Sistem pendidikan Indonesia menurut Acha Septriasa dan Odi Cholidi

Aktor Cholidi Asadil Alam (kiri) dan Acha Septriasa ketika datang ke kantor Beritagar.id di Jatibaru, Jakarta Pusat, 26 April 2016
Aktor Cholidi Asadil Alam (kiri) dan Acha Septriasa ketika datang ke kantor Beritagar.id di Jatibaru, Jakarta Pusat, 26 April 2016 | Bismo Agung /Beritagar.id

Menyambut Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, aktris Acha Septriasa dan aktor Cholidi Asadil Alam sepakat menilai bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum memadai.

Dua bintang film Mars -- kisah tentang perjuangan seorang ibu agar anaknya mendapat pendidikan layak-- kompak menyatakan sistem pendidikan di Indonesia kurang adil dan hanya mengejar tujuan tanpa memikirkan proses serta hal lain yang penting.

"Anak muda kita mengalami krisis karakter," ujar Acha saat mengunjungi kantor Beritagar.id di Jatibaru, Jakarta Pusat, Selasa (26/4/2016).

Akibatnya, anak muda Indonesia tidak percaya diri dan bahkan menutupi kekurangan itu dengan sikap rapuh (insecure). "Mereka mencontoh apa yang ada di media sosial dan dunia hiburan. Mereka jadi nggak PD (percaya diri) pada karakter, pendapat serta budayanya," lanjut aktris berusia 26 ini.

Sedangkan Odi, panggilan akrab Cholidi, menyampaikan harapan ada penjurusan pendidikan sejak usia dini. Harapan itu disampaikan demi anaknya yang saat ini masih berusia lima bulan di dalam kandungan istrinya.

Menurut Odi, penjurusan sejak dini bisa membentuk karakter sang anak dari kecil. "Agak telat kalau kelas 2 SMA baru diadakan penjurusan. Penjurusan ini bagusnya sewaktu anak menginjak SMP saja. Nantinya kan dia akan lebih menguasai, entah itu untuk ilmu sosial, ilmu alam, dan sebagainya," ujar aktor utama Ketika Cinta Bertasbih (2007) ini.

Tapi untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia lebih baik, Odi menyarankan perlunya perhatian pada kesetaraan pendidikan di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah desentralisasi Ujian Nasional. "Di Jakarta mudah dapat akses informasi, sementara di Papua nggak mudah."

Pendapat itu berangkat dari pengalaman Odi ketika pindah SMA dari Bangil (Jawa Timur) ke Jakarta sewaktu mulai menginjak bangku SMA pada 2004. Aktor berusia 27 itu terhambat oleh sistem kurikulum baru --Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang masih diterapkan di Jakarta.

Soal kurikulum, Acha menilai tak perlu sering ganti kurikulum dan buku. "Itu enggak efektif dan membingungkan anak, menghambat mereka untuk mencetak prestasi," ujar aktris yang kuliah di Malaysia ini.

Acha juga ingin metode pelajaran dibuat lebih "memancing" pelajar. "Seharusnya sejak dini, sekolah memberikan metode pembelajaran yang memancing rasa analitik dan berpikir kritis untuk para siswa."

Lalu bagaimana cara merawat Indonesia? Odi mengatakan meraih prestasi personal. "Jangan berharap ke orang lain, tentukan nasib sendiri. Silakan menjadi ahli dalam bidang masing-masing. Kalau setiap orang maju, pasti Indonesia akan terawat dengan sendirinya."

Sementara versi Acha; berbagi ilmu. "Seseorang belum dikatakan sudah sukses jika belum membagi ilmunya kepada orang yang lebih muda."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR