FILM INDONESIA

Terbang Menembus Langit angkat sisi lain Tarakan

Salah satu adegan dalam film Terbang Menembus Langit memperlihatkan sebuah pantai di Tarakan, Kalimantan Utara.
Salah satu adegan dalam film Terbang Menembus Langit memperlihatkan sebuah pantai di Tarakan, Kalimantan Utara. | /Demi Istri Production

Bila mendengar soal Tarakan; orang Jakarta boleh jadi akan menunjuk rumah sakit di kawasan Cideng, Jakarta Pusat. Namun Tarakan di sana sebenarnya merujuk pada sebuah pulau di provinsi Kalimantan Utara yang menjadi salah satu daerah transit sebelum ke destinasi wisata Derawan.

Film Terbang Menembus Langit pun mencoba mengangkat sisi lain Tarakan melalui kisah seorang tokoh yang lahir di pulau tersebut.

Tumbuh besar dari keluarga miskin, Onggy Hianata (diperankan Dion Wiyoko) berhasil jadi pengusaha dan inspirator--ia enggan disebut motivator--yang sudah mengadakan seminar di berbagai negara. Onggy adalah pemuda etnis Tionghoa yang lahir di Tarakan pada 1962.

Persoalannya, syuting di tempat yang terpencil seperti Tarakan tidaklah mudah. "Dari film ini, aku sadar kalau Indonesia itu sangat luas," ujar produser Susanti Dewi saat konferensi pers setelah pemutaran perdana Terbang Menembus Langit di Kemang Village, Jakarta Selatan pada Senin (16/4/2018).

Tadinya ia memperkirakan butuh tujuh hari untuk membawa alat produksi film dari Surabaya ke Tarakan lewat jalur laut. "Ternyata harus delay empat hari karena faktor pasang laut dan sebagainya," jelas perempuan yang akrab dipanggil Santi ini.

Tarakan juga belum pernah kedatangan kru film dalam jumlah besar. Masyarakat setempat masih gegar budaya dengan dunia film.

Menurut Santi, mereka tidak akrab pada istilah "casting". Tim produksi pun tidak dihiraukan saat datang ke sekolah-sekolah untuk mencari bocah yang akan memerankan versi cilik para karakter utama.

Alexander, salah satu aktor cilik bahkan sempat merasa bahwa casting ini hanya bohongan. "Di sekolah katanya ada yang mau bikin film. Tapi saya merasa kok kayak penipuan. Tapi penasaran, jadinya saya ikut. Terus dikabari kalau diterima, wuih, senang," ujar Alexander dengan wajah semringah.

Setelah berkolaborasi dengan pemda setempat, masyarakat baru meyakini bahwa proyek syuting yang dimulai pada Agustus 2017 ini bukan dusta.

"Warga jadi sangat antusias menerima kita. Dari pagi sampai malam mereka mengikuti kami syuting," ujar Santi.

Akhirnya, jadilah Tarakan sebagai latar film Terbang Menembus Langit yang menampilkan Onggy sejak kecil hingga menginjak bangku SMA pada akhir 1970-an, sebelum merantau ke Surabaya.

Menurut Onggy, Fajar Nugros sebagai sutradara dan rumah produksi Demi Istri Production mampu menghadirkan kota kelahirannya dengan akurat. "Jago sih sutradaranya, barang-barang kuno pun masih bisa didapatkan," ujar Onggy.

Ia pun berkilas balik mengenai masa kecilnya di pulau Tarakan. "Orang-orangnya dulu damai sekali, tidak ada hura-hura, ribut, demo. Kejahatan juga rendah sekali pada zaman saya," tutur lelaki yang kini berusia 56 itu.

Menurut Onggy, toleransi juga sangat tinggi di pulau itu meski punya ragam etnis seperti Bugis, Jawa, Banjar, Tidung, Tionghia, Toraja, dan Bulungan. "Cara berpikirnya ya kayak orang desa. Sampai sekarang toleransinya masih bagus. Saling menghargai juga lebih tinggi."

Enggan kisahnya difilmkan

Pengusaha dan inspirator Onggy Hianata (kiri) saat ditemui Beritagar.id pada konferensi pers pascapemutaran perdana Terbang Menembus Langit di Kemang Village, Jakarta Selatan, pada Senin (16/4/2018).
Pengusaha dan inspirator Onggy Hianata (kiri) saat ditemui Beritagar.id pada konferensi pers pascapemutaran perdana Terbang Menembus Langit di Kemang Village, Jakarta Selatan, pada Senin (16/4/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Tadinya, Onggy enggan kisah hidupnya difilmkan. "Beliau tidak percaya kalau cerita hidupnya itu keren," ujar Santi.

Namun akhirnya Onggy luluh. Ia merasa film ini dapat menjadi semacam warisan darinya untuk kalangan muda. "Pada saat ketemu tantangan hidup, mereka bisa ingat film ini," ujar Onggy.

Kisah hidup Onggy memang berbeda dari warga etnis Tionghoa yang stereotipenya adalah kaya raya sejak lahir. Ayahnya (dalam film diperankan Chew Kin Wah) hanya seorang karyawan, punya gaji kecil, dan tak cukup untuk membiayai sekolah sembilan anaknya.

Sejak kecil, Onggy dibiasakan untuk kerja keras, dari mencari kayu bakar, berkebun, memelihara ternak, hingga berjualan di pasar.

"Indonesia butuh contoh kisah kerja keras. Kalau kita kerja keras, kita bisa meraih apapun. Mau suku, ras, dan warga apapun juga," ujar sutradara Fajar Nugros.

Terbang Menembus Langit mengisahkan kerja keras Onggy dengan pemanis dari sisi romantis dalam diri Candra (Laura Basuki), perempuan yang kelak jadi istrinya. Film ini juga dibintangi Baim Wong, Delon Thamrin, Aline Adita, Melisa Karim, Dinda Hau, dan Marcel Darwin. Terbang akan tayang di bioskop mulai Kamis, 19 April.

Teaser: Terbang Menembus Langit /demi istri production
BACA JUGA