FESTIVAL SENI

Tawarkan pencerahan, Artjog 2018 dibuka 4 Mei

Seorang pekerja, Kamis (26/4/2018), menyelesaikan pemajangan karya Sea Remembers karya Mulyana. Seniman alumnus Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung itu terpilih sebagai commisioned artist Artjog 2018 yang bertema Enlightenment.
Seorang pekerja, Kamis (26/4/2018), menyelesaikan pemajangan karya Sea Remembers karya Mulyana. Seniman alumnus Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung itu terpilih sebagai commisioned artist Artjog 2018 yang bertema Enlightenment. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Bursa seni rupa terbesar di Indonesia, Artjog, kembali digelar di Yogyakarta sepanjang bulan Mei 2018. Pagelaran seni tahunan yang ke-11 ini akan dibuka pada Jumat (4/5), berlangsung hingga 4 Juni, dan memamerkan seratusan karya 54 seniman dalam negeri dan mancanegara.

Lima hari menjelang pembukaan, panitia terus menggeber persiapannya. Pada Ahad (29/4) petang, puluhan pekerja terlihat sibuk mempercantik gedung Jogja National Museum yang menjadi pusat pameran. Beberapa karya sudah terpasang di ruang pamer gedung berlantai tiga itu.

"Kami mempersiapkan semaksimal mungkin agar bisa menyajikan kebaruan bagi para penikmat seni," kata penyelenggara, Heri Pemad, dalam konferensi pers, Kamis (26/4).

Selama satu dekade terakhir Artjog menjadi ajang pertemuan gagasan dan ide baru dalam berkesenian. Berawal pada 2008 dengan nama Jogja Art Fair, acara ini semula memajang karya seni rupa; lukisan dan patung. Belakangan karya yang dipamerkan berkembang dalam bentuk media yang lebih beragam.

Heri mengamini perkembangan itu. Tahun ini, ia melanjutkan, Artjog bahkan mendeklarasikan diri menjadi ajang bagi seni visual.

Salah satu yang terpenting adalah adalah daily performance. Sepanjang perhelatan berlangsung, penyelenggara menampilkan beragam seni pertunjukan saban hari. Dari musik, teater, hingga tari.

"Tiap malam ada tiga performance yang meramaikan," katanya.

Seperti tahun sebelumnya, Artjog juga mengusung tema khusus dalam tiap perhelatannya. Tahun ini, Artjog menyodorkan Enlightenment: Toward Various Future (Pencerahan: Menuju Beragam Masa Depan, red.) sebagai tema pamerannya.

Jika tahun sebelumnya, dengan tema Changing Perspective, Artjog menempatkan seni sebagai pendorong perubahan sosial dan budaya, maka Enlightenment adalah pencerahan.

Kurator Artjog Bambang "Toko" Witjaksono mengatakan pencerahan itu bisa dimaknai dalam berbagai perspektif: individu, sosial, hingga budaya. Pencerahan adalah sebuah proses. Ia memberi contoh "pencerahan" Raden Ajeng Kartini bagi kaum perempuan, proklamasi kemerdekaan Indonesia.

"Pencerahan bisa dirasakan saat itu tapi (peristiwa) itu menjadi proses yang hasilnya dinikmati anak cucu saat ini," jelas Toko.

Tema pencerahan pada hakikatnya seutas benang merah yang terhubung dengan tema-tema sebelumnya. Selama tiga tahun terakhir, Artjog mengusung gagasan mengembangkan makna dan fungsi sosial dari kekontemporeran.

Tema tahun 2015 Infinity in Flux untuk menggali pengalaman inderawi, tahun 2016 Universal Influence untuk mengajak para seniman menjawab budaya global selama dua dekade terakhir, dan terakhir pada tahun 2017 mengusung tema Changing Perspective.

Bambang mengatakan gagasan mengusung Enlightenment sebagai tema tahun 2018 ini muncul setahun lalu, tepat setelah gelaran Artjog 2017 rampung. Sepanjang setahun terakhir, gagasan itu terus dimatangkan untuk menjadi tema utama tahun 2018. "Waktu itu sudah ada (rencana tema) tapi belum matang benar," katanya.

Ingatan tentang lautan

Sebuah kubah berbentuk mirip berlian dibangun di pelataran gedung Jogja National Museum Yogyakarta, Kamis (26/4/2018). Sepekan menjelang pembukaan penyelenggara terus mempercantik gedung yang menjadi pusat pameran yang berlangsung 4 Mei hingga 4 Juni 2018.
Sebuah kubah berbentuk mirip berlian dibangun di pelataran gedung Jogja National Museum Yogyakarta, Kamis (26/4/2018). Sepekan menjelang pembukaan penyelenggara terus mempercantik gedung yang menjadi pusat pameran yang berlangsung 4 Mei hingga 4 Juni 2018. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Jika datang ke perhelatan Artjog, Anda akan menemui sebuah kubah berwarna keperakan dengan tinggi 9 meter di pelataran Jogja National Museum. Di sanalah selama sebulan mendatang, bersarang tiruan figur-figur bawah laut berbahan rajutan.

Secara khusus, panitia membuat ruangan itu untuk karya Mulyana. Alumnus Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, kelahiran 1984 itu terpilih sebagai commisioned artist Artjog 2018. Tiga tahun sebelumnya, ia pernah menjadi seniman peserta Artjog.

"Saya mengagumi karya Muyana sejak 2015," kata Heri Pemad.

Di Artjog 2018 ini Mulyana menyuguhkan karya berjudul Sea Remembers. Ia bekerja dengan teknik rajut. Sea Remembers menghadirkan serangkai koral dan terumbu karang warna-warni yang melekat pada kerangka paus, serta sekumpulan ikan serupa ledakan akibat bom.

Dalam catatan katalog Artjog, Mulyana disebut memiliki ketertarikan mendalam pada lautan. Bagi dia, dunia bawah laut menyimpan misteri dan rahasia yang kerap membuat banyak orang takut. Dan ketakutan itu bersumber pada ketidaktahuan.

Kehidupan bawah laut berbeda dengan di atas permukaan. Semua tampak dan kasat oleh mata sehingga orang bisa melihatnya dengan jelas.

Sayangnya, perasaan sudah tahu apa yang ada di atas permukaan membuat manusia berhenti menyelami kehidupan bawah laut. Padahal dengan berhenti menggali bawah lautan itu membuat pengetahuan terjebak pada kedangkalan.

Di sinilah pentingnya sebuah pencerahan.

Dalam paragraf lain tertulis, pencerahan dimaknai sebagai upaya mengusir kegelapan. Dalam tataran yang lebih luas, kegelapan itu bisa berbentuk pandangan sempit, fanatisme, etnosentrisme, ultra-nasionalisme, sampai fundamentalisme.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR