FILM INDONESIA

Sekar Sari: Memerankan Siti itu berat dan melelahkan

Sekar Sari berbagi pengalaman selama menjalani proses syuting film SITI yang akan tayang mulai 28 Januari 2016 di jaringan bioskop Cinema 21 dan CGV Blitz.

Harapan agar film SITI tayang di jaringan bioskop nasional menjadi kenyataan. Film produksi Four Colour Films yang memenangkan gelar film terbaik, selain penulis skenario asli terbaik dan penata musik terbaik, dalam ajang Festival Film Indonesia 2015 akan tayang mulai 28 Januari 2016 di jaringan bioskop Cinema XXI, CGV Blitz, Cinemaxx, dan Platinum.

Menyambut tayangnya SITI di jaringan bioskop nasional, Beritagar.id berkesempatan melakukan wawancara dengan Sekar Sari, pemeran tokoh Siti, melalui layanan berkirim pesan, Whatsapp, selama dua hari beruntun (7-9 Januari 2016).

Cara tersebut ditempuh mengingat mantan runner-up kedua dalam ajang Diajeng Yogya 2009 itu sekarang bermukim di London, Inggris, untuk menyelesaikan program master jurusan International Master on Dance Knowledge, Practice, and Heritage di University of Roehampton.

Perbedaan waktu London yang delapan jam lebih cepat dari Jakarta membuat wawancara--Sekar lebih suka menyebutnya ngobrol--tidak berlangsung secara simultan, tapi dilakukan secara bertahap.

Mengingat aktivitas perkuliahan Sekar termasuk padat, terkadang ia meminta izin harus menyudahi obrolan karena harus masuk kelas. Berselang beberapa jam, dirinya mengabarkan siap melanjutkan obrolan.

Dalam beberapa akhir kalimat jawabannya, tak jarang penyuka musik Frau dan Float ini menyisipkan aneka emoticon sedih atau tersenyum.

Dara kelahiran 23 Desember 1988 itu adalah pencinta seni dan budaya tradisional. Bersama beberapa kawannya, Sekar bahkan mendirikan sebuah sanggar di Yogyakarta. Sanggar ini mengajarkan tari tradisional, macapat, wayang kulit, dan berbagai kesenian tradisional lainnya.

"Pahami potensi yang kita miliki, tanamkan pula apresiasi. Wujud kecil dari kedua hal ini bisa dengan memahami potensi kesenian budaya yang kita miliki. Tidak hanya sebatas kata-kata namun juga perlu tindakan nyata untuk benar-benar peduli," katanya dilansir Radar Jogja.

Tinggal jauh dari keluarga dan kawan-kawan dekat membuat Sekar tidak bisa merasakan langsung seperti apa respons penonton saat menyaksikan film SITI. "Ingin sekali bertemu segenap tim produksi dan berterima kasih atas kerja sama manisnya. Tapi, dengan kondisi seperti ini, saya hanya bisa kirim doa dan harapan terbaik saja."

Kecakapan sulung dari tiga bersaudara ini dalam mengatur pengeluaran selama tinggal di luar negeri juga diuji. "Maklum, biaya hidup di Inggris cukup mahal," jelas Sekar. Salah satu cara berhemat yang ditempuhnya adalah dengan sebisa mungkin memasak sendiri.

"Biasanya saya improvisasi sih masaknya. Kadang coba memasak makanan sini. Kadang coba masakan Indonesia. Meski itu lebih sulit karena keterbatasan rempah yang tidak sebanyak di Indonesia," ungkapnya.

Sekar Sari berjualan peyek jingking di pinggir Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.
Sekar Sari berjualan peyek jingking di pinggir Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. | fourcolourfilms.com

Sebagai pemeran Siti, Sekar adalah sosok yang jadi pusat cerita. Dan sebagai debutan, Sekar melakonkan Siti nyaris tanpa cela. Alhasil gelar "Best Performance" diraihnya dalam Singapore International Film Festival 2014.

Hal yang bertolak belakang terjadi di FFI 2015. Tidak ada nama Sekar dalam jajaran nomine aktris terbaik. Majalah Rolling Stone Indonesia terbitan Januari 2016 dalam kolom "Film Indonesia Terbaik 2015" (halaman 50) menulis:

"Sekar memerankan Siti dengan penuh kayakinan, raut wajahnya silih berganti antara ikhlas, geram, atau kombinasi keduanya. Juri FFI 2015 telah membuat kekeliruan besar karena tidak mencantumkan namanya sebagai nomine aktris terbaik."

Hal senada juga diungkapkan Adrian Jonathan Pasaribu, kritikus film sekaligus salah satu pendiri situs Cinema Poetica. "Saya heran kenapa Sekar enggak termasuk nomine pemeran wanita terbaik di Festival Film Indonesia 2015."

Adrian menilai bahwa Sekar sangat bisa menjaga geraknya sepanjang film. Menjaga, karena tokoh Siti yang diperankannya pada dasarnya terdesak sepanjang cerita. Siti selalu di antara ingin meluapkan emosi tapi juga harus jaga sikap.

"Menjaga kedua hal itu bukanlah perkara gampang. Tambah lagi karena SITI adalah film panjang pertama buat Sekar," ujar Adrian kepada Beritagar.id (7/1).

Pendapat Adrian benar adanya. Sekar mengaku bahwa memerankan karakter Siti sangat berat dan melelahkan. Ada banyak perbedaan mendasar antara Sekar dan Siti, antara lain statusnya yang hingga saat ini belum menikah alih-alih jadi ibu, sifatnya, dan profesinya.

"Merasakan jadi Siti punya beban hidup seperti itu sangat melelahkan. Dan waktu syuting yang cukup singkat bikin jadwal jadi padat sekali. Sempat sakit beneran juga," tulis Sekar.

SITI yang disutradarai Eddie Cahyono adalah film melodrama perjuangan seorang perempuan bernama Siti yang sehari-hari berjualan peyek jingking di sekitar Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Konflik batin berupa cinta segitiga juga tertuang dalam film yang sepenuhnya hitam putih ini.

Faktor ekonomi, antara lain harus membuat dapur tetap ngebul, membayar uang sekolah anaknya, dan utang kapal suaminya kepada rentenir membuat Siti juga bekerja sebagai pemandu karaoke pada malam hari. Pekerjaan tersebut membuat suaminya yang terbaring lemah karena lumpuh tak mau lagi bicara pada Siti sebagai tanda tidak setuju.

Dibuat dengan dana "hanya" Rp150 juta dan syuting yang berlangsung selama enam hari, SITI berhasil menembus berbagai festival film mancanegara. Antara lain Shanghai International Film Festival, International Film Festival Rotterdam, Hamburg International Film Festival, Telluride Film Festival, dan Five Flavours Film Festival Polandia.

SITI akhirnya tayang di jaringan bioskop nasional saat Sekar sedang berada jauh dari Indonesia...
Senang mendengarnya. Dari awal enggak menyangka kalau film ini akan diputar di jaringan bioskop. Jadi cukup terkejut kalau akhirnya filmnya bisa diakses lebih luas. Kadang penasaran juga sama responnya. Sebenarnya ingin bisa bertemu segenap tim produksi, semua pemain dan kru, memberi selamat secara langsung, bertemu, dan berterima kasih atas kerjasama manisnya. Tapi ya, kondisinya lagi seperti ini. Jadi, saya bisanya kirim doa dan harapan terbaik saja.

Sekar sebenarnya bukanlah pilihan utama pemeran SITI. Benar begitu?
Iya. Karena yang semestinya terpilih mendadak tidak bisa. Sebagai kandidat kedua, saya yang akhirnya dipilih karena syuting kayaknya harus segera dimulai. He-he-he.

Apa yang terjadi dengan kandidat pertama?
Saya tidak tahu penyebabnya. Yang saya tahu, saya kemudian ditelepon dan disuruh casting lagi sama mas Eddie. Dari situ mulailah persiapan yang cukup singkat.

Eddie Cahyono dilansir Muvila menuturkan bahwa dua minggu sebelum syuting, aktris yang sudah terpilih sebagai pemeran Siti tiba-tiba mengundurkan diri karena tak diizinkan orangtuanya bermain dalam film ini.

Berarti Sekar audisi dua kali?
Hmm... Pertemuan dengan mas Eddie pagi itu enggak tahu judulnya apa. Entah audisi ulang atau pemantapan atau apa ya. He-he-he. Selain sama mas Eddie sutradara, saya juga ketemu dengan mas Adi (Marsono, asisten sutradara), dan mas Jo (Jonathan Kelvin, casting director) untuk diskusi tentang karakternya. Coba membaca naskahnya lagi dan akhirnya bersepakat untuk terlibat dalam produksi filmnya yang segera dimulai.

Ketika panggilan audisi kedua datang dari Eddie Cahyono, kabarnya Sekar sedang tak berada di Yogyakarta?
Betul. Waktu itu saya lagi di Surabaya ikut Recording the Future, sebuah proyek pengarsipan audio visual kehidupan sehari-hari di Indonesia. Jadi, saat saya sedang di bandara mau balik ke Yogya, dapat teleponnya mas Eddie yang menyuruh ke kantor Fourcolour keesokan paginya.

Sekar Sari di sela pengambilan gambar film SITI.
Sekar Sari di sela pengambilan gambar film SITI. | fourcolourfilms.com

Persiapannya berapa lama?
Total persiapannya 10 hari. Syutingnya enam hari.

Dalam tenggat waktu itu, apa saja yang Sekar lakukan?
Persiapannya waktu itu baca naskah dan observasi. Sempat berkomunikasi dan memperhatikan langsung tingkah laku penjual peyek jingking, bahkan ikut praktik berjualan juga.

Saya juga banyak diskusi sama mas Eddie tentang karakternya dan juga masalah-masalah yang pernah dia alami. Menyempatkan diri cari-cari aneka goyangan dangdut di Youtube. Kalau diingat lagi jadi geli sendiri. Saya awalnya kaget waktu ditunjukin. "Serius mas kayak gini?," kata saya. Dengan muka datar mas Eddie bilang, "Iya."

Sempat terjun langsung sebagai pemandu karaoke?
Sayangnya bagian itu enggak. Soalnya waktunya mepet.

Tapi, gerakan Sekar terlihat luwes. Apa karena latar belakang sebagai penari?
Kalau itu sebenarnya justru termasuk bagian yang cukup sulit juga awalnya. Saya terbiasa dengan tari tradisional. Terus kaget banget dikasih lihat aneka macam goyangan dangdut. 'Kok bisa ya mbak-mbaknya goyang kayak gitu,' batin saya. Total, nakal, dan menggoda gitu. Cukup susah itu eksplorasinya. Sampai mas Eddie ikutan joget waktu itu. Ha-ha-ha. Tujuannya sih supaya saya tidak malu-malu dan bisa total.

Kesulitan apa saja yang dihadapi selama syuting?
Cukup berat pada saat syuting. Karena karakter Siti sendiri yang diperankan cukup berat. Merasakan jadi Siti punya beban hidup seperti itu sangat melelahkan. Dan waktu syuting yang cukup singkat bikin jadwal jadi padat sekali. Sempat sakit beneran juga.

Dalam film ini, Eddie Cahyono tidak mengharuskan Sekar mengucapkan dialog sama persis dengan apa yang tertulis di naskah. Susah atau malah gampang?
Kata mas Eddie yang penting pemahaman makna dan menyampaikan rasa. Saya sepakat dengan konsep tersebut. Sulit dan sangat menantang. Apalagi beberapa adegan dijadikan satu dengan kamera yang terus mengikuti. Takut dan khawatir banget waktu itu. Ini film panjang pertama dan karakternya muncul hampir dalam semua scene.

Sekar Sari (kiri) berakting sebagai pemandu di tempat karaoke yang disebutnya salah satu tantangan terberat dalam film SITI.
Sekar Sari (kiri) berakting sebagai pemandu di tempat karaoke yang disebutnya salah satu tantangan terberat dalam film SITI. | fourcolourfilms.com

Beberapa kritikus film menilai penampilan Sekar memerankan Siti sangat luar biasa. Padahal, sosok Siti sangat berbeda dengan Sekar yang asli...
Bisa dibilang begitu. Seringnya dalam keseharian saya cenderung enggak bisa mengekspresikan kemarahan. Apalagi sampai mengumpat. Biasanya saya diam-diam saja, entah sedang marah atau kecewa. Sok-sok kalem kalau sedih atau senang. He-he-he. Tapi, kadang bisa banyak ketawa juga sih. Tergantung situasi dan kondisi hati kali ya?

Artinya dalam film ini Sekar bisa bebas menumpahkan apa yang tidak bisa diekspresikan dalam kehidupan nyata?
Iya saya bisa menuangkan itu. Tapi, kalo kebebasannya ada tuntunannya, yaitu karakter Siti sendiri. Bikin formulasi karakter dia.

Selain long take dan long shot yang membingkai Parangtritis, beberapa adegan di dalam pondok terasa begitu dekat. Kamera benar sedekat itu atau ruangannya yang sempit sehingga tidak ada cukup ruang?
Keduanya betul. Ada beberapa adegan di mana kamera sengaja didekatkan. Saya kurang tahu maksudnya, mungkin mas Ujel Bausad sebagai operator kamera lebih tahu. Tapi, memang rumahnya sempit. Itu rumah asli nelayan di kawasan sana. Jadi tidak membuat set rumah baru.

Itu bagian yang cukup sulit juga. Kadang takut menabrak kamera atau melakukan kesalahan lain. Tapi, saling percaya saja sama tim. Kita sama-sama mengupayakan terbaik.

Dengan pemain-pemain lain di SITI apakah Sekar sudah kenal sebelumnya atau baru kenal saat ikutan di proyek ini?
Sama mas Bagus (diperankan Ibnu Widodo, red) yang jadi suami Siti sudah kenal. Mas Gatot (Haydar Saliz) yang jadi polisi sudah pernah ketemu sekali. Waktu itu kenalan dan salaman di rumah teman. Singkat sekali. Yang lain baru kali itu ketemu.

Bagaimana cara kalian membangun chemistry satu sama lain, terutama dengan karakter Gatot, mengingat Sekar punya satu adegan yang intens dengannya?
Saya rasa adegan intens itu hanya salah satu bagian saja dari serangkaian hubungan asmara Siti-Gatot. Dari awal kami membangun chemistry-nya. Laiknya pasangan yang sedang pendekatan, kami saling berkirim pesan pendek, teleponan, dan mengobrol.

Dalam film ini banyak adegan yang harus Sekar ulang?
Hampir semua scene enggak ada yang diulang lebih dari jemari satu tangan.

Pertama kali main film tahun berapa?
Seterang Bulan (2010), Kalau Saja (2011), dan Pancer (2012). Semuanya film pendek. Sebelumnya aktif di organisasi kampus Bulaksumur Pos dan Purna Paskibraka Indonesia.

Awalnya tidak berniat jadi aktris karena hanya tertarik dengan tari...
Saya memang berminat di bidang tari dan ingin terus mengeksplorasinya. Tapi kalau profesi atau karier belum tahu. Mengalir saja. Belajar yang luas dan sepenuh hati. Tertarik sekali dengan dunia seni. Seni tari dan peran bikin saya nyaman dan penasaran. Rencana karier sempat berubah beberapa kali juga.

Apa saja perubahan itu?
Jadi table officer basket pernah, kerja di pusat studi juga pernah, hingga akhirnya sering jadi pemandu acara dan coba seni peran. Dasarnya saya suka belajar. Lagipula dulu kan harus mengumpulkan uang jajan sendiri. Jadi, saya coba kesempatan kerja yang ada waktu itu. Sambil mengenal potensi diri juga. Akhirnya makin merasa nyaman sama dunia seni.

Apa persamaan filosofi seni tari yang bertalian dengan seni peran?
Seni tari dan seni peran sama-sama tentang mengolah rasa. Banyak banget keterkaitannya. Dalam menari kita membawakan suatu alur cerita dan penyampaian ekspresinya lewat gerakan. Beberapa tari tradisional juga memerankan tokoh tertentu. Karenanya saya juga tertarik sekali dengan dramatari. Beberapa jenis drama tari di Indonesia, misalnya Wayang Wong di Jawa, Arja di Bali, Makyong di Sumatera.

Setelah kuliah selesai, masih tertarik main film lagi?
Kalau sama-sama suka kenapa tidak?

TRAILER FILM SITI DI BIOSKOP 2016 /Eddie Cahyono
Catatan redaksi; artikel ini telah mengalami penambahan (27/1) di bagian jumlah jaringan bioskop yang menayangkan film SITI.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR