FILM INDONESIA

Ruth Marini, dari monolog hingga Sinto Gendeng

Aktris Ruth Marini berpose di kantor Lifelike, Kebon Sirih, Jakarta Pusat (2/5/2018). Ia memainkan tusuk konde yang menjadi senjata andalan Sinto Gendeng.
Aktris Ruth Marini berpose di kantor Lifelike, Kebon Sirih, Jakarta Pusat (2/5/2018). Ia memainkan tusuk konde yang menjadi senjata andalan Sinto Gendeng. | Indra Rosalia /Beritagar.id

Lifelike Pictures kembali memperkenalkan karakter dari film Wiro Sableng. Setelah Wiro Sableng, Anggini, Bujang Gila Tapak Sakti, Dewa Tuak, Kalingundil, dan Mahesa Birawa, kini giliran Sinto Gendeng yang diperkenalkan pada Rabu (2/5/2018).

Sinto Gendeng adalah seorang pendekar wanita tua eksentrik, gendeng (tidak waras), dan sakti, yang menurunkan kesaktiannya pada Wiro. Pada teaser karakter yang dirilis Lifelike melalui Instagram, gambar bergerak itu hanya memperlihatkan Sinto dari belakang.

Wajahnya sama sekali tidak terlihat, apalagi tertawa bak orang gila yang jadi ciri khas karakter bernama asli Sinto Weni itu. Lifelike menjanjikan kalau itu semua bakal terungkap pada trailer-nya yang akan dirilis beberapa hari lagi.

Meski mukanya belum diperlihatkan, pemerannya sudah lama terungkap yaitu Ruth Marini. Pada hari yang sama saat teaser karakter Sinto Gendeng dirilis, Beritagar.id berkesempatan mewawancara Ruth di kantor Lifelike, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Pecinta film mungkin belum pernah mendengar nama perempuan yang akrab dipanggil Uthe itu. Sebab, Wiro Sableng adalah film pertamanya. Namun latar perempuan berusia 33 tahun ini tidak main-main.

Uthe sudah aktif di dunia seni teater sejak 16 tahun lalu. Lakon Wanci yang ia pentaskan bersama Teater Satu dari Lampung membuatnya memenangi penghargaan Aktris Monolog Terbaik Indonesia pada 2007.

Beberapa tahun lalu, aktris Happy Salma yang juga aktif di dunia teater menonton penampilan Uthe saat lakon Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer, ketika ia memerankan nenek-nenek.

Happy lantas memperkenalkan Uthe kepada para penggawa Lifelike. Awal 2017, Uthe pun mendapat kesempatan casting untuk memerankan Sinto Gendeng. Ia terpilih.

Namun, main film jauh berbeda dengan beraksi di atas panggung. Uthe menyadari hal ini. Saat adegan close-up, penonton dapat melihat dengan jelas ekspresi aktor di layar bioskop yang berukuran sangat besar. Ia tidak bisa seenaknya dalam mengolah mimik dan gestur.

"Prinsipnya sama, tapi porsi menghadapi medianya saja yang berbeda. Sama saja sebenarnya, karena menggunakan alat ekspresi baik batin dan fisik. Di film Wiro Sableng aku berakting dan bertindak sewajarnya sesuai kapasitas film. Ekspresinya dikurangi, diturunkan," ujar perempuan kelahiran Lampung, 19 Agustus 1984 ini.

Belum lagi persoalan syuting film yang terpotong-potong, tidak seperti sebuah lakon yang memungkinkannya terus menerus di dalam sebuah karakter selama beberapa jam saja. Pada sela-sela setelah sutradara berteriak "Cut!" dan "Camera roll, action!" Uthe harus tetap berada dalam karakter Sinto Gendeng.

"Metode aku pribadi sama saja dengan pertunjukan teater. Pendalaman atau conditioning di dalam itu tetap perlu. Lepasnya itu sulit, aku tetap harus menjaga saat out of frame. Aku menjaganya dengan diam. Enggak bisa mengobrol," jelas Uthe.

Meski berbeda, Uthe mengaku terbantu banyak oleh pengalamannya di dunia seni peran. Proses pendalaman karakter yang ia alami di teater cukup ekstrem. Dalam lakon Wanci, ia memerankan sosok gelandangan. Uthe pun mencoba jadi gelandangan betulan di stasiun kereta api Bandar Lampung selama dua bulan.

"Para gelandangan di stasiun itu makan nasi bungkus dari kotak sampah. Awalnya mual, sangat menjijikkan, lama-lama aku terbiasa. Ketika orang buang sampah aku merasa dapat rezeki banget," ujar Uthe.

Untuk peran Sinto Gendeng, ia tidak melakukan percobaan seekstrem itu. Uthe "hanya" mencoba menjelma menjadi orang gila di Jembatan Semanggi, Jakarta Selatan.

Ia rela melakukan itu karena peran Sinto Gendeng tidak gampang. Karakter ini sangat multidimensi. "Eksentrik, dia sakti. Gila iya, tapi bisa serius juga, dendam juga, ada kasih sayang ibu, semuanya harus muncul dalam satu waktu."

Pengorbanannya semakin besar karena setiap syuting, ia dirias selama delapan jam untuk menjelma menjadi perempuan berusia 40, 60, atau 80 tahun--sesuai kebutuhan cerita.

Uthe berpose dengan tongkat milik Sinto Gendeng
Uthe berpose dengan tongkat milik Sinto Gendeng | Indra Rosalia /Beritagar.id

Meski sulit, itu semua bisa Uthe lakukan dengan baik, karena ia sudah punya dasar di dunia teater. Ada satu hal yang benar-benar harus dipelajari dari nol. Sinto Gendeng adalah pendekar sakti. Untuk itu, Uthe harus belajar beladiri.

Selama tiga bulan, Uthe bersama pemeran lain digembleng oleh Yayan Ruhian, pemeran Mahesa Birawa yang juga bertindak sebagai koreografer adegan laga untuk film Wiro Sableng. Namun ia tetap merasa belum cukup.

"Aku ingin merasakan bagaimana sakitnya dipukul," ujar Uthe.

Menurut Uthe, dalam karier pendekarnya, Sinto Gendeng tidak mungkin selalu menang. Pasti ada saat-saat ia kalah.

Sewaktu latihan, secara tanpa sengaja Uthe selalu bergerak mundur dengan ekspresi ketakutan, untuk menghindari pukulan lawan main. Perempuan yang punya pekerjaan sebagai guru akting ini berpikir, tak mungkin Sinto Gendeng seperti itu.

Uthe pun berguru pada seorang guru silat Betawi bernama Ncing Wiro di Condet, Jakarta Timur. "Kebetulan namanya juga Wiro, ha-ha-ha."

Selain mempertajam silatnya, Uthe juga jadi tahu rasanya dipukul di bagian pipi hingga badannya terjatuh. "Aduh, rasanya darah semua berkumpul di situ," ujar Uthe sambil meringis.

Dengan merasakan sakitnya dipukul, ketakutannya pun hilang. Ia bisa berpikir, "Ah, pukulan lo cuma segitu doang," ketika melakukan adegan tarung. Sehingga ekspresinya tidak cemas seperti sebelumnya.

Dengan semua kesulitan yang ia alami, lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Lampung ini berharap Wiro Sableng bisa sukses. Tak hanya secara komersial, tapi juga sebagai warisan budaya dari waralaba yang berasal dari novel karya Bastian Tito itu.

"Ini keren untuk generasi baru. Anak-anak sekarang jadi tahu ada Wiro Sableng. Terutama untuk sastra. Dari novel, kemudian beranjak ke pertunjukan, membuat aku melihat kalau film ini berfungsi sebagai pelestarian budaya," tutup Uthe.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR