FILM INDONESIA

Sunyaruri dipersiapkan menjadi penutup trilogi film Danur

Prilly Latuconsina bersama Awi Suryadi usai press screening film Danur 3: Sunyaruri di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (24/9/2019)
Prilly Latuconsina bersama Awi Suryadi usai press screening film Danur 3: Sunyaruri di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (24/9/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Bagian ketiga dari salah satu waralaba film horor nan laris, Danur, tayang secara luas di bioskop mulai hari ini (26/9/2019). Seperti dalam versi bukunya, seri ketiga kali ini mengusung subjudul Sunyaruri.

Dalam sesi konferensi pers usai penayangan film tersebut untuk kalangan wartawan di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (24/9), sutradara Awi Suryadi mengatakan bahwa kemungkinan Danur 3: Sunyaruri merupakan seri penutup.

Tanda-tanda Sunyaruri menjadi penutup terlihat saat naskah untuk ending cerita film mendadak diubah sepekan menjelang syuting.

“Perubahan itu dari idenya Pak Manoj sih. Biasanya memang kalau pulang liburan dari Amerika, dia suka bawa ide yang aneh-aneh. Saya juga tidak tahu dari mana datangnya ide tersebut. Ha-ha-ha,” ujar Awi.

Prilly Latuconsina, pemeran utama dalam waralaba film ini, mengaku kaget dengan perubahan naskah yang terjadi. “Padahal sebelumnya kami semua sudah melakukan reading dengan ending yang lain,” ungkapnya.

Dalam versi novelnya yang terbit pada 2013, penulis Risa Saraswati memang menjadikan Sunyaruri sebagai penutup trilogi setelah Danur dan Maddah.

Pun demikian, Awi dan Prilly mengaku tidak bersedih hati jika benar tidak akan ada lagi sekuel berjudul Danur 4 pada masa mendatang.

Seluruh tim yang mengerjakan mengaku sudah berusaha sekuat tenaga. Termasuk Prilly yang bahkan hampir pingsan sehingga harus diinfus lantaran keletihan menjalani proses syuting yang diakuinya sangat berat.

Pemeran Risa itu sengaja menyembunyikan kondisi tubuhnya yang letih. Alasannya karena tak ingin mengecewakan rekan-rekan kerja yang lain dan mengganggu jadwal syuting.

“Dari kejadian itu kelihatan betapa tinggi komitmen dia, juga para pemain dan seluruh kru yang lain untuk film ini. Kami anggap ini sebagai persembahan terakhir sehingga memberikan semaksimal yang kami mampu,” sambung Awi.

Kepada Beritagar.id, Awi mengaku bahwa proses syuting Sunyaruri paling banyak menyita waktu dibandingkan dua film Danur terdahulu, termasuk Asih yang menjadi sempalan alias spin-off.

“Syuting film ini habis 19 hari. Waktu syuting Danur kemarin kami kerjakan dalam 11 hari. Gila ngebut banget. Ha-ha-ha. Kalau Maddah butuh 12 hari, sedangkan Asih menghabiskan 13 hari,” jelas Awi.

Risa juga mengaku puas dengan hasil akhir film Sunyaruri sehingga menurutnya layak dijadikan kisah penutup. “Ini paket lengkap yang pas sebagai klimaks,” pungkasnya.

Sejarah mencatat bahwa seri pertama waralaba ini pernah menjadi film horor terlaris di Indonesia sepanjang masa.

Itu terjadi ketika Danur: I Can See Ghosts yang rilis 30 Maret 2017 sukses mengumpulkan 2,7 juta penonton.

Sekuelnya yang meluncur setahun kemudian, Danur 2: Maddah, juga masih sanggup membukukan angka 2,5 juta penonton.

Catatan lebih dari dua juta penonton mengalami penurunan ketika MD dan Awi menggarap prekuel Danur berjudul Asih (rilis 2018) yang tanpa diperkuat Prilly. Film tersebut mengantongi 1,7 juta tiket penonton.

“Kalau ini jadi film Danur yang terakhir, saya sudah puas karena telah mengerjakannya dengan sekuat tenaga. Semoga yang menonton nanti juga puas,” kata Prilly.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR