KRITIK FILM

Spider-Man: Into the Spider-Verse menurut para kritikus

Para Spider-Man dalam film Spider-Man: Into the Spider-Verse. Dari kiri ke kanan: Peni Parker, Gwen Stacy, Spider-Ham, Miles Morales, Peter Parker, dan Spider-Man Noir.
Para Spider-Man dalam film Spider-Man: Into the Spider-Verse. Dari kiri ke kanan: Peni Parker, Gwen Stacy, Spider-Ham, Miles Morales, Peter Parker, dan Spider-Man Noir. | Sony Pictures Animation

Film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse telah tayang mulai Jumat (14/12/2018) di bioskop-bioskop Indonesia.

Kisah manusia laba-laba yang satu ini berada dalam posisi unik. Film garapan trio sutradara Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman ini tak termasuk dalam rangkaian semesta Marvel Cinematic Universe (MCU) yang melibatkan aktor Tom Holland sebagai Spider-Man sekaligus alter ego-nya, Peter Parker.

Absennya Into the Spider-Verse dari dunia MCU disebabkan film ini murni produksi Sony Pictures, sama sekali tak melibatkan Disney sebagai pemilik Marvel Studios. Sony tak boleh membuat film Spider-Man tanpa campur tangan Disney -- itu sebabnya film Venom tak menampilkan Spider-Man sama sekali.

Meski begitu, Sony tetap bisa memproduksi film tentang Spider-Man, asalkan bukan versi hidup (live action). Jadilah Spider-Man: Into the Spider-Verse.

Keunikan lain dari film berdurasi 117 menit ini adalah melibatkan beberapa Spider-Man sekaligus. Sebagai film animasi, Sony bisa menampilkan kisah se-absurd mungkin dengan menggunakan teknik gabungan tiga dimensi, pencitraan komputer, dan cell-shading.

Dengan segala keasingan itu, film ini menjadi memukau. Dalam situs pengepul ulasan Rotten Tomatoes yang terhimpun hingga Jumat (14/12), film ini mendapat rating 98 persen dengan nilai rata-rata 8,9 dari 10 poin. Hanya tiga dari 188 ulasan yang berbau negatif.

Spider-Man: Into the Spider-Verse memadukan penceritaan tajam dengan animasi memukau, menjadikannya petualangan yang sangat nikmat dengan humor dan berbagai aksi para pahlawan super,” tulis Rotten dalam konsensus kritiknya.

Tokoh utama dalam Into the Spider-Verse adalah Miles Morales (diisi suara oleh Shameik Moore), bocah belasan tahun yang tiba-tiba bertemu dengan Peter Parker (Jake Johnson), orang yang menjadi Spider-Man sebelum Miles. Padahal, Peter sudah lama meninggal dunia.

Ternyata Peter yang ditemukan oleh Miles berasal dari semesta lain. Bos mafia Kingpin (Liev Schreiber) rupanya membuka portal ke dunia alternatif, menyebabkan para Spider-Man masuk ke semesta Miles.

Ada Ghost Spider alias Gwen Stacy (Hailee Steinfeld), Spider-Man Noir yang monokrom (Nicolas Cage), Parker versi anime Peni Parker (Kimiko Glenn), hingga Spider-Ham (John Mulaney) alias Spider-Man berbentuk babi. Bersama-sama, para manusia laba-laba bersatu untuk mengalahkan Kingpin.

Ramainya para Spider-Man adalah daya tarik utama film ini. “Into the Spider-Verse membuat kreatornya dan penonton menikmati ‘kue’ dan ‘kue lainnya’, lalu memakan semuanya sekaligus,” tulis Chris Kilmek dari NPR.

Sementara Mark Kennedy dari Associated Press menyatakan bahwa film ini merupakan sebuah paket lengkap. “Into the Spider-Verse menyegarkan, baik secara visual maupun naratif; dan dipadukan dengan penceritaan penuh intrik, humor, empati, aksi; tapi tetap setia pada akarnya,” tulis Kennedy.

Semua kenikmatan visual dan naratif itu berpadu dengan kemampuan para penulis naskah untuk memasukkan isu yang hangat saat ini, yaitu diversifikasi ras di Amerika Serikat.

“Siapa sangka film animasi ini dapat menampilkan barisan Spider-Man antar dimensi dalam bentuk yang segar, lucu, dahsyat, dan revolusioner?” tulis Peter Travers dari Rolling Stone. “Berintikan para pahlawan yang terdiri dari berbagai ras, film ini merupakan epik Spider-Man terhebat dan terkeren.”

Tentu saja komentar sumbang tetap ada, khususnya soal animasi film ini yang tidak biasa. Sebetulnya, ini bisa jadi soal selera saja. “Gerakannya tersentak-sentak, dentuman aksinya buram--keangkuhan cerdas yang rusak oleh animasi nan tidak rapi,” tulis Roger Moore dari Movie Nation.

Moore menyebut gerakan animasi film ini seperti serial kartun era 1960-an seperti Transformers. Ini tak jadi masalah, jika Into the Spider-Verse ditonton di rumah menggunakan televisi. “Tapi cukup jelek di layar lebar, dan merusak upaya yang lumayan bagus untuk menjelaskan ulang definisi ‘film komik’,” tulis Moore.

SPIDER-MAN: INTO THE SPIDER-VERSE - Official Trailer #2 (HD) /Sony Pictures Entertainment
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR