MUSIK MANCANEGARA

Rihanna dan Axl Rose layangkan protes pada Donald Trump

Aksi Axl Rose saat konser bersama Guns N' Roses di Brisbane, Australia (7/2/2107).
Aksi Axl Rose saat konser bersama Guns N' Roses di Brisbane, Australia (7/2/2107). | Dan Peled /EPA/AAP

Genre musik boleh beda, tapi penyanyi pop Rihanna (30) dan rocker Axl Rose (56) sepakat soal satu hal. Mereka tak senang lagu-lagu karya mereka digunakan untuk kampanye Partai Republik pada Pemilihan Umum Sela yang tengah berlangsung di Amerika Serikat. Partai itu adalah pengusung Presiden AS saat ini, Donald Trump.

Pada Minggu (4/11/2018), lagu “Don’t Stop the Music” milik Rihanna berkumandang dalam kampanye Marsha Blackburn, kandidat senat dari Partai Republik, di Chattanooga, Tennessee.

Lagu yang berasal dari album Good Girl Gone Bad: Reloaded (2008) itu diputar saat Blackburn membagikan kaos bergambar Trump kepada para pendukungnya.

Keesokan harinya, penyanyi berjuluk Riri itu mengicaukan keluhannya melalui jejaring sosial Twitter. “Saya dan teman-teman saya tak akan pernah berada dalam kampanye tragis ini,” tulis Rihanna.

Jordan Siev, pengacara Rihanna, langsung bertindak dengan mengirim surat resmi kepada Gedung Putih.

“Seperti yang Anda ketahui, atau harus ketahui, Nona Fenty (nama asli Rihanna adalah Robyn Rihanna Fenty, red.) belum memberi persetujuan pada Tuan Trump untuk menggunakan lagu-lagunya. Penggunaan seperti itu tidak tepat,” tulis Siev, dilansir dari The New York Times (5/11).

Reaksi Axl Rose relatif lebih keras daripada Rihanna. Vokalis Guns’ N Roses itu meradang saat mengetahui lagu “Sweet Child o’ Mine” dalam kampanye di Virginia pada Jumat (2/11). Rose menyatakan ia ditelpon teman-temannya yang ingin mengonfirmasi apakah sang rocker benar-benar mendukung Trump.

“Sebagai sebuah band, kami merasa harus melakukan klarifikasi,” tulis Rose melalui Twitter pada Minggu (4/11).

Ia menyatakan Guns N’ Roses menolak musik mereka digunakan tanpa izin dalam acara politik. Mereka bahkan telah meminta secara resmi agar kampanye Trump, atau acara lain yang berhubungan dengan sang presiden, tidak menggunakan lagu-lagunya.

Menurut lelaki berusia 56 ini, kampanye Trump menggunakan “celah hukum” untuk menggunakan lisensi, yang akhirnya memungkinkan mereka menggunakan lagu-lagu para musisi untuk tujuan politik tanpa sepengetahuan pencipta lagunya.

Can you say ‘shitbags’?” tambah Rose sambil menyematkan emoji kotoran. Menurut kamus Oxford, “shitbag” adalah istilah untuk orang yang rendah dan hina.

Dilansir dari Ultimate Classic Rock, sebuah arena dapat memperoleh izin dari asosiasi pencipta lagu untuk memutar sebuah karya musik. Orang yang menyewa tempat tersebut boleh memutar lagu yang ada dalam daftar karya yang sudah diizinkan oleh asosiasi. Itulah “celah hukum” yang dimaksud Rose.

Rose dan Rihanna sama-sama punya kepentingan politik yang berlawanan dengan pengusung Trump, Partai Republik. Pekan lalu, Rose menyerukan kepada 1,2 juta pengikutnya untuk memilih Partai Demokrat dalam Pemilu Sela di AS yang diselenggarakan pada 6 November.

Sementara Rihanna adalah pendukung Andrew Gillum, kandidat Gubernur negara bagian Florida dari Partai Demokrat. Dukungan itu ia serukan melalui Instagram pada Senin (5/11/2018).

Trump vs musisi

Daftar musisi yang protes karena lagunya digunakan dalam kampanye Trump masih panjang. Pekan lalu, Pharrell Williams mengirim surat tuntutan pada sang presiden karena lagu “Happy” digunakan dalam sebuah acara di Indiana, hanya beberapa jam setelah sebuah penembakan massal terjadi di Pittsburgh.

“Tak ada yang hal ‘happy’ (menyenangkan) mengenai tragedi yang menimpa negara kita pada Sabtu, dan tak ada izin yang diberikan untuk lagu yang Anda gunakan,” tulis Howard King, pengacara Pharrell dalam suratnya.

Pada 10 Oktober 2015, rocker gaek Steven Tyler dari band Aerosmith melayangkan keberatannya pada Trump (saat itu masih calon presiden AS) karena lagu “Dream On” beberapa kali digunakan dalam program kampanye.

Penyanyi lain yang pernah protes pada Trump mencakup Adele (atas lagu “Rolling in the Deep”), R.E.M. ("It's the End of the World as We Know It"), Neil Young ("Rockin' in the Free World"), Rolling Stones ("Start Me Up", "You Can't Always Get What You Want", dan "Brown Sugar"), Prince ("Purple Rain"), dan George Harrison ("Here Comes the Sun").

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR