FESTIVAL MUSIK

The Used mengajak nostalgia penonton Hodgepodge Superfest 2019

Bert McCracken, vokalis The Used, dengan kheffiyeh yang menjuntai di tiang mikrofonnya
Bert McCracken, vokalis The Used, dengan kheffiyeh yang menjuntai di tiang mikrofonnya | Indra Rosalia/Beritagar.id

Lebih dari satu dekade kelompok musik The Used absen manggung di tanah air. Akhirnya mereka kembali lagi sebagai salah satu pengisi Hodgepodge Superfest di Ecopark Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (31/9/2019) malam. Menjadi penutup yang klimaks.

Mengenakan pakaian serba hitam, vokalis Bert McCracken muncul di tengah panggung utama Super Music ID.

Kedudukan tubuh personel The Used di atas panggung seperti ini; Dan Whitesides (drummer) berada di tengah belakang, Jeph Howard (bassis) menempati sayap kanan, dan personel yang baru setahun bergabung dalam tubuh band, Joey Bradford (gitaris), anteng di sayap kiri.

Tanpa ba-bi-bu kuartet ini langsung membawakan “Take it Away”. Lagu dari album In Love and Death (rilis 2004) yang kerap mereka jadikan menu pembuka dalam berbagai penampilan di atas panggung.

Terbukti lagu tersebut ampuh menghangatkan suasana. Ribuan penonton yang sejak tadi menantikan penampilan mereka meloncat, menggoyangkan kepala mengikuti entakan lagu (headbanging), dan tentu saja bernyanyi bersama.

Selanjutnya kelompok yang terbentuk sejak 2001 itu membawakan “The Bird and the Worm”. Sambil mengatur napas, McCracken mengambil jeda dengan menyapa para penonton.

“Coba angkat tangan siapa di antara kalian malam ini yang juga menyaksikan konser pertama kami di Jakarta?” kata McCracken dari atas panggung sebelum melantunkan “Listening”. Beberapa orang mengangkat tinggi tangannya agar tampak oleh vokalis berumur 37 tahun itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar penonton tampak lebih menantikan lagu-lagu lama dari band asal Utah, Amerika Serikat, yang telah merilis delapan album studio itu.

Kesan nostalgia langsung terpancar. Gelombang sing a long langsung terdengar saat band ini membawakan lagu-lagu, semisal “The Taste of Ink”, “Blue and Yellow”, atau “Buried Myself Alive” yang diambil dari album perdana band yang rilis 2002.

Ketika Beritagar.id mendapat kesempatan mewawancarai band ini satu jam sebelum tampil, McCracken telah menggaransi bahwa repertoar mereka terdiri dari gabungan lagu-lagu lama dan baru. “Kami juga akan membuat kalian bersenang-senang malam ini,” tambah McCracken.

Pada kesempatan malam itu, band ini juga merayakan satu dekade perilisan album Artwork dengan membawakan lagu “Blood on My Hands”. Sebelum itu, McCracken menjelaskan kepada penonton apa makna ia sedari awal tampil menggantungkan sehelai kheffiyeh di tiang mikrofonnya.

“Saya mendukung kemerdekaan Palestina. Bebaskan Gaza. Saya tidak takut menyuarakan ini,” teriak McCracken lantang. Aspirasi politik tersebut sudah didengungkannya di atas panggung sejak 2015.

Janji untuk tampil menyenangkan dan membuat para penonton merasakan yang serupa ternyata bukan pepesan kosong.

McCracken dan kawan-kawan sangat komunikatif, termasuk ketika memberi aba-aba untuk membentuk circle pit, mengolok-olok mereka yang masih menyebut The Used sebagai pengusung subgenre emo, dan membawakan “Wonderwall” milik Oasis lalu berujar, “Saya membenci Oasis. Sangat. Ha-ha-ha. Tentu saja saya hanya bergurau.”

The Used menutup penampilan mereka malam itu dengan lagu "Box Full of Sharp Objects" yang lagi-lagi berasal dari album perdana mereka.

Masih ada kesempatan untuk menjadi saksi keseruan Hodgepodge Superfest yang telah menginjak tahun kedua penyelenggaraannya ini.

Sebab deretan musisi dalam dan luar negeri masih akan tampil, Minggu (1/9), untuk memanaskan empat panggung yang telah disediakan.

Mereka antara lain Barasuara, Maliq & D’Essentials, Danilla, Marcello Tahitoe, Jevin Julian x Petra Sihombing, Betty Who, State Champs, dan supergrup Prophets of Rage sebagai pamungkas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR