FILM INDONESIA

Tiga film Indonesia di BUSAN International Film Festival 2019

Oka Antara dalam film Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town)
Oka Antara dalam film Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town) | Rekata Studio

Penyelenggaraan BUSAN International Film Festival (BIFF) ke-24 yang berlangsung pada 3-12 Oktober 2019 menghadirkan tiga film Indonesia, yaitu The Science of Fictions (Hiruk-pikuk Si Al-Kisah), Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town), dan Aladin.

Judul film yang tertuliskan terakhir dirilis pada 1953 oleh rumah produksi Golden Arrow, sebuah perusahaan film yang didirikan oleh Wu Chun.

Untuk membintangi Aladin, sutradara oleh Tan Sing Hwat alias Tandu Honggonegoro merekrut A. Hamid Arif, Gretiani Hamzah, Lottyani, Udjang, dan Wahid Chan sebagai pemain.

Termaktub dalam laman web umilestari.com, pengerjaan restorasi film berdurasi 88 menit tersebut dilakukan Lisabona Rahman bersama dua rekannya.

Mereka melakukan akuisisi digital, pemindaian, membersihkan, dan akhirnya merestorasi salinan film tersebut. Hasilnya itu yang kemudian akan tayang di BIFF bersama empat film klasik lainnya dalam program “Busan Classics”.

Film kedua yang meramaikan BIFF adalah The Science of Fictions (Hiruk-pikuk Si Al-Kisah) karya Yosep Anggi Noen.

Sebelumnya film ini tayang perdana dan memenangkan Special Mention Award di Locarno International Film Festival (7-17/8/2019).

The Science of Fictions yang melibatkan aktor Gunawan Maryanto, Yudi Ahmad Tajudin, Lukman Sardi, Ecky Lamoh, Alex Suhendra, Marissa Anita, Rusini, dan Asmara Abigail mengisi program “A Window on Asian Cinema”.

Beberapa film Indonesia yang masuk program serupa pada penyelenggaraan BIFF tahun lalu adalah 27 Steps of May, Kucumbu Tubuh Indahku, dan The Man From the Sea (produksi bareng Jepang serta Prancis).

Dalam siaran pers yang diterima Beritagar.id (7/9), disebutkan bahwa tujuan program ini sebagai etalase menunjukkan karya-karya pembuat film berbakat yang dianggap sebagai tren terbaru di Asia. Sebuah jendela untuk melihat perkembangan sinema Asia hari ini.

Kabar gembira terakhir dari ajang ini adalah partisipasi film pendek Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town).

Diarahkan oleh Wregas Bhanuteja (26), film Tak Ada yang Gila di Kota Ini yang berdurasi 20 menit adalah ekranisasi dari cerita pendek karya Eka Kurniawan.

Cerpen itu termuat dalam buku Cinta Tak Ada Mati yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2018.

Berkisah saat masa liburan telah tiba. Bos salah satu hotel besar dan berpengaruh di kota memerintahkan Marwan (diperankan Oka Antara) dan teman-temannya untuk mengangkuti semua Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang masih berkeliaran di jalan-jalan raya dan dibuang ke hutan.

Sang Bos tidak ingin kehadiran mereka mengganggu para turis dan merusak wajah kota. Marwan ternyata punya rencana rahasia alih-alih membiarkan ODGJ ini tewas dalam hutan.

“Pertimbangan pertama mengapa memilih cerpen ini adalah emosi. Saat membacanya, saya merasakan emosi kemarahan yang sama terhadap suatu hal, yakni kuasa. Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa, bahkan kuasa akan dirinya,” kata Wregas.

Film yang diproduksi Rekata Studio bersama Studio Batu, Labide Films, serta Aftertake Post Production tersebut akan berkompetisi dalam program “Wide Angle: Asian Short Film Competition bersama sembilan film pendek lainnya.

“Harapan saya seturut kehadiran film ini bisa membuat lebih banyak lagi adaptasi film dari cerpen atau novel karya penulis Indonesia dengan genre yang beragam,” pungkas Adi Ekatama selaku produser dari Rekata Studio.

Trailer - Tak Ada yang Gila di Kota Ini (No One is Crazy in This Town) /Rekata Studio
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR