Films termasuk orang yang paham betul soal efektifnya menayangkan film saat libur Lebaran.

Pada 2008, Miles Films merilis Laskar Pelangi sejak lima hari sebelum Idulfitri dan bertahan di bioskop hingga setelahnya. Film anak-anak itu akhirnya ditonton 4,7 juta orang dan menjadi yang terlaris pada tahun tersebut.

Menurut produser Ada Apa Dengan Cinta? (2002) ini, libur Lebaran adalah saat-saat yang diperebutkan para sineas lokal yang ingin filmnya laku selaris mungkin.

"Saat libur, orang dianggap punya dana ekstra untuk hiburan. Bahkan yang kelas bawah sekalipun mau mengeluarkan uang," ujar Mira saat datang ke kantor Beritagar.id (9/6) untuk wawancara eksklusif mengenai film Kulari ke Pantai.

Menurut sineas berusia 53 itu, film-film lokal yang semakin beragam membuat masyarakat menjadikan bioskop sebagai alternatif hiburan saat Lebaran, tak melulu ke tempat wisata seperti pantai atau kebun binatang, misalnya.

Selain faktor eksternal itu, ada juga beberapa alasan yang membuat saat-saat liburan bisa menjadi tambang emas para sineas.

Mira menjelaskan, di Indonesia, "nasib" sebuah film lokal dipertimbangkan oleh pihak penayang (bioskop) dengan hitungan per hari. Ia mencontohkan film anak-anak Naura & Genk Juara (2017) yang tidak ditayangkan di musim liburan.

"Pada Sabtu-Minggu, performa dia bagus. Begitu Senin, drop. Karena anak-anak (target pasar film Naura, red.) pada sekolah," jelas Mira.

Performa yang memburuk di hari Senin membuat pihak bioskop mengurangi jumlah layar yang menayangkan film tersebut. "Sudah diturunkan, enggak mungkin dinaikkan lagi karena jatahnya sudah dikasih ke film lain," ungkap produser Pendekar Tongkat Emas (2014) ini.

Sebenarnya "prime time" bagi film lokal tak harus libur Lebaran. Akhir tahun juga menjadi saat-saat para sineas bisa menjaring uang dari banyak penonton.

"Karena saat masa libur itu, orang lebih punya uang dan waktu," tutup Mira.

Catatan redaksi: Ada beberapa kesalahan data mengenai film Ramadan-Lebaran yang dirilis pada 2014, 2015, dan 2017. Dengan ini kesalahan telah diperbaiki. (19/6/2018)
BACA JUGA