TEATER

Teater Abnon Jakarta, wujud janji Maudy Koesnaedi

Maudy Koesnadi, pimpinan produksi Teater Abnon dalam acara Bincang Seni Pertunjukan Indonesia yang digelar Bakti Budaya Djarum Foundation di kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017).
Maudy Koesnadi, pimpinan produksi Teater Abnon dalam acara Bincang Seni Pertunjukan Indonesia yang digelar Bakti Budaya Djarum Foundation di kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Kebanyakan orang mengenalnya sebagai Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). Tak banyak yang tahu kalau Maudy Koesnaedi adalah pemimpin produksi Teater Abang None (Teater Abnon), sebuah komunitas pentas berisi para peserta kontes Abang None Jakarta.

Sebagai pemimpin produksi, wanita berusia 42 tahun ini punya tanggung jawab lebih besar dibanding sutradara, penulis naskah, pemain, dan kru lainnya. Rupanya ini adalah bagian dari pemenuhan janji yang pernah ia ikrarkan, puluhan tahun lalu.

Semua bermula saat pemilihan Abang dan None Jakarta 1993. Dalam ajang tahunan itu, Maudy menang. Sebelumnya, ia ditanya juri, apa yang akan dilakukan jika menjadi None Jakarta.

"Saya jawab, akan membuat aktivitas yang dapat memperkenalkan seni budaya Betawi pada anak muda," ujar Maudy dalam acara Bincang Seni Pertunjukan Indonesia yang digelar Bakti Budaya Djarum Foundation di kota Kudus, Jawa Tengah, Selasa (3/10/2017).

Teater Abang None Jakarta adalah wujud janji itu. Tapi semua tak instan. Setelah jadi None Jakarta 1993, Maudy terpilih untuk memerankan Zaenab dalam SDAS. Peran yang melambungkan namanya; hingga kini ia kerap dipanggil Mpok Zaenab.

Sinetron dengan latar budaya dan nuansa Betawi yang kental itu sebenarnya membuat Maudy merasa telah cukup memperkenalkan budaya asli Jakarta kepada anak muda. "Tapi kan yang memperkenalkan Rano Karno, bukan saya."

Pada 2008, ia kembali memikirkan janjinya 15 tahun sebelumnya itu. Istri pebisnis Erik Meijer ini kembali merenung, apa yang bisa memperkenalkan budaya Betawi pada anak muda. Menurut Maudy, sulit memperkenalkan konsep lenong kepada anak muda.

"Saya nggak mau maju dengan lenong, sebab konotasinya kampungan, seperti Mandra gitu," ujar Maudy sambil tertawa. Mandra adalah karakter abang (kakak lelaki) Doel dalam sinetron SDAS. Jika Doel (Rano Karno) digambarkan keren dan pintar, Mandra kebalikannya.

Oleh karena itu ia mengambil konsep musikal yang bisa menarik anak muda untuk menonton, tetap kekinian tapi bisa diisi dengan berbagai seni Betawi. Ia pun bertekad menceburkan diri secara total demi budaya Betawi untuk membuat pentas Cinta Dasima dengan para pemeran dari alumni Abang None Jakarta.

Langkah yang terbilang nekat, sebab ia tak tahu apa-apa mengenai produksi seni pertunjukan. "Saya mulai dari nol banget. Akhirnya saya keliling menonton seni pertunjukan apapun. Mengumpulkan orang, mencari SDM, dan melakukan presentasi untuk mencari uang yang dibutuhkan."

Setelah 9 bulan akhirnya Teater Abnon bisa menggelar pentas Cinta Dasima. Sekali lagi Maudy berpikir, janjinya sudah terpenuhi. Cinta Dasima cukup sukses dan dinilai berhasil oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Kumis itu, karya Teater Abnon selanjutnya harus melibatkan Abang None seluruh wilayah Jakarta.

Akhirnya pada 2010 Teater Abnon kembali berkarya lewat pentas Si Doel, Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik.

Hingga kini, Teater Abnon sudah memproduksi pentas kedelapan, yang terakhir adalah Babe, Muka Kampung Rejeki Kota. Pentas yang diselenggarakan pada 15-16 September 2017 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat itu mengangkat kisah seniman legendaris Betawi, H. Benyamin Sueb.

Meski terus berkarya, jalan tak selamanya mulus bagi Maudy. Terkadang ia ingin melepaskan beban sebagai pemimpin produksi. Sembari bergurau, ia mengatakan, "Setelah pentas, suami saya selalu bilang, 'tahun depan jangan lagi ya'."

Toh, Teater Abnon jalan terus. Biarpun kesulitan terus menerpa, hal yang menyenangkan bagi Maudy adalah mendapatkan penonton baru, yang benar-benar baru menonton seni pentas.

"Penonton Teater Abnon mungkin cuma haha-hihi saja tapi saya nggak keberatan kok. Yang penting anak Abnon bisa belajar seni Betawi, apapun bentuknya. Penonton teater pertama kali bisa terhibur, buat saya sudah senang. Karena saya memang ingin bikin komunitas penonton baru," jelas wanita keturunan Sunda ini.

"Walaupun berdarah-darah terus, Teater Abnon harus tetap terus berkarya," tutup Maudy dengan mantap.

Catatan redaksi: Sebelumnya tertulis wawancara dilakukan pada 3/4/2017, seharusnya 3/10/2017. Mohon maaf untuk kesalahan ini.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR