PENTAS SENI

Teater Koma hidupkan kisah Mahabarata dalam Asmara Raja Dewa

Cuplikan pementasan Asmara Raja Dewa yang dilakukan di Sanggar Teater Koma, kawasan Bintaro, Rabu (7/11/2018).
Cuplikan pementasan Asmara Raja Dewa yang dilakukan di Sanggar Teater Koma, kawasan Bintaro, Rabu (7/11/2018). | Image Dynamics

Teater Koma akan menggelar pementasan bertajuk Mahabarata: Asmara Raja Dewa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada 16-25 November 2018. Lakon ini bakal menjadi produksi ke-154 dari teater yang berdiri sejak 1977 itu.

Mahabarata: Asmara Raja Dewa mengangkat kisah kehidupan para dewa dan wayang, menjadi titik terawal untuk lakon-lakon lainnya dari semesta Mahabarata.

Penulis naskah dan sutradara adalah Nano Riantiarno (69), yang juga bertindak sebagai pemimpin Teater Koma. Ia beranggapan bahwa Mahabarata adalah kisah lama yang masih memikat dan amat luas potensinya untuk diceritakan.

“Ini lakon para Dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia. Genesis. Lakon ini tidak masuk kepada pakem. Ini lakon yang sumbernya bisa dari mana saja,” ujar Nano dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id pada Rabu (7/11/2018).

Dari kekosongan, Sang Hyang Wenang mencipta Tiga Dunia: Mayapada (dunia atas), Madyapada (dunia gelap), dan Marcapada (dunia bawah), beserta seluruh penghuninya. Suatu ketika, perang dahsyat terjadi antara Idajil dan Hyang Tunggal, pewaris Wenang, untuk memperebutkan kekuasaan.

Idajil kalah, dibelenggu dan diasingkan. Setelah beberapa waktu, Hyang Tunggal lengser dan digantikan oleh Batara Guru.

Meski sudah terbelenggu di pengasingan, Idajil masih belum mau kalah. Ia selalu menghasut para perusuh dan berusaha memprovokasi Kaum Wayang. Belum lagi penghuni Dunia Gelap yang selalu berhasrat merebut kekuasaan dari Batara Guru.

Bersama Raja Dewa, Batara Guru harus melindungi Tiga Dunia dari gangguan Idajil dan pengikutnya yang haus kuasa.

Selain kebebasan dalam bercerita, Teater Koma, yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, akan menghidupkan kisah klasik ini secara modern.

“Kolaborasi harmonis antara kostum, tata rias, desain artistik panggung, musik, serta multimedia yang didukung dengan kepiawaian para pemain di atas panggung akan memanjakan mata kita,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Contohnya adalah latar animasi dan multimedia olahan Deden Bulqini yang akan didukung oleh proyektor Epson. Panggung akan diberi warna-warna meriah menggunakan tiga proyektor dengan rentang 12.500 hingga 25.000 lumens.

Animasi dan multimedia juga mengisi panggung bersama para aktor. Secara keseluruhan di lakon Mahabarata ada 26 adegan yang harus divisualkan.

"Untuk tata artistiknya secara visual ini kolaborasi antara teknik pemanggungan teater dan produksi film," ujar penata artistik Idries Pulungan saat jumpa pers di Sanggar Teater Koma, kawasan Bintaro, Rabu (7/11/2018).

Masalah multimedia dan cerita hanya beberapa contoh kebebasan dari segi kreativitas yang dilakukan oleh Nano Riantiarno selaku sutradara.

"Kita semua enjoy menggarap Mahabarata ini. Kalau ada orang yang nanya, ini versi Mahabarata yang mana? Ini versinya Nano Riantiarno, versinya Teater Koma yang kami dikasih ruang kreatif yang liar. Gabungan dari macam-macam," jelas Idries.

Pementasan Mahabarata: Asmara Raja Dewa kali ini didukung oleh aktor teater Idries Pulungan, Budi Ros, Sari Madjid, Alex Fatahillah, Dorias Pribadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Toni Tokim, Bayu Dharmawan Saleh, Angga Yasti, Tuti Hartati, Dana Hassan, Suntea Sisca, Julung Zulfi, Indrie Djati, Dodi Gustaman, Sekar Dewantari, Sir Ilham Jambak, Rangga Riantiarno, dan masih banyak lagi.

Bakti Budaya dan Teater Koma juga mengajak 200 pekerja seni teater, guru, dan mahasiswa di Jakarta untuk menonton Mahabarata: Asmara Raja Dewa sebagai bagian dari program Apresiasi Seni Pertunjukan Teater Koma.

Mahabarata: Asmara Raja Dewa dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki setiap hari dari tanggal 16 s.d 25 November 2018 pukul 19.30 WIB kecuali hari Minggu, 18 dan 25 November 2018 pukul 13.30 WIB.

Tiket untuk Selasa-Jumat berkisar dari Rp75 ribu hingga Rp400 ribu. Untuk akhir pekan, harganya Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara khusus hari Senin, tiket didiskon 20 persen dari harga Selasa-Jumat.

Catatan redaksi: Beritagar.id terafiliasi secara tidak langsung dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR