Shalahuddin Siregar dobrak stigma negatif pesantren lewat karya dokumenter

Suasana di pesantren
Suasana di pesantren |

Tak dapat dimungkiri, pendidikan pesantren masih menempel dengan stigma negatif. Belum lagi, beberapa peristiwa terorisme yang terjadi di Indonesia ternyata juga membawa dampak buruk pada citra pesantren.

Berangkat dari keresahan yang mengidentikkan pesantren dengan stigma negatif, terciptalah film A Boarding School (judul bahasa Inggris dari kata Pesantren) karya sutradara Shalahuddin Siregar.

Keseriusan Shalahuddin dalam menggarap film A Boarding School juga tak main-main. Film ini terpilih dalam festival dokumenter International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) 2019.

IDFA sendiri merupakan festival dokumenter paling bergengsi dan terbesar di dunia yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 November sampai 1 Desember 2019. Dari situ, film A Boarding School masuk di Luminous; sebuah program untuk film-film yang mampu menenggelamkan para penonton dalam pengalaman sinematik, film yang digerakkan oleh tokoh, cerita, maupun pembuat film.

Kehadiran Luminous pada IDFA 2019 juga ingin mengembalikan keindahan relasi, ekspresi dan rasa empati manusia, dan membuat karya universal menjadi nyata lewat individu-individu melalui film-film terpilih.

Menurut programmer Luminous Sarah Dawson, gaya observasi yang dilakukang sang sutradara memberi kekuatan tersendiri kepada anak-anak muda yang menjadi subyek film A Boarding School sehingga mampu menceritakan kisah mereka masing-masing.

“Kita bisa belajar banyak dari guru-guru maupun pelajar dalam film ini, apa pun kepercayaan atau identitas kita. Buat saya sendiri, film ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia,” ujar Sarah dalam rilis yang diterima Beritagar.id pada Senin (4/11).

Sementara sutradara sekaligus produser Shalahuddin Siregar memaparkan bahwa dirinya membuat film ini berangkat dari keresahan dengan stigma negatif yang diberikan kepada pesantren sebagai tempat yang kolot dan jauh dari peradaban, bahkan tempat terorisme diajarkan. Film ini adalah usaha untuk mengenal lebih baik kehidupan di dalam pesantren.

Setelah melakukan riset dan observasi, Shalahuddin memilih pesantren Pondok Kebon Jambu di Cirebon untuk dijadikan latar cerita. Pesantren Pondok Kebon Jambu merupakan sebuah pesantren tradisional dengan penghuni sekitar 2.000 santri putra dan putri yang dipimpin oleh perempuan. Sebuah hal yang istimewa di antara pesantren tradisional kebanyakan.

Proyek film ini sudah dimulai sejak 2015. Akan tetapi, film A Boarding School sempat berhenti di tengah jalan akibat kesulitan pendanaan, namun pada akhirnya film ini rampung pada 2019.

Sumber ide dan cerita film Pesantren dikembangkan melalui lokakarya "Dare to Dream" dan "Docs by the Sea" dengan para pakar dokumenter dunia sebagai mentor. Selain itu, A Boarding School juga disunting selama lima minggu di Berlin oleh salah satu editor terbaik di Jerman Stephan Krumbiegel.

Berkat produksi dan dukungan yang kuat dari In-Docs, Steps International, Kedutaan Denmark di Jakarta, Talents Tokyo, serta dua stasiun TV internasional, NHK dan Al Jazeera Documentary Channel, film A Boarding School akan rilis di Indonesia pada awal tahun 2020. Film ini akan mulai diputar melalui kampus, sekolah, komunitas film, dan ruang pemutaran alternatif.

Catatan redaksi: Beritagar.id merupakan mitra media film dokumenter Pesantren
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR