FILM INDONESIA

Teror lampor sang pembawa keranda mayat

Salah satu adegan dalam film Lampor: Keranda Terbang. Tayang di bioskop mulai 31 Oktober 2019
Salah satu adegan dalam film Lampor: Keranda Terbang. Tayang di bioskop mulai 31 Oktober 2019 | Starvision

Sejak dahulu kala Nusantara dikenal memiliki banyak kearifan lokal. Salah satunya cerita tentang keberadaan dedemit. Lampor sang pembawa keranda mayat yang berkembang dalam tutur masyarakat Jawa adalah salah satunya.

Menghadirkan teror lampor ke layar lebar dilakukan produser Chand Parwez dari Starvision setelah mendengarkan cerita masa kecil sutradara Guntur Soeharjanto (43).

Lampor dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa adalah pasukan Nyi Blorong, panglima terkuat Nyi Roro Kidul sang penguasa Pantai Laut Selatan.

Berbeda dengan cerita tentang dedemit lainnya, lampor bukanlah sosok tunggal, melainkan sekumpulan prajurit alias pasukan. Sebagian orang mengatakan wujudnya menyerupai obor terbang yang menyala.

Cerita lainnya menyebut pasukan ini dipimpin oleh satu makhluk besar hitam, terbang dengan muka rusak, dan bermata merah menyala.

Sementara pasukannya hanya diwakili suara gemuruh yang mengucapkan semacam himne berbunyi “welwoo.... welwoo....welwoo..."

Ketika pasukan ini menyambangi sebuah desa, maka dipastikan ada teror dan korban.

Dalam jumpa pers usai penayangan perdana film Lampor: Keranda Terbang di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (3/10/2019), Chand Parwez mengaku bahwa kisah tentang lampor sangat menarik dan faktual untuk dihadirkan dalam film.

“Berdasarkan cerita Guntur, ternyata begitu banyak korban lampor. Ada yang hilang dan meninggal, ada juga yang sempat kembali tapi lalu menjadi tidak waras, sakit, atau trauma berkepanjangan,” ujar Chand Parwez.

Unsur lain yang membuat cerita ini menarik adalah muatan kearifan lokal sehingga menjadikannya horor yang berbeda.

Lagi pula sangat jarang film horor kita yang mengangkat tentang lampor. Beda cerita dengan pocong, kuntilanak, atau wewe gombel yang sudah menghiasi banyak film.

“Konten yang sangat lokal dan cerita misteri dengan tradisi Jawa yang kental adalah sesuatu yang kuat dan menarik. Mitologi Jawa yang tidak lepas dari mistis dan klenik,” ujar Guntur yang mengaku baru kali ini menyutradarai film bergenre horor.

Untuk mewujudkan cerita tersebut menjadi film, direkrutlah Alim Sudio sebagai penulis skenario.

Sosok yang satu ini sudah sering diajak menggarap naskah film bergenre horor. Filmografinya terbentang mulai dari Paku Kuntilanak (2009), Hantu Tanah Kusir (2010), Rasuk (2018), hingga Kuntilanak 2 (2019) yang meraih lebih dari 1,7 juta penonton.

Bertiga mereka berkolaborasi mempersiapkan produksi film. Lokasi syuting berlangsung di lereng antara Gunungan Sumbing dan Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah, tempat mitos lampor masih dipercaya oleh warga sekitar.

Dengan tambahan pemain seperti Adinia Wirasti, Dion Wiyoko, Mathias Muchus, Nova Eliza, Rendra Bagus Pamungkas, Landung Simatupang, Annisa Hertami, Dian Sidik, Unique Priscilla, dan Steffi Zamora, film Lampor: Keranda Terbang menjadi bukan sekadar horor biasa.

Film yang direncanakan tayang mulai 31 Oktober 2019 ini memiliki sturuktur drama yang kuat, terutama tertanam dalam setiap karakter dari tokoh-tokohnya, sehingga menjadikannya tidak melulu berisi adegan horor yang meneror.

“Bagi saya, kekuatan film horor bukan hanya menakut-nakuti. Tapi lebih dari itu, kekuatan struktur cerita, dramaturgi, dan penokohan karakter adalah hal yang fundamental,” pungkas Guntur.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR