FILM INDONESIA

Sulitnya membuat film Wiro Sableng

Produser Lala Timothy (tengah, menengok ke arah kamera) dan sebagian pemain serta kru film Wiro Sableng, saat pemutaran perdana  film tersebut di Epicentrum XXI, Jakarta Pusat, pada Senin (27/8/2018).
Produser Lala Timothy (tengah, menengok ke arah kamera) dan sebagian pemain serta kru film Wiro Sableng, saat pemutaran perdana film tersebut di Epicentrum XXI, Jakarta Pusat, pada Senin (27/8/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Di atas panggung, mata Lala Timothy berkaca-kaca. Produser Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu tak bisa menahan haru setelah pemutaran perdana film tersebut di Epicentrum XXI, Jakarta Pusat, pada Senin (27/8/2018).

Perjuangan Lala, seluruh pemain, dan kru Wiro Sableng telah berbuah manis. Setelah film selesai diputar, ruangan bioskop riuh oleh tepuk tangan para penonton yang terdiri dari para jurnalis.

"Dari awal kami setuju; film ini dibuat untuk memuaskan penonton. Wiro itu sudah jadi milik kita semua, milik Indonesia," ujar Lala. Itu sebabnya tentu tak mudah untuk membuat film sekelas Wiro Sableng.

Proses produksi film kolosal itu butuh waktu dan tenaga yang masif. Lala menyatakan, pra-produksi membutuhkan enam bulan, lalu syuting selama empat bulan, dan disusul proses pasca-produksi sembilan bulan. Kru yang bekerja mencapai nyaris 1.000 orang.

Meski film ini merupakan kolaborasi dengan perusahaan asal Amerika Serikat, 20th Century Fox, tapi hampir semua kru yang terlibat adalah orang Indonesia. Seluruh detail seperti proses CGI (computer generated image/pencitraan komputer) juga digarap di Tanah Air.

Untuk mengurus CGI saja, diperlukan 99 orang yang terdiri dari 10 tim studio visual effect di beberapa kota di Indonesia. "Film ini ada sekitar 780 shot yang butuh CGI," ujar Gaga, salah satu seniman efek spesial yang terlibat dalam film Wiro Sableng.

Rentetan 780 shot itu mulai dari hal-hal sepele seperti pancaran tenaga dalam dari tangan Wiro (diperankan Vino Bastian), hingga adegan CGI kelas berat yang direkam di depan layar hijau.

Proses pengolahan CGI Wiro Sableng yang demikian besar bahkan punya pengaruh terhadap film Indonesia lainnya. "Hampir semua orang CGI di Jakarta ketarik ke film ini, jadi banyak PH lain yang mengeluh," ujar Gaga sambil tertawa.

Menurut Gaga, dari dulu ia menantikan ada film kolosal sekelas Wiro Sableng. "Selama ini kami menunggu-nunggu PH (production house/rumah produksi, red.) yang seberani ini. Dari lihat production design-nya saja sudah enak banget buat diolah."

Desain produksi yang disebut Gaga digarap oleh Adrianto Sinaga. Sebelumnya ia menangani desain dalam Bangsal 13 (2004), serta menata artistik dalam Tusuk Jelangkung (2001) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002).

Untuk Wiro Sableng, Adrianto benar-benar membuat konsep desain khas Nusantara. Dari Kapak Naga Geni 212 yang digunakan Wiro; selendang Anggini (Sherina Munaf); hingga pernak-pernik dalam film ini seperti senjata, hiasan, mahkota, dan lain-lain.

"Bisa saja kami meniru luar negeri. Tapi, kalau budaya Indonesia, kan kita sendiri yang paling paham," ujar Adrianto.

Semua dibikin tak hanya untuk sedap dipandang, tapi juga nyaman untuk para aktor. Maklum, Wiro Sableng adalah film laga yang menuntut para pemeran bergerak lincah.

Itu bikin Adrianto tak hanya terlibat dalam proses praproduksi. Ia juga terus hadir dalam proses syuting hingga pascaproduksi. Menurut Lala, jarang ada desainer produksi yang terlibat sedalam itu.

Selain proses setelah dan sebelum produksi, perjuangan para kru dan pemain saat syuting tak kalah berat.

Contoh kecil; sebagian adegan diambil di daerah Ciwidey, Jawa Barat. Tempatnya hutan, dengan udara dingin. "Buat saya, salah satu yang paling berat ya dinginnya itu. Karakter saya kan enggak pakai baju," jelas Dian Sidik, pemeran Kalingundil.

Segala perjuangan yang dilakukan segenap kru dan pemain tak hanya bertujuan agar Wiro Sableng menjadi film yang bagus, tapi juga meyakinkan penonton Indonesia bahwa industri film nasional juga bisa bikin karya yang tak kalah dari produksi luar negeri.

"Saya selalu merasa filmmaking itu bukan karya sutradara saja, tapi semua seniman, mulai pemeran sampai grafik," ujar sutradara Angga Dwimas Sasongko.

"Di belakang saya ada talenta terbaik film Indonesia dari DOP (director of photography/penata kamera, red.), editor, production designer, fashion stylist. Semoga film ini bisa memberi satu warna baru dan pesan untuk penonton bahwa Indonesia bisa bikin film yang enggak kalah dari seluruh dunia," tutup Angga.

Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 30 Agustus 2018.

WIRO SABLENG TRAILER - 30 AGUSTUS 2018 DI BIOSKOP [HD] OFFICIAL /Lifelike Pictures
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR