FILM INDONESIA

Tantangan membuat film ala Ernest Prakasa dan Lala Timothy

Diskusi perfilman Indonesia bersama Ernest Prakasa dan Lala Timothy. Dalam forum diskusi bertajuk Ngobrol Aja Dulu, turut hadir Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Triawan Munaf, pada 28 Maret 2019.
Diskusi perfilman Indonesia bersama Ernest Prakasa dan Lala Timothy. Dalam forum diskusi bertajuk Ngobrol Aja Dulu, turut hadir Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Triawan Munaf, pada 28 Maret 2019. | /Tokopedia

Jumlah penonton film lokal di Indonesia makin meningkat. Menurut data yang dilansir filmindonesia, terjadi pelonjakan penonton yang cukup besar di tahun 2018 dibanding 2017.

Posisi pertama pada tahun 2018, diduduki film Dilan 1990 yang mencapai 6.315.664 penonton. Angka penonton yang diraih Dilan 1990, lebih tinggi dibanding film Pengabdi Setan yang sama-sama menduduki puncak perfilman Indonesia pada 2017 dengan jumlah penonton 4.206.103.

Melihat tren perfilman Indonesia yang membaik dari tahun-tahun sebelumnya, membuat Sheila “Lala” Timothy meyakini bahwa industri film Tanah Air akan terus membaik dengan hadirnya film-film berkualitas.

“Tahun ini (2019) film Indonesia lagi positif. Kualitas film semakin meningkat sehingga membuat film Indonesia dapat diterima. Contoh ketika saya memproduseri film Wiro Sableng. Saya menjalin networking dari mancanegara. Dari networking kita bisa membangun ide supaya bisa menjadi menarik,” ungkap Lala dalam talkshow kolaboratif Tokopedia dan Narasi TV, Ngobrol Aja Dulu, pada 28 Maret 2019.

Kecintaan Lala terhadap industri film dapat dilihat dari karya yang telah dibuat. Lala yang kini menjadi Founder dan Presiden Direktur Life Like Pictures, sudah memproduseri beberapa film seperti Film Wiro Sableng 212, Banda The Dark Forgotten Trail, Tabula Rasa, Modus Anomali, dan Pintu Terlarang.

Dari sekian film yang telah diproduserinya, ia mengaku mendapat tantangan yang cukup berat sekaligus menambah ilmu ketika memproduseri film Wiro Sableng 212.

Wiro Sableng adalah film terbesar saya dengan melibatkan 1000 kru. Karena jalan cerita Wiro Sableng itu fantasi dengan menampilkan 850 visual effect dan prosesnya ribet. Selain itu, kami membuat sistem metriks yang menggabungkan seluruh chief department di lapangan. Contoh melibatkan Yayan Ruhiyan yang menjadi koreo gerakan fighter. Jadi kita banyak ngobrol dan berbagi ilmu,” pungkas Lala.

Berbeda dengan Lala, Ernest Prakasa punya pendekatan berbeda ketika ia menggarap sebuah film. Ernest yang merupakan aktor, sutradara, penulis, dan stand up comedian , punya tantangan tersendiri ketika berada di lokasi syuting.

"Tantangan terberat gue ketika di lapangan itu people management. Mengatur segitu banyak orang di lokasi syuting dengan karakter dan ego masing-masing itu susah. Nah, pendekatan gue ke pemain berjalan natural aja. Satu hal yang harus diingat dalam memproduksi film adalah bikin cerita se-relate mungkin," ujar Ernest.

Selain mengisahkan tantangan membuat film, Ernest juga mengungkapkan pembelajaran dalam menggarap film, sehingga membuat dirinya mampu menyutradarai beberapa film yang digemari masyarakat, seperti Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Milly & Mamet.

“Awalnya belajar film dari literatur (nulis, baca) dan bisa memanfaatkan media yang ada seperti YouTube dan lain lain. Gue paling menikmati nulis dan bikin skenario. Dengan menjalani nulis dan menjadi sutradara, gue bisa menjalani proses tadi (menjadi sutradara) dengan baik,” lanjut Ernest

Harapan film Indonesia untuk semakin maju

Meski tren film Indonesia sedang menanjak, Lala dan Ernest melihat industri film Indonesia harus terus melakukan pembenahan agar bisa bersaing dengan film-film mancanegara. Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan para pembuat film (filmmaker) dalam membuat sebuah karya.

“Buat saya, untuk mengingatkan kita para filmmaker, terutama filmmaker Indonesia bahwa kita punya industri dan sebagai stakeholder perfilman Indonesia harus sama-sama untuk bisa maju. Industri perfilman Indonesia punya banyak PR untuk bisa maju seperti negara-negara lain. Misalnya menambah jumlah layar (bioskop) kita yang masih sedikit,” jelas Lala.

Selain Lala, Ernest juga menaruh harapan kepada para filmmaker Indonesia. Ernest berpendapat bahwa para filmmaker dapat menampilkan lebih banyak variasi genre film agar industri film lokal tidak stagnan.

“Dari sisi filmmaker sih aku berharap salah satu ciri industri yang sehat adalah variasi film. Variasi seperti ini lebih sehat walaupun genre horor masih ngetren. Tapi tetap ada kemunculan-kemunculan dari berbagai genre lain juga. Semoga terus dilestarikan oleh filmmaker lain,” ungkap Ernest.

Sementara Kepala Badan Ekonomi dan Kreatif (BEKRAF) Triawan Munaf, menjelaskan bahwa BEKRAF turut aktif dalam memajukan perfilman Indonesia. Ia melakukan berbagai kebijakan untuk mendorong industri perfilman sebagai jembatan yang memberikan efek berlapis (multiplier effect) terhadap berbagai subsektor ekonomi kreatif lain.

“Film memiliki potensi untuk memberikan efek positif bagi subsektor ekonomi kreatif lain. Misalnya saja Laskar Pelangi yang berhasil meningkatkan pariwisata Belitung, maupun film Dilan yang berhasil memperkenalkan sisi lain Kota Bandung ke seluruh Indonesia,” terang Triawan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR