Tantangan untuk Deddy Soetomo dan Christine Hakim di film Kartini

Sosok keluarga besar Raden Ajeng Kartini dalam film Kartini. Ayahnya Raden Aryo Sosroningrat (diperankan Deddy Soetomo) sedang duduk, di kursi sebelah kiri. Sementara ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) duduk di lantai, berbaju hitam, paling kanan.
Sosok keluarga besar Raden Ajeng Kartini dalam film Kartini. Ayahnya Raden Aryo Sosroningrat (diperankan Deddy Soetomo) sedang duduk, di kursi sebelah kiri. Sementara ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) duduk di lantai, berbaju hitam, paling kanan.
© Legacy Pictures

Bagi hampir semua orang, sosok ayah dan ibu amat penting. Tak terkecuali Raden Ajeng Kartini, pejuang emansipasi wanita yang kisahnya akan segera diangkat ke layar lebar dalam film Kartini, dihidupkan oleh aktris Dian Sastrowardoyo.

Dua aktor penuh pengalaman akan menghidupkan ayah dan ibu Kartini. Deddy Soetomo (75) memerankan Raden Mas Aryo Sosroningrat, ayah Kartini yang bijaksana dan sangat memahami cita-cita Kartini. Sementara aktris Christine Hakim (60), memerankan Ngasirah, ibu Kartini.

Deddy adalah aktor yang sangat berpengalaman. Puluhan judul film sudah ia bintangi, seperti Pandji Tengkorak (1971), Laila Majenun (1976), Kerikil-Kerikil Tajam (1984), hingga The Raid 2 (2014).

Pengalaman segudang tidak membuat Deddy malas belajar. Sebagai persiapan syuting Kartini, Deddy melakukan banyak penelitian.

"Kami harus mencari, mengeksplorasi, menggali, bagaimana latar belakang sosial, keningratan, karakter, dan tradisi pada waktu itu," ujar Deddy dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id, Kamis (16/3/2017).

Selain itu, masalah logat dan budaya Jawa tempo dulu juga dipelajari dengan baik oleh aktor kelahiran Jakarta ini. "Saya harus banyak belajar dari orang yang lebih mengerti tentang budaya Jawa pada waktu itu, bagaimana sikap, gestur, dan tindak tanduk seorang bangsawan pada waktu itu."

Dilansir dari buku "Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita" karya Edi Warsidi, ayah Kartini merupakan Bupati Jepara. Saat itu, Raden Mas Aryo Sosroningrat adalah sosok bupati yang berpikiran modern di zamannya.

Ketika Kartini berusia 7 tahun, Aryo Sosroningrat mengirimnya ke sekolah --hal yang langka untuk wanita di zamannya, apalagi untuk wanita pribumi.

Ketika masuk masa pingitan, setelah berusia 12 tahun, Kartini mengungkap keinginannya untuk melanjutkan sekolah pada sang ayah. Keinginan itu membuat Aryo Sosroningrat gundah.

Aryo ingin anaknya tak kalah dengan anak-anak Belanda, tapi tetap memegang adat tradisi Jawa. Apalagi kakak tertua Kartini, yaitu Raden Mas Adipati Sosroningrat, tak setuju dengan cita-cita adiknya. Aryo pun mengambil jalan tengah, Kartini diperbolehkan berhubungan dengan teman-teman sekolahnya dari Belanda lewat surat-menyurat.

Selain didikan ayahnya dan hubungannya dengan teman-teman Belanda, mungkin dari ibunya Kartini bisa memiliki ide tentang emansipasi wanita. Ibu kandung Kartini yaitu Ngasirah adalah anak seorang kyai terpandang. Namun ia terhitung tetap sebagai rakyat biasa, bukan keturunan bangsawan.

Karena peraturan kolonial Belanda mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan, akhirnya ayah Kartini memadu Ngasirah dengan mempersunting seorang priyayi bernama Raden Adjeng Woerjan, yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura.

Bagi Christine Hakim, posisi Ngasirah itu menimbulkan kesulitan tersendiri.

"Sulit bagaimana menentukan, di satu pihak, dia bukan pembantu, di lain pihak status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dia jalani (hanya) agak lebih tinggi sedikit dari pembantu," ujar Christine.

Sosok Ngasirah mungkin tak terlalu dikenal masyarakat, tapi tak jadi alasan bagi peraih tujuh Piala Citra ini untuk tidak melakukan riset.

"Tugas saya sebagai aktor adalah memahami dan menghidupkan peran yang diberikan. Termasuk bagaimana peran itu hidup, bernafas dan berinteraksi dengan karakter yang lain," jelasnya.

"Saya mencoba menganalisis Ngasirah dengan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya."

Pemeran utama Badai Pasti Berlalu (1977) ini bahkan sempat tinggal di set bangunan yang memang dibangun khusus untuk film Kartini beberapa hari sebelum syuting. Dia ikut membersihkan rumah tersebut dan berpakaian selayaknya Ngasirah meski sedang tidak syuting.

"Membuat film sejarah itu secara tidak langsung seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Saya punya tanggung jawab moral yang lebih besar, jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini dan kelurga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus," tutur Christine.

Kartini akan tayang pada 19 April 2017, sehari lebih cepat dari jadwal semula.

Selain Dian Sastro, Christine Hakim, dan Deddy Soetomo, ada Acha Septriasa dan Ayushita Nugraha sebagai adik-adik Kartini. Juga dereten bintang lain seperti Adinia Wirasti, Denny Sumargo, Rianti Cartwright, Rudy Wowor, Dwi Sasono, dan Reza Rahadian.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.