FILM INDONESIA

Sherina sempat tak pede bermain dalam Wiro Sableng

Sherina Munaf berpose di depan poster karakter Anggini dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018).
Sherina Munaf berpose di depan poster karakter Anggini dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Setelah belasan tahun absen, penyanyi Sherina Munaf kembali ke dunia film. Pada 1999, ia sempat menjadi bintang utama dalam Petualangan Sherina.

Film drama musikal itu adalah salah satu tonggak awal bangkitnya perfilman nasional dengan keberhasilannya meraih sejuta penonton. Namun setelah itu Sherina tidak pernah main film lagi. Ia larut dalam kesibukannya sebagai penyanyi.

17 tahun setelah Petualangan Sherina, perempuan yang kini berusia 27 ini balik ke layar lebar dalam film laga Wiro Sableng yang tayang pada September. Ia memerankan Anggini, salah satu dari tiga serangkai bersama tokoh utama Wiro Sableng (Vino G. Bastian) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi).

Anggini adalah love interest Wiro yang terawal, hadir sejak buku kedua yang bertajuk "Maut Bernyanyi di Pajajaran". Jika Wiro dalam film perdananya ini adalah pendekar yang baru turun gunung, sebaliknya Anggini adalah pendekar yang sudah sangat terlatih.

Dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018), Sherina mengungkap bahwa Anggini adalah karakter yang agak judes, lebih pintar mengekspresikan dirinya lewat gerakan daripada kata-kata. Ini jelas tantangan besar bagi sang pemeran.

Jelas wajar kalau ia sempat tidak percaya diri. Keponakan penyanyi Fariz RM mengungkap kalau ia sebenarnya tidak familiar dengan akting, apalagi harus memadukannya dengan gerakan beladiri.

"Jadi latihannya fisiknya bukan gerakan lagi tapi fisik, stamina, mental, ya pokoknya itu deh. Bosan kalau aku cerita prosesnya tapi ya itu, aku berusaha untuk lebih baik dari gerak gerik sehari-hari juga," jelas Sherina.

Soal pengalaman beladiri, kebetulan pelantun "Jalan Cinta" ini sudah punya. Ia jago wushu, seni tarung dari Tiongkok. Namun tetap saja memerankan Anggini dalam Wiro Sableng merupakan sesuatu yang sulit. Sebab, kini ia harus ahli dalam bersilat.

"Wushu sangat membantu karena itu menjadi basic untuk mengetahui stamina dan kira-kira tenaganya harus sebanyak apa yang diperlukan untuk melakukan pergerakan," ujar perempuan kelahiran Bandung ini.

Namun, dalam wushu Sherina bermain sendirian melakukan pergerakan, sementara silat dalam Wiro Sableng menuntutnya bisa berkoreografi dengan lawan main.

Untungnya ia dibantu oleh Yayan Ruhian, pemeran Mahesa Birawa sekaligus koreografer Wiro Sableng. Yayan disebutnya sangat detail dalam melihat masing-masing karakter, kelebihan serta kekurangan pemerannya. "Sama Kang Yayan (saya) digeber untuk lebih luwes dan reaktif dalam bisa menangkis."

Kesulitan selanjutnya adalah soal persenjataan. Karakter Anggini punya senjata berupa selendang. Ini agak sulit dibandingkan Wiro Sableng yang menggunakan kapak, atau Bujang Gila Tapak Sakti yang memakai kipas. Selendangnya bisa memanjang untuk digunakan Anggini menghajar lawan-lawannya.

"Karena ini selendang halu(sinasi) kan, maksudnya bisa memanjang. Itu harus ada bantuan hal-hal yang bisa divisualisasikan ketika kita syuting, apakah butuh bantuan anak teknis, butuh bantuan anak art," ujar Sherina sambil terkekeh.

"Jadi ketika latihan dan syuting itu beda yang dipakai dan harus menggunakan imajinasi. Karena harus bisa membayangkan kalau selendang itu extension tangannya dia. Cuma bagaimana, harus percaya (hanya) dengan selendang, orang lain bisa KO."

Dari semua itu, penyuka anime Jepang ini menyatakan bahwa kondisi lokasi syuting yang menjadi tantangan terberat. Sebab, kondisi lokasi di Gunung Gede, Bogor, Jawa Barat berbeda jauh dengan tempat latihan para pemeran.

"Selama ini kami belajar koreografi laga di atas lantai yang permukaannya rata. Begitu tiba di lokasi syuting, ternyata tempat berpijak kami tidak semuanya rata. Ada yang miring dan berbatu. Itu sih yang paling menyulitkan saya," tutup Sherina.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR