INDUSTRI FILM

Sentilan Dennis Adhiswara untuk vlogger pencari sensasi

CEO Layaria, Dennis Adhiswara ketika ditemui Beritagar.id dalam acara ICAD 2016 Film Convention di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan (20/10/2016).
CEO Layaria, Dennis Adhiswara ketika ditemui Beritagar.id dalam acara ICAD 2016 Film Convention di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan (20/10/2016). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Seiring dengan semakin kencangnya kecepatan internet di Indonesia, sebuah tren baru pun naik ke permukaan yaitu munculnya para video blogger (vlogger). Namun, beberapa dari mereka tampak seperti mencari jalan pintas dengan membuat sensasi demi meraih ketenaran secara instan.

Hal itu disesali oleh Dennis Adhiswara, aktor yang kini menjadi pendiri sekaligus CEO Layaria, sebuah perusahaan yang mendorong kreator untuk membangun karir melalui video daring.

"Banyak sekali dari mereka (vlogger) yang sengaja mencari sensasi untuk menambah jumlah pemirsanya. Itu bikin saya gemas," ujar Dennis dalam acara ICAD 2016 Film Convention di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (20/10/2016).

Untuk meraih ketenaran oknum vlogger ini melakukan sensasi nan kontroversial dalam videonya, misalnya dengan menyerukan sumpah serapah dan omongan kotor sepanjang video. Dengan demikian, jumlah penonton, like, dan sebagainya membuncah, sehingga potensi akan adanya sponsor semakin besar dan keuntungan pun didapat.

Menurut pria berkacamata ini, jika hal itu terjadi terus menerus bisa berbahaya. Sponsor bakal memilih kreator berdasarkan jumlah penonton semata, tidak memikirkan proses produksi dan kualitas dari konten bikinan kreator. Sehingga 'konten-konten sampah' tersebut bakal semakin bertebaran.

"Harga sebuah konten video tergantung dari production value dan publishing value. Sekarang, banyak agensi dan jenama yang hanya menghitung publishing value seperti jumlah view, hits, like dan sebagainya. Sehingga proses production value yang bagus tidak dianggap penting," tutur pemeran Mamet dalam Ada Apa Dengan Cinta (2002) ini.

Pengalamannya sendiri sebagai bos Layaria membuktikan hal ini. "Layaria sering dapat pesanan untuk bikin konten yang 'asal viral'. Yang penting viral dengan modal sedikit. Untungnya klien yang kerjasama dengan kami biasanya mengerti."

Bagi Dennis, yang bertanggung jawab akan konten sampah tak hanya sponsor dan sang kreator. Masyarakat sebagai penonton pun punya andil. Seharusnya, konten sampah tidak usah dilihat dan dibagikan, walaupun sekedar untuk dijelek-jelekkan.

"Ibaratnya, gue melihat bangkai tikus di jalan, lalu gue bawa dan pamerkan ke elo. Padahal kalau gue diamkan saja, lo nggak bakal melihat bangkai tikus itu," ujar Dennis.

Dennis tak memungkiri bahwa masyarakat memang suka hal-hal seperti itu. "Sampah untuk seseorang, bisa jadi emas untuk orang lain. Kita ini masyarakat yang terobsesi dengan traffic. Jangan pernah menilai bagus tidaknya konten seseorang dari jumlah pemirsanya."

Cara menanggulanginya adalah mengedukasi masyarakat dengan konten bermutu. "Nah, buat gue sih gampang saja, kita dukung konten-konten emas, yang bagus menurut kita. Konten sampah, abaikan saja. Nggak usah di-share, nggak usah dilarang-larang, apalagi dilaporkan ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)."

"Gue akan memperbanyak konten-konten yang tidak seperti itu. Gue hanya akan bikin konten yang menurut gue merupakan konten 'emas'," tegas Dennis.

Bagi pria 34 tahun ini, tanggung jawab besar ada di pundak para kreator. "Pekerjaan kami seperti memotong umur orang. Dua jam film, dua jam juga waktu orang terpotong untuk menontonnya. Kami sebagai kreator punya tanggung jawab untuk value sebuah konten, entah itu motivasi, edukasi, dan sebagainya," tutup Dennis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR